Jepang Berencana Gunakan Kriptografi Kuantum untuk Amankan Komunikasi Negaranya

Ikuti Jejak Tiongkok

Jepang Berencana Gunakan Kriptografi Kuantum untuk Amankan Komunikasi Negaranya

ilustrasi / physicsworld.com

SHNet, Tokyo – Pemerintah Jepang dikabarkan telah meminta sejumlah dana anggaran untuk berinvestasi dalam kriptografi kuantum yang mereka harapkan dapat dioperasikan pada tahun 2027. Jika tercapai, sistem yang menggunakan satelit-satelit dan laser tersebut dipercaya hampir tidak dapat di-hack.

Rencana pemerintah Jepang untuk berinvestasi dalam sistem keamanan berbasis ruang angkasa untuk menjaga rahasia negaranya tetap aman. Sistem yang dimaksud tidak dapat dipungkiri pastilah menggunakan komunikasi kriptografi kuantum. Masalah keamanan memang berada dalam siaga tinggi di wilayah tersebut setelah Korea Utara terus melakukan ancaman tindakan nuklir terhadap negara-negara tetangganya dan juga Amerika Serikat. Menurut media lokal, Pemerintah Jepang memiliki rencana untuk menguji sistem kuantum kriptografi yang diusulkan pada tahun 2022 dan memiliki sistem yang bisa beroperasi penuh pada tahun 2027.

Sementara itu Tiongkok mengumumkan telah berhasil menguji sistem keamanan berbasis kuantum mereka sendiri pada bulan Juni tahun ini. Sistem kompleks ini menerapkan sifat mekanika kuantum ke sistem komunikasi. Berbeda dengan Tiongkok sistem keamanan yang diusulkan Jepang akan bekerja dengan satelit yang mengorbit menerima instruksi untuk mengirimkan serangkaian kunci bagi pengirim dan penerima komunikasi. Pengirim lalu menggunakan kunci ini untuk mengenkripsi datanya dan penerima menggunakan kunci mereka untuk memecahkan kode data. Kunci ini kemudian dikirim melalui sinar laser yang kuat dari partikel cahaya (foton), dan setiap tombol hanya layak untuk sekali pakai.

Selain pembangkitan kunci yang aman ini, sistem juga dapat mendeteksi upaya untuk mencegat pengiriman pesan komunikasi ke administratornya dan mengubah informasi yang dikirim.

Pemerintah Jepang telah meminta ¥ 300 juta atau sekitar 35 miliar rupiah dari anggaran tahun 2018 untuk memulai proyek tersebut dengan mengembangkan satelit yang dilengkapi laser yang mampu melakukan komunikasi. Laser yang baru dikembangkan ini akan diuji pada tahun 2022 dengan menggunakan satelit atau pesawat udara yang dapat terbang sangat tinggi. Jika sudah selesai sistem tersebut seharusnya akan beroperasi pada 2027.

Surat kabar Jepang Yomiuri Shimbun melaporkan bahwa pemerintah Jepang ingin bekerjasama dengan perusahaan swasta untuk mewujudkan proyek ambisius komunikasi negara itu. Tidak hanya Jepang tapi negara-negara di seluruh dunia juga sedang meningkatkan langkah-langkah keamanan komunikasi mereka karena meningkatnya ketegangan atas privasi dan juga blok aliansi negara-negara itu.

Di Tiongkok sistem itu dikenal sebagai quantum key distribution (QKD). Saat sistem ini digunakan, kedua pengguna akan diberitahu segera setelah ada gangguan yang terdeteksi. Setiap gangguan atau percobaan hack segera mengubah informasi yang dikirim dalam jaringan sehingga gangguan segera dikenali dan dilaporkan.

Zhou Fei, Asisten Direktur Institut Teknologi Quantum Jinan, mengatakan tentang sistem jaringan tersebut, “Kami berencana untuk menggunakan jaringan pertahanan nasional, keuangan dan bidang lainnya, dan berharap dapat menyebarkannya sebagai sebuah rintisan yang jika berhasil, dapat digunakan di seluruh Tiongkok dan seluruh dunia.”

Zhou mengisyaratkan bahwa sistem tersebut akan memiliki dampak global. China adalah salah satu pemimpin dunia dalam penelitian dan adopsi teknologi kuantum.

Fisikawan kuantum Tim Byrnes, berbicara kepada media tentang sistem jaringan itu awal tahun ini, memuji pencapaian yang telah didapat negara besar tersebut. “Tiongkok telah mencapai banyak hal dengan penelitian kuantum … Sungguh menakjubkan betapa cepatnya mereka berhasil menyelesaikan proyek penelitian kuantum yang akan terlalu mahal untuk dilakukan di tempat lain … Komunikasi kuantum telah telah diambil oleh sektor komersial jauh lebih banyak di China dibandingkan dengan negara lain, yang berarti kemungkinan akan menarik Eropa dan AS untuk ikut terlibat di bidang komunikasi kuantum,” ujar Byrnes.

Sistem QKD Tiongkok berbasis di darat dan saat ini terbatas pada jarak yang lebih pendek, sedangkan proyek ambisius Jepang, secara teori, bisa mentransmisikan data lebih jauh beberapa ribu kilometer. (HNP)