Serangga Ini Membuat Strategi Kamuflase yang Membantu Pengembangan Perangkat Selubung

Serangga Ini Membuat Strategi Kamuflase yang Membantu Pengembangan Perangkat Selubung

Charlesjsharp/Wikimedia Commons

SHNet, Pennsylvania – Pengembangan perangkat selubung yang berlomba mengedepankan teknologi siluman atau teknologi rendah pengamatan (low observable technology) yang telah ada saat ini tampaknya akan memiliki pesaing baru dari sejenis serangga wereng. Sebuah tim peneliti di Penn State University telah menemukan bahwa keringat dari makhluk kecil ini memiliki beberapa sifat optik yang aneh.

Mikropartikel yang dikeringkan oleh serangga daun tersebut bisa memberi para ilmuwan dan insinyur jawaban bagaimana memproduksi perangkat selubung canggih, setidaknya itulah yang dipercaya oleh tim insinyur di Penn State University.

Mikropartikel yang disebut brochosome itu disekresikan oleh si serangga agar sayapnya tetap kering dalam kondisi basah. Brochosome bersifat hydrophobic dan itulah cara menjaga sayapnya tetap lembut kering karena sifatnya yang menolak air.

Selain itu ternyata partikel ini juga memiliki efek samping yang berguna untuk membuat kamuflase bagi makhluk kecil tersebut dari predator.

Tim peneliti menemukan bahwa brochosome yang disekresikan tampaknya mengubah panjang gelombang cahaya sehingga cukup untuk dapat berfungsi sebagai perangkat selubung biologis.

Para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa serangga wereng mengeluarkan mikropartikel ini dan menyekanya di sayap mereka. Tapi yang sebelumnya tidak dipahami adalah bahwa sekresi (proses untuk membuat dan melepaskan substansi kimiawi dalam bentuk lendir) tersebut memungkinkan wereng dan telur-telur serangga ini berbaur dengan latar belakang mereka. Hal ini membuat wereng dewasa dan telur-telurnya praktis tidak terlihat oleh predator mereka, seperti kumbang ladybird.

Rahasia mikropartikel nampaknya merupakan struktur fisik mereka. Model struktur brochosome tampak seperti bola sepak bola, dan masing-masing butiran yang berukuran mikro terselimuti dalam lekukan berukuran nano. Lekukan-lekukan inilah dengan ukurannya menjadi cara tepat untuk menyerap cahaya, setidaknya dalam kisaran spektrum tertentu.

Dari situlah para peneliti di tim tersebut akan berusaha menciptakan tiruan struktur partikel itu.

“Kami tahu bahwa partikel sintetis kami mungkin menarik secara optik karena strukturnya,”jelas Tak-Sing Wong dari Penn State dalam sebuah pernyataan. Wong merupakan asisten profesor teknik mesin Wormely Family Early Career Professor di bidang Teknik di Penn State.

“Kami tidak tahu, sampai saya menyandang gelar postdoctoral dan penulis utama penelitian, Shikuan Yang, mengangkatnya dalam sebuah pertemuan kelompok, bahwa wereng membuat pelapis ini tidak lengket dengan struktur alami yang sangat mirip dengan pohon sintetis kami. Itu membawa kami untuk bertanya-tanya bagaimana wereng ini menggunakan partikel-partikel ini di alam,” kata Wong.

brochosom / Penn State University

Lubang-lubang partikel ditemukan sangat dekat dengan panjang gelombang cahaya. Lubang-lubang ini memungkinkan partikel menyerap cahaya dan membiarkan serangga menjadi tidak terlihat. Partikel-partikel tersebut secara efektif bertindak seperti metamaterial (struktur buatan), jenis bahan yang digunakan pada perangkat selubung.

Masalahnya, di lapangan, serangga wereng ini menghasilkan sangat sedikit produk partikelnya, dan sangat sulit untuk dikumpulkan,”jelas Wong. “Tapi kami telah menghasilkan sejumlah besar struktur ini di lab, cukup untuk dimasukkan ke dalam mesin untuk melihat sifat optiknya,”tambahnya. (HNP)