Pemuda Ancam Ambil Alih Gedung Kedubes Belanda

KNPI Desak Pembubaran Organisasi “RMS”

Pemuda Ancam Ambil Alih Gedung Kedubes Belanda

Bila Teror Di KJRI Amsterdam Tidak Segera Diatasi

Jakarta, 9 Desember 1975 – Menteri Luar Negeri Adam Malik sepakat dengan tuntatan pemuda Indonesia supaya pemerintah Belanda segera membubarkan “RMS” yang disebutnya sebagai gerombolan teroris, anarkis dan digambarkannya “seperti memelihara anjing hutan”, ketika Selasa pagi ia menerima 120 demonstran yang digerakkan oleh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) di Deplu, Pajambon.

Delegasi besar KNPI yang dipimpin oleh Freddy Latumahina dan Aulia Rachman itu mendesak kepada pemerintah RI untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda apabila dalam waktu singkat Belanda tidak menyelesaikan peristiwa di KJRI Amsterdam dan tidak dapat membubarkan gerombolan “RMS” yang bersarang di Nederland.

KNPI dalam pernyataannya juga mengajukan kesediaan mereka untuk menggantikan sandera Indonesia yang sampai kini masih disekap di gedung KJRI Amsterdam. Pemuda itu juga mendesak supaya pemerintah RI memberikan batas waktu pada Belanda untuk menyelesaikan persoalan itu.

Menlu Malik selanjutnya mengatakan rasa terima kasih atas semangat yang telah dilimpahkan para pemuda itu. Namun ia berpendapat “janganlah kita terlalu memikirkan persoalan praktisnya” tetapi mementingkan cara menyelamatkan para sandera.

Ketika ditanya mengenai tuntutan KNPI untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda, Malik mengatakan alangkah sedihnya persoalan yang kecil ini harus menimbulkan konsekwensi yang besar. Ada baiknya mereka ini dikirim kembali ke Ambon agar kita mencuci otak mereka, kata Menlu.

Aulia Rachman atas nama KNPI juga mengatakan bahwa pihaknya siap membangun Timor Timur yang diterima dengan ucapan salut dari Menlu. Menurut Malik persoalan Timor adalah aspirasi dari rakyat Timor Timur sendiri. Dunia harus tahu bahwa rakyat Timor yang ingin menggabung dengan Indonesia.

Reaksi dunia ini kita anggap sepi saja seperti “anjing menggonggong kafilah berlalu”. Akhirnya Adam Malik mengharapkan agar pemuda Indonesia dapat pula membangun Timor Timur dalam bidang pendidikan dengan semangat yang tinggi. Rombongan demonstran ini terdiri dari kira-kira 120 orang dan berlangsung tertib di ruangan Krida Loka Deplu, sebelumnya mereka telah mendatangi gedung Kedubes Belanda.

Di Kedubes Belanda
Tarik menarik yang tegang pada pintu pagar besi gedung Kedutaan Besar Belanda terjadi Selasa pagi antara petugas keamanan di sebelah dalam halaman dan kurang lebih 120 demonstran Komite Nasional Pemuda Indonesia yang berada di luar yang menuntut bertemu dengan Duta Besar Belanda Jalink untuk menyampaikan protes atas diduduki Konsulat Indonesia di Amsterdam oleh oknum RMS.

“Tidak akan dirusak, tidak akan dirusak”, teriak pemuda di luar pagar. Setelah tarik menarik beberapa menit, pintu dibuka dan demonstran masuk. Tapi yang diperkenankan bertemu dengan Duta Besar hanya 7 orang saja dibawah pimpinan Freddy latumahina, Ketua Biro Organisasi KNPI.

Mereka diterima di ruang atas oleh Dubes Jalink yang dengan senyum serius dalam bahasa Indonesia mengucapkan “Selamat datang, maaf saya tidak berbicara Indonesia”.
Untuk selanjutnya Dubes Jalink berbicara Belanda yang diterjemahkan oleh seorang juru bicara. Dubes didampingi oleh Atase Militer Kol. J. Linzel dan sekretaris I Bagian Politik, Veling.

Sulit
Dubes Jalink menyadari bahwa teror RMS di Konsulat Indonesia, Amsterdam adalah tanggung jawab penuh dari pemerintah Belanda. Dikatakan bahwa pemerintah Belanda sendiri dalam keadaan sulit, namun demikian pemerintahnya tidak akan memberikan konsesi politik apapun kepada oknum RMS tersebut.
Pembicaraan berlangsung dalam suasana cukup tegang, satu dua kali pemimpin delegasi demonstran menyampaikan pendapatnya. Petugas dan pegawai Keduataan bolak-balik masuk keluar ruangan.

Dubes Jalink selanjutnya menyatakan bahwa pemerintah Belanda sudah membentuk komisi khusus terdiri dari beberapa menteri untuk menangani kasus RMS. Komisi bertugas untuk mengusahakan cara untuk membebaskan dengan sesingkat mungkin para sandera tanpa cidera.

Hal ini dikatakan Jalink atas desakan delegasi KNPI mengenai nasib para sandera itu. Jalink kemudian menyatakan bahwa pemerintahnya mengikuti taktik ulur waktu untuk mencegah jangan sampai terjadi resiko apa-apa, sambil mencari saat yang tepat.

RMS tidak ada
Dikatakan bahwa sebetulnya pemerintahnya ada maksud untuk mendemobilisasi bekas KNIL pada tahun 1950-1951, tapi bekas KNIL itu mengajukan tuntutan kepada pengadilan yang membenarkan mereka. Maka pemerintah terpaksa menerima mereka di negeri Belanda.

Pada 15 tahun yang terakhir pemerintah Belanda tidak pernah membantu secara politis RMS, demikian juga parlemen, kata Dubes Jalink. Ia selanjutnya menyatakan bahwa RMS secara lembaga tidak ada di Nederland.

Pembicaraan antara delegasi demonstran dan Dubes Jalink berlangsung dari jam 09:20 sampai 09:50 dibawah sorak dan teriak yang ramai dari lebih 100 demonstran lain yang menunggu di luar halaman.

Berapa hari
Selesai pembicaraan delegasi yang terdiri atas 7 orang pemuda KNPI dibawah pimpinan Freddy Latumahina menjelaskan kepada khalayak di luar bahwa bila tidak ada kejelasan pemerintah Belanda terhadap teror RMS dalam waktu yang singkat maka pemuda akan mengambil alilh gedung Kedutaan Besar Belanda di Kebon Sirih.

Atas teriakan pemuda-pemuda lain “Berapa singkat, berapa hari ?” Freddy menjawab : “Sesingkat-singkatnya, tanpa menjelaskan berapa hari”.

Akhirnya dia menjelaskan pimpinan KNPI bersedia menggantikan sandera yang saat ini ditahan oleh oknum RMS di Amsterdam. Selain itu KNPI mendesak kepada pemerintah RI untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda apabila dalam waktu singkat Belanda tidak menyelesaikan peristiwa tersebut dan tidak dapat membubarkan gerombolan RMS yang bersarang di Nederland.

Delegasi 9 DM
Setelah delegasi KNPI meninggalkan gedung Kedubes Belanda dan menuju ke Deplu Pejambon, lebih kurang pukul 12:00 siang datang sembilan orang mahasiswa mewakili 9 dewan mahasiswa di Jakarta.

Kesembilan DM itu datang ke Kedubes Belanda untuk menyampaikan tuntutan serupa seperti yang dianjukan oleh KNPI. Namun oleh petugas keamanan yang menjaga gedung Kedubes, para mahasiswa itu ditolak masuk dan dipersilahkan pergi karena menurut petugas para mahasiswa itu tidak membawa ijin Laksus Kopkamtibda Jaya untuk gerakan tu. Sekalipun menurut keterangan Dubes Jalink sebenarnya delegasi sembilan DM tersebut.

Sembilan dewan mahasiswa itu adalah dari UKI, Trisakti, Atmajaya, Jayabaya, Unkris, IAIN, Untag, Pancasila dan Universitas Khatolik. Mereka semua diantar para petugas ke Laksus Kopkamtibda Jaya. (SH)