Jatuhnya Dili Mengakhiri Drama Sedih Dan Pembantaian Di Timport

Pimpinan Apodeti Dan Kota

Jatuhnya Dili Mengakhiri Drama Sedih Dan Pembantaian Di Timport

Atabahe, Timport, 8 Desember 1975 – Raja Atsabe, Guilherme Maria Goncalves dari pimpinan partai apodeti, menilai jatuhnya Dili, Ibukota Timor Portugis sebagai suatu permulaan yang wajar daripada berakhirnya drama sedih yang menimpa rakyat wilayah itu, ketika ia memberikan tanggapan di kota Atabae hari Senin.

Raja Goncalves yang memberikan keterangannya itu kepada “Antara” di kota tersebut mengemukakan bahwa dengan jatuhnya Dili akan dapat berakhir pula pertumpahan darah dan pembantaian yang sejak 4 bulan terakhir ini dialami oleh rakyat Timor Portugis yang tidak berdosa.

Sepanjang bersangkut pelaksanaan proses dekolonisasi dijajahan itu ia berpendapat bahwa partainya akan tetap melaksanakannya dan untuk diharapkan dalam waktu dekat akan dapat tercipta kondisi untuk mewujudkan suatu referendum.

Ia berpendapat juga bahwa partai Fretelin yang baru-baru ini telah memproklamirkan apa yang disebut “Republik Demokrasi Rakyat Timor Timur” dapat saja didengar suaranya dalam referendum itu.

“Asalkan saja”, demikian ditegaskan, “suara itu benar-benar jujur dan tidak ditumpangi oleh ideologi asing yang ingin menghancurkan aspirasi rakyat yang ingin bergabung dengan Indonesia”.

Dalam hubungan ini olehnya dikemukakan bahwa Apodeti sama sekali tidak bermaksud untuk bertindak secara diktatoris.
“Fretelin”, kata Raja Atabae, “jika benar mencintai rakyat Timor seperti selalu didengungkan hendaknya menghormati keinginan rakyat itu”.

Dalam keterangannya tersebut ia telah menyampaikan terima kasihnya kepada sukarelawan Indonesia yang atas permintaan komando gabungan pasukan Apodeti, UDT, Kota dan Trabalista sekarang ini telah membantu memulihkan keamanan di kota Dili.
Kota Dili yang terletak di pantai utara Timor Portugis telah direbut oleh pasukan gabungan itu Minggu, pagi yang lalu.

Harus
Sementara itu ketua partai Kota, Jose Martin mengatakan di kota Atabae juga bahwa jatuhnya Dili merupakan suatu keharusan untuk membebaskan rakyat Timor Portugis dari teror dan tekanan yang selama ini dipaksakan atas mereka oleh partai Fretelin.
“Dan kami bermaksud untuk menjelaskan kepada seluruh dunia akan keharusan itu”, kata Martin.

“Kami yakin bahwa dengan jatuhnya kota Dili, Fretelin akan mulai menyadari kewajaran dari keinginan rakyat Timor Portugis untuk bergabung dengan Indonesia”, kata Martin.

Sepanjang tersangkut kedudukan Portugal ia berpendapat bahwa sebagai kekuasaan yang legal negara itu sekarang harus melaksanakan proses dekolonisasi itu sesuai dengan keinginan rakyat Timor Portugis untuk bergabung dengan Indonesia.

Khususnya mengenai bulan Desember ini dimana dunia menghadapi perayaan Natal, ia berpendapat pemberian yang paling berharga bagi rakyat Timor adalah mulai dipulihkannya perdamaian.

“Dalam perasaan perdamaian itu kami ikut sertakan rakyat Indonesia yang telah banyak membantu kami”, demikian ditambahkan. (SH/Ant)