Tiga Impian Khofifah Jadikan Kemensos Center of Excelence

Tiga Impian Khofifah Jadikan Kemensos Center of Excelence

*SIARAN PERS*

 

Tiga Impian Khofifah Jadikan Kemensos Center of Excelence

 

SHNet, Jakarta – Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan impian dan obsesinya terhadap Kementerian Sosial yakni agar kelak memiliki Center of Excelence dalam tiga layanan utama yakni Pusat Unggulan Penanganan Fakir Miskin; Pusat Penelitian, Pengembangan dan Pelayanan Terpadu Anak; dan Pusat Pelayanan dan Pusat Unggulan Layanan Dukungan Psikososial.

“Ini adalah impian besar kami agar Kementerian Sosial dapat terus menjadi bagian dari solusi permasalahan bangsa,” katanya saat menyampaikan pidato arahan pada Pembukaan Badiklit Pensos Expose di Gedung Aneka Bhakti (GAB), Kementerian Sosial RI, Jakarta, Rabu (6/12).

Ia mengatakan, Pusat Penelitian, Pengembangan dan Layanan Anak Terpadu (PPPAT) merupakan upaya untuk merespon tingginya kekerasan terhadap anak, anak terlantar, anak jalanan, anak korban perdagangan orang dan sebagainya.

“PPPAT nantinya berlokasi di Yogyakarta. Pendirian balai ini mentransformasikan Pusat Penelitian Pengembangan dan Pelayanan dan Kesejahteraan Sosial Yogyakarta menjadi Pusat Penelitian, Pengembangan dan Pelayanan Anak Terpadu yang memberikan layanan secara holistik dan terintegrasi,” papar Khofifah.

Penelitian ini, lanjut Mensos, bersifat longitudinal. Ia menyontohkan saat anak datang untuk pertama kali akan dilakukan prakondisi anak. Kemudian dari hasil prakondisi dilakukan pengembangan diri anak dengan memberikan berbagai keterampilan, _vocational training_ hingga olahraga sesuai kapasitas anak.

“Di PPPAT ini juga diberikan layanan psikososial anak. Kondisi setiap anak akan terus dipantau hingga yang bersangkutan sembuh atau semakin menunjukkan perkembangan yang baik. Itu semua dilakukan secara terpadu,” tuturnya.

 

Impian kedua, mendirikan Pusat Layanan Dukungan Psikososial. Menurutnya,
Kehadiran Tim LDP sesaat setelah terjadinya bencana sangat penting mengingat kondisi Indonesia yang rawan bencana. Mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat 323 kabupaten dan kota di Indonesia yang rawan bencana.

“Bencana juga berpotensi membuat korban bencana berpotensi menjadi miskin. Ini akan menimbulkan dampak psikologis mendalam bila tidak ditangani secara tepat. Pada masa inilah layanan dukungan psikososial amat diperlukan. Untuk mencegah trauma akibat bencana juga diperukan terapi,” kata Khofifah.

Mensos mengatakan perubahan psikologis dan kondisi lingkungan sesaat terjadinya bencana harus diantisipasi. Di pengungsian mereka tiba-tiba harus tinggal bersama banyak orang, berada dalam suasana duka, ditambah keterbatasan sanitasi, makan harus antre, semuanya memerlukan adaptasi.

“Di sinilah proses membangun keteguhan dan kekuatan psikologis sangat diperlukan. Kemsos memberikan Layanan Dukungan Psikososial diberikan sejak masa tanggap darurat hingga pascatanggap darurat,” tegas Khofifah.

Impian selanjutnya adalah mendirikan Pusat Unggulan Penanganan Fakir Miskin sebagai
pusat kajian dan laboratorium penanganan fakir miskin yang dilengkapi dengan peta dan data kemiskinan, kesuksesan penanganan, model intervensi yang efektif, sehingga bisa digunakan tempat pembelajaran penanganan fakir miskin baik dari dalam maupun luar negeri.

Di Pusat Unggulan PFM ini juga memberikan program magang dan atau studi ekskursi kepada pemda dan lembaga baik di dalam dan luar negeri tentang percepatan pengentasan kemiskinan.

“Intinya Pusat unggulan PFM ini akan menjadi rujukan berbagai pihak. Misalnya CSR Forum, lembaga pemerintah dan swasta, maupun akademisi. Mulai dari anak-anak hingga dewasa bisa belajar di sini. Meskipun saat ini Kemensos belum memiliki pusat unggulan penanganan fakir miskin, tetapi sudah ada sejumlah negara berkembang yang mengirim perwakilannya untuk belajar dari Kemsos dalam pengentasan kemiskinan hususnya bansos non tunai baik PKH maupun BPNT. Sehingga kehadiran lembaga ini dirasa cukup mendesak,” paparnya.

Dikatakan Khofifah inspirasi layanan ini merupakan impiannya sejak 19 tahun lalu. Tepatnya saat ia berkunjung ke China pada tahun 1998 dan 2001 untuk meninjau Layanan anak jalanan dan anak terlantar di lembaga Research Children Center dan Pusat Pengentasan Kemiskinan (Taskin) di Beijing.

“Saya berkeliling ke perkampungan di China. Melihat bagaimana negara ini punya pusat pelayanan terpadu untuk pengentasan kemiskinan berbasis desa dan tersambung dengan perbankan yang saat itu bunganya 0 sampai 10 persen. Mereka juga mengembangkan berbagai inovasi layanan terpadu _one stop shopping_, masyarakat bisa beli bibit, benih, traktor, pupuk di satu tempat dimana mereka dilatih” katanya.

Iapun meyakini, Pusat Unggulan Penanganan Fakir Miskin akan kuat jika skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) yang kini tengah dirintis telah rampung.

“Kekuatan unggulan Pusat Unggulan Penanganan Fakir Miskin ini terutama pada transformasi rastra ke bansos pangan. Transformasi tunai ke non tunai dengan sistem e-wallet. Upaya menjaga validitas data, update data, menjaga ketepatan sasaran, ketepatan waktu dan ketepatan kualitas sehingga upaya penanganan fakir miskin lebih terasa dampaknya,” terang Mensos.

Oleh karenanya, Mensos berharap Badiklit dapat menjadi tumpuan berbagai perubahan yang dilakukan Kemensos. Badiklit menjadi frontliner berbagai perubahan dan inovasi-inovasi layanan Kemsos. (Stevani Elisabeth/foto dok. Humas Kemensos)