Gajah Sumatera Terancam Punah

Gajah Sumatera Terancam Punah

Akibat Pemburu-Pemburu Liar Dari Jakarta Dan Luar Negeri

Jakarta, 12 Desember 1968 – Jumlah Gajah relophas maximuts di Sumatera sekarang ini sudah tidak dapat lagi dipastikan, berhubung seringnya terjadi perburuan gelap yang dilakukan baik oleh pemburu yang datang dari Jakarta, maupun luar negeri (Singapura).

Mereka itu berburu tanpa lebih dahulu menghubungi instansi yang berwenang (kehutanan, cq Perlindungan dan Pengawetan Alam) dan merupakan pelanggaran pula dari UU dan Instruksi KASAB Hankam No. III/E/92/04.

Menurut Kepala Dinas Perlindungan dan Pengawetan Alam Sumatera berdasarkan catatan pada Direktorat Pembinaan Hukum di Bogor, di Sumatera pada waktu sebelum perang yang lalu terdapat lebih kurang 2.500 ekor Gajah.

Akibat perburuan gelap oleh orang yang ingin mendapatkan gading gajah itu. Pada akhir tahun 1960 menurun jadi 900 ekor, dan jumlah itu dewasa ini lebih menurun lagi dan tidak diketahui dengan pasti.

Berkurangnya jumlah binatang berkulit tebal tersebut, menurut laporan adalah karena didaerah Bengkulu, Lampung, Jambi, Riau dll gajah masih merupakan sasaran utama bagi pemburu yang banyak berdatangan dari luar.

Bahkan menurut Kepala Dinas Perlindungan dan Pengawetan Alam itu, belum lama ini telah terjadi penembakan gajah sebanyak 3 ekor didaerah Lampung, disekitar Way Kemuning dan Gedungwani oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Hal itu sangat disesalkan sekali, justru merupakan tindakan yang tidak ada rasa perikemanusiaan dan hanya didorong oleh nafsu untuk memperoleh keuntungan pribadi tanpa mengindahkan peraturan yang ada.

Karena itu diserukan kepada masyarakat dan para pejabat untuk mencegah tindakan yang dapat mengganggu sisa-sisa binatang agar tidak punah. (Ant)