Ini Salah Satu Sekolahnya Para Aktivis Sosial

Ini Salah Satu Sekolahnya Para Aktivis Sosial

odesa.id

SHNet, BANDUNG – Memasuki tahun ke-2 kegiatan, Yayasan Odesa Bandung yang mengambil konsentrasi kegiatan di Kawasan Bandung Utara kini menjadi sebuah kegiatan yang menampung hasrat para relawan sosial. Sebagaimana dikatakan Ketua Odesa Indonesia, Faiz Manshur, Yayasan ini awal mulanya bergiat untuk pendampingan ekonomi. Namun dengan melihat kenyataan sosial-kultural masyarakat Bandung Utara, terutama  di Kecamatan Cimenyan, Cilengkrang dan Cileunyi, sekarang berkembang menjadi wadah pendidikan bagi para aktivis.

“Ini bukan karena setting awal. Kita bergiat terus secara rutin. Melibatkan para sukarelawan lalu berhimpun menjadi Odesa. Karena kita menyampaikan melalui media atas visi, program dan target serta membuka akses kegiatan bagi teman-teman di kota banyak teman-teman kota yang tertarik bergiat.Ada yang secara individu terlibat, ada pula yang terlibat secara kolektif,” kata Faiz kepada SHNet, Senin (18/12).

Yayasan Odesa Indonesia menurut Faiz Manshur mengambil konten gerakan pembangunan Sumber Daya Manusia(SDM)  Desa. Dengan meletakkan huruf O di awal kata Desa, Odesa memiliki spirit untuk organizer, organizing, organik, hingga online desa. Karakter gerakan pendampingan yang sungguh-sungguh dalam keluarga pra-sejahtera (sangat miskin) dan keluarga Sejahtera I (Miskin) bisa menjadi model pergerakan sosial yang gunanya bukan saja memajukan para petani miskin, melainkan juga sebagai wadah sekolah para aktivis atau sukarelawan.

“Mahasiswa, aktivis pergerakan, relawan komunitas, termasuk peneliti yang punya minat menyalurkan semangat solidaritas sosial tentu butuh pendidikan. Menjadi aktivis butuh ilmu, apalagi kalau mereka nanti berpolitik dan mengambil peran dalam kekuasaan. Banyak politisi yang tidak memiliki visi serta pengalaman mengurus masyarakat lapisan bawah sehingga mereka tidak bisa menawarkan program konkret di masyarakat. Nah, sekarang Odesa mengambil peran dalam menjembatani pendidikan kesukarelawanan sosial ini,” jelasnya.

Sekolah Tani Remaja Odesa

Garis Visioner

Lebih lanjut Faiz menjelaskan, di yayasan Odesa terdapat sumber daya manusia yang bisa menjadi mitra untuk bersama-sama menggali ilmu. Ada Budhiana Kartawijaya, Enton Supriyatna (Wartawan Senior), Basuki Suhardimann, Didik Harjogi (ITB), Andini Putri dkk (dari komunitas kegiatan sosial), Nashir Budhiman (Salman ITB), Hawe Setiawan (Budayawan), Asep Salahudin (Peneliti/Penulis), Herry Dim (Pelukis dan Aktivis Senior), dan sejumlah relawan senior lain. Pada level operasional di lapangan ada Agung Prihadi, Mudris Amin, Khoiril Anwar, dll yang biasa memandu kegiatan di lapangan.

Menurut Faiz, Sekolah Para aktivis bukan semata asal terjun ke lapangan. Prinsip pendidikannya adalah saling mengisi, belajar bersama. Semua adalah guru dan semua adalah murid. Belajar pada kenyataan hidup, mengurus manusia untuk kebaikan antar manusia dan lingkungan. Yayasan Odesa Indonesia rutin melakukan studi kajian teoritis dan kajian lapangan untuk membentuk jenis-jenis model pendampingan yang tidak sekadar asal bergiat dengan semangat value, melainkan lebih pada usaha goal/sukses.

“Misalnya, kebaikan terhadap fakir-miskin itu bukan sekadar berbagi sembako atau melempar koin. Itu kebaikan level rendah, yaitu sekadar menunaikan kewajiban. Lebih yang lebih tinggi adalah mendampingi sampai fakir-miskin ini menemukan jalan keluar dari persoalan hidup yang membelitnya,” jelasnya.

Faiz Manshur juga menjelaskan, semangat perbaikan kualitas manusia Indonesia harus dilakukan melalui pendidikan luar sekolah. Sandaran pemikiran kegiatan odesa paling tidak bisa dirangkum dari beberapa terminologi seperti emansipasi, value-virtue, civic-virtue, transformasi-sosial, demos-kratos, grass roots journalism, tani pekarangan, square foot garden, etos, etik, biologi-evolusiner, empowerment, kebijakan publik, literasi, dan lain sebagainya. (Ani/odesa)