Orang-Orang “RMS” Rapat Di Kota Moodrecht

Berita Terakhir Dari Den Haag

Orang-Orang “RMS” Rapat Di Kota Moodrecht

Den Haag, 11 Desember 1975 – Gembong jagoan apa yang dinamakan “Republik Maluku Selatan” sejak hari Rabu berkumpul di Moordrecht, kira-kira 20 Km sebelah Tenggara Den Haag, sebuah kota kecil yang terletak dalam segitiga Amsterdam – Den Haag – Ultrecht, demikian sumber yang mengetahui mengatakan kepada “SH” Rabu malam.

Menurut sumber di Den haag tersebut pertemuan di Moodrecht itu erat hubungannya dengan pembajakan kereta api di Beilen dan penyerbuan konsulat Indonesia di Amsterdam Minggu lalu. Dikatakan bahwa Moordrecht terkenal sebagai kubu “RMS” di negeri Belanda. Enam pemuda teroris RMS menyandera 31 orang dekat Beilen dalam kereta api yang mereka bajak hari Selasa Minggu lalu. Dalam gedung konsulat Indonesia di Amsterdam, 7 teroris RMS menawan 26 orang sandera.

Di Moordrecht, wakil dari masyarakat RMS dari berbagai daerah di negeri Belanda mengadakan pertemuan dan menyetujui sikap yang diambil oleh pemimpin mereka untuk bertindak lebih jauh menghadapi krisis yang tengah berlangsung.

Pertemuan itu tidak menyetujui cara teror tetapi mengatakan mendukung keinginan teroris untuk tujuan kemerdekaan bagi RMS. Pertemuan di Moordrecht diwakili oleh 90% dari 40.000 orang Maluku yang ada di negeri Belanda.
Sumber tersebut mengatakan tokoh RMS yang eksterim radikal, semuanya sudah diketahui oleh pemerintah Belanda, berjumlah sekitar 120 orang.

Sementara itu KBRI Den Haag mengatakan bahwa Eddy Abedy, pegawai lokal Konjen RI Amsterdam yang meninggal dunia, Selasa pagi, akan dimakamkan di pekuburan Stadion Plein (Lapangan Stadio) Amsterdam pukul 10:00 pagi waktu setempat (jam 16:00) hari Jum’at.

Abedy, yang terluka parah ketika meloloskan diri dengan jalan melompat keluar dari jendela pada tingkat kedua gedung konsulat RI meninggal dunia di rumah sakit Vrije Universiteit (VU) Amsterdam, demikian Kepala Bagian Penerangan KBRI Den Haag, Mohammad Hatta.

Berita terakhir yang diterima dari Amsterdam tidak memberikan petunjuk adanya perkembangan baru dalam drama penyanderaan 26 orang oleh teroris RMS di konsulat Indonesia.

Kedua orang tersebut sampai hari Rabu tetap dirawat di rumah sakit Vrije Universiteit karena luka-luka yang diperoleh pada waktu meloloskan diri dari sebuan teroris RMS hari Kamis yang lalu. Keduanya tidak boleh dikunjungi orang lain kecuali anggota keluarganya “namun kesehatan mereka tidak mengkhawatirkan”, kata Hatta.

Dikatakan selanjutnya bahwa selain Vera marton (seperti diberitakan kemarin) masih terdapat seorang pria Belanda lagi diantara sandera yang ditawan di dalam konsulat RI dan diketahui bernama Arthur van Donk.

Sekalipun saat ini keadaan tidak berubah, bukan berarti tidak ada usaha. Pemerintah Belanda dibantu oleh KBRI Den Haag terus mengadakan usaha untuk mencari jalan keluar yang baik, sumber “SH” di Den Haag mengatakan.

Seperti telah diberitakan sebelumnya, Selasa siang dua orang sandera telah dibebaskan masing-masing Saka Datuk (guru pada Sekolah Indonesia) dan J.P. Pardede (62 tahun) penasehat hukum pada KBRI Den Haag.

Pardede Saka Datuk dan sandera lain yang telah dibebaskan sebelumnnya masih dalam pemeriksaan dan perawatan dokter dan hanya dapat dijenguk oleh keluarga terdekat. Demikian pula halnya dengan dua pegawai Konjen RI lainnya, Hasan Wirasasatra (Kepala bagian Tata Usaha) dan Hasan Tisnadibrata, pegawai staf lokal.

Kontak
Satu-satunya kontak dalam waktu 24 jam terakhir antara teroris dan penguasa hanyalah yang menyangkut tuntutan harian teroris untuk mendapatkan bahan makanan dan barang-barang perlengkapan bahan makanan dan barang perlengkapan untuk toilet dan seorang jubir pemerintah di Den Haag mengatakan kepungan terhadap Konsulat RI itu “toh juga akan berakhir pada waktunya”.

Ketujuh teroris di Konsulat RI di Amsterdam itu telah menyampaikan kepada pemerintah RI sebuah daftar tuntutan politik termasuk pembebasan semua tawanan RMS di Indonesia.
Mereka juga menuntut suatu pertemuan di Jenewa antara Presiden Soeharto dan seorang pemimpin masyarakat RMS.

Namun, pejabat Kedubes Indonesia di Den Haag telah menjelaskan pemerintah Indonesia “akan tetap menolak” untuk memberikan kelonggaran kepada teroris dan menyebut tuntutan itu sebagai “tuntutan gila”. (SH)