Teroris Bebaskan 7 Anak Indonesia

Drama Hari Ketiga Di KJRI Amsterdam

Teroris Bebaskan 7 Anak Indonesia

Dubes Sutopo Yuwono Desak Siasat Penumpasan Yang Tegas

Jakarta, 6 Desember 1975 – Petualangan teror oleh sejumlah gerombolan bersenjata “RMS” yang menduduki gedung Konsulat Jenderal RI Amsterdam pad Sabtu ini memasuki hari ketiga, sementara pemerintah Belanda sendiri ternyata tidak berdaya mengambil tindakan drastis untuk menyelesaikan dengan cepat.

Dubes RI untuk negeri Belanda Sutopo Yuwono Kamis petang kepada pemerintah Belanda bahwa KBRI menolak tawar-menawar dengan para gerombolan teroris “RMS” itu selama masih ada satu anak sekolah Indonesia ditahan sebagai sandera.

Walaupun pihak KJRI tidak hendak mengungkapkan satupun keterangan mengenai apa yang telah disampaikan Dubes Sutopo Yuwono kepada pemerintah Belanda, namun diduga Dubes yang Letjen TNI itu menghendaki suatu siasat penumpasan yang lebih tegas dari sejauh yang sejauh ini terlihat dari pihak Belanda.

7 anak dibebaskan
Perkembangan yang sedikit melegakan terjadi pada Kamis petang ketika gerombolan membebakan 4 anak cilik Indonesiayang terdapat diantara sandera sebagai hasil tawar-menawar antara mereka dengan polisi.

Hari Jum’at teroris itu membebaskan lagi tiga orang anak sebagai ganti jasa pendeta Metiarri yang masuk gedung KJRI itu sebagai perantara mereka dengan pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda sebelumnya menolak permintaan ini dengan mengatakan bahwa mereka hanya akan meluluskan pendeta Metiarri memasuki gedung konsulat, setelah semua anak, diduga kini berjumlah 11 orang, diantara para sandera dibebaskan.

Pendeta Metiarri dan anak menantunya Z Pessereron asal Maluku kemungkinan akan menjadi perantara gerombolan teroris “RMS” itu dengan pihak Kepolisian Belanda.

Menurut keterangan pihak polisi 5 anak berusia 7 dan 6 tahun telah diloloskan hari Kamis namun KBRI Den Haag hanya menyebutkan 4 orang. Nama keempat orang itu yang didapat dari KBRI Den Haag adalah Sinta Monter, Vivi Otong Koswara dan Sinta, ketiganya gadis cilik dan seorang anak laki-laki bernama Otang Hasan Tisnabrata.

Jumlah sandera
Berdasarkan keterangan yang makim lengkap dari pihak polisi Belanda maupun pihak Belanda maupun pihak KBRI Den Haag, jumlah sandera melebihi angka 25 orang dan diperkirakan 30 orang terperangkap dalam gedung itu ketika penyerbuan gerombolan “RMS” terjadi.

Saat ini diduga bahwa sekurang-kurangnya 15 orang dewasa dan sejumlah 11 anak sekolah Indonesia sedang dibebaskannya 4 anak cilik Kamis petang dan tiga anak lagi hari Jum’at. Belum lagi diperhitungkan kemungkinan ada lagi sejumlah orang luar yang ketika penyerbuan terjadi kebetulan sedang berkunjung ke dalam gedung. Sejumlah orang Belanda diketahui terdapat juga diantara para sandera.

Juga mengenai jumlah gerombolan bersenjata yang menurut sumber KBRI sebelumnya hanya 3 orang kini diperkirakan mungkin terdiri dari 6 orang atau sekurang-kurangnya 5 orang.
Permintaan dua orang sebagai perantara sudah diajukan oleh pihak gerombolan pada hari Kamis petang, namun sebegitu jauh ditolak untuk membebaskan semua anak sekolah Indonesia yang dijadikan sandera.

Pihak KBRI di Den Haag ketika dihubungi wartawan “Antara” Ch. Pakasi, mengenai kemungkinan perantaraan ini menyatakan bahwa sampai saat ini (Jum’at malam) masih terdapat setidaknya 11 anak sekolah diantara para sandera.

Jubir KBRI Den Haag Drs. Moh. Hatta mengatakan, bahwa KBRI sangat keberatan diadakannya hubungan dengan gerombolan selama masih ada anak sekolah Indonesia diantara para sandera.

Teroris lakukan intimidasi
Sementara itu pada Jum’at pagi hari waktu setempat, sekitar jam 11:00, para teroris “RMS” melakukan intimidasi keluar sekaligus dianggap suatu ultimatum.

Seorang sandera bangsa Indonesia yang tidak dikenal yang matanya ditutup dengan saputangan dan dikalungi kabel yang menjerat lehernya dipaksa keluar di ambang jendela seakan-akan gerombolan itu hendak menyatakan bahwa setiap saat mereka dapat menggantung mati orang tersebut dari atas balkon.

Dari keterangan polisi “Antara” Den Haag mengatakan, bahwa polisi di sekitar gedung Konsulat Jenderal RI di Amsterdam yang diduduki gerombolan teroris segera mengadakan hubungan telepon dengan gerombolan agar mereka jangan bertindak terlampau gegabah selama usaha penyelesaian melalui pembicaraan masih berjalan. Sesudah setengah jam sandera orang Indonesia itu dalam keadaan terikat diseret masuk ke dalam gedung.

Seseorang tawarkan diri jadi penyelamat
Suatu peristiwa lain hari Jum’at terjadi ketika seorang yang tidak dikenal menerobos penjagaan dengan mikrobis VW untuk maju ke dekat gedung Konsulat Jenderal RI itu, tetapi polisi berhasil menahannya. Polisi Belanda mengumumkan bahwa orang yang berusia 35 tahun itu mau menyelamatkan para sandera anak-anak.

Orang Amsterdam itu mengatakan kepada polisi, bahwa ia bersedia melakukan perbuatan nekat untuk membabaskan anak sekolah Indonesia yang tak berdosa yang dijadikan sandera oleh gerombolan teror “RMS” di dalam gedung Konjen. Orang Belanda tersebut kemudian oleh polisi dikirim ke rumah sakit diperiksa kesehatan jiwanya.

Belanda berhati-hati
Pemerintah Belanda nampaknya menempuh kebijaksanaan untuk sangat berhati-hati dan pada tahap sekarang tidak hendak mengambil aksi kekerasan terhadap gerombolan bersenjata itu karena mengingat jiwa para sandera, terutama sekali karena mengingat nasib para anak sekolah Indonesia yang disanderakan dan yang jumlahnya diduga masih sekitar 11 atau 12 orang, hampir semuanya putera-puteri pada pajabat yang masih di tingkat Sekolah Dasar.

KBRI Den Haag mengumumkan bahwa tidak ada tenaga home staf Konsulat Jenderal RI di Amsterdam menajdi sandera dan bahwa ketiga pejabat home staf yang tadinya diduga menjadi sandera, ternyata sedang menjalankan tugas di luar kantor, kemungkinan sedang bepergian makan siang karena waktu itu sedang waktu istirahat.

Ketiga orang yang tadinya disebut mungkin dijadikan sandera adalah Konsul Mochtar Aip, Konsul Djokomarseno dan Konsul Muda Mohammad Syafei.

Jumlah orang yang sekian jauh berhasil meloloskan diri dari gedung KJRI adalah 4 orang, ialah selain dua orang konsul yang diberitakan semula, juga dua tenaga lokal Indonesia yang kini dalam keadaan luka-luka sedang dirawat di rumah sakit Amsterdam, seorang diantaranya terkena peluru dibagian dada dan seorang lagi tertembak dibagian paha.

Kedua konsul muda yang disebut luka-luka sebelumnya adalah Konsul Muda Hasan Wirasastra dan Konsul Muda Hasan Tisnabrata.

Pengawalan ketat
Satuan polisi Belanda telah menempatkan pula sekolah Indonesia di Wassenaar yang jumlahnya siswanya kira-kira 150 orang dibawah pengawalan ketat untuk menjaga setiap kemungkinan teror baru dari gerombolan “RMS”.

Para tenaga home staf dari KBRI Den Haag maupun dari KJRI di Amsterdam segera terjadinya peristiwa pada Kamis siang telah dikonsyinyir seluruhnya di Kedutaan Besar Indonesia Den Haag pada larut Kamis malam dibolehkan kembali ke keluarga masing-masing.

Polisi Belanda mengakui pada Kamis sore bahwa tidak terdapat sesuatu penjagaan di sekitar gedung KJRI pada saat penyerbuan bersenjata oleh gerombolan “RMS” terjadi.
Semantara itu polisi Belanda mengumumkan bahwa segala pemusatan RMS yang diketahui di negeri Belanda telah ditempatkan di bawah pengamanan ketat.

Selain korps polisi militer juag seluruh marinir Belanda telah ditempatkan dalam keadaan siaga guna menghadapi kemungkinan darurat seterusnya.

Cela
Koran Belanda pada hari Jum’at pagi memberitahukan peristiwa di Amsterdam secara menyolok di halaman depan dan masing-masing telah mencela perbuatan teror RMS itu.

Mengenai peristiwa pembajakan kereta api oleh gerombolan bersenjata RMS di kota kecil Beilen, 150 Km timur laut Amsterdam, pers Belanda menyiarkan Kamis malam tuntutan para pembajak yang pokoknya menuntut pengakuan segera apa yang mereka sebut “Republik Maluku Selatan” oleh Belanda dan pembebasan segera sejumlah beberapa puluh pengikut RMS yang sedang berada dalam penjara Belanda karena perbuatan melanggar hukum.

Sudah jelas bahwa dari pengumuman tersebut telah menjadi jelas sekarang bahwa aksi teror baik yang dilakukan oleh para pembajak kereta api di dusun Beilen maupun peristiwa pendudukan oleh gerombolan bersenjata RMS terhadap gedung KJRI di Amsterdam telah dilakukan organisasi radikal yang sama yaitu Angkatan Muda Maluku Bebas yang dikenal sangat ekstrim/radikal.

Larut malam hari Jum’at polisi mengatakan bahwa mereka telah sepakat dengan teroris untuk menghentikan perundingan pada waktu malam hari dan pejabat habis harapan untuk dapat mengeluarkan semua anak-anak dari gedung itu sebelum pagi tiba.

Radio Belanda menyiarkan sebuah wawancara melalui telepon yang diperolehnya dengan seorang Maluku yang tidak diidentifisir di Konsulat namun teroris tersebut menolak untuk melukiskan keadaan di tingkat paling atas dari gedung tersebut sementara penyerbuan atas Konjen RI itu memasuki hari ketiganya. (SH/Ant/AP)