Desa Bleberan Maju karena Teknologi. Desamu Hanya Pengguna Handphone?

Desa Bleberan Maju karena Teknologi. Desamu Hanya Pengguna Handphone?

Air Terjun Sri Gethuk, Gunung Kidul. (Ist)

SHNet – Desa ini cepat berkembang karena pemerintah desa menjadikan ilmu pengetahuan (iptek) sebagai potensi wisata desanya. Ya, inilah adu kreativitas antara desa yang terjadi zaman sekarang. Siapa lebih kreatif, dialah yang berada di garis terdepan menyongsong kemajuan.

Desa Bleberan, Kacamatan Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. Desa ini menjadi Desa Wisata Iptek pilihan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) 2017.

Jika dulu Kabupaten Gunung Kidul dikenal sebagai daerah tandus yang sering dilanda kekeringan, kini lebih dikenal sebagai tempat berseminya para kreator dan inovator pembangunan desa. Beberapa kali hasil kreasi dan inovasi warga Gunung Kidul menang lomba di level nasional dan bahkan internasional.

Desa Bleberan mengubah stigma kekurangan air menjadi sumber rezeki. Keterbatasan ketersediaan air yang ada dikapitalisasi sedemikian rupa dengan kreativitas inovasi teknologi untuk menjadi sumber ekonomi yang menghidupi warganya.

Caranya? Pernah mendengar Wisata Sri Getuk dan Goa Rencong Kencana? Jangan sampai Anda ketinggalan. Itu berada di Desa Bleberan, Gunung Kidul! Setidaknya setiap pekan, lebih dari 2.000 orang mengunjungi lokasi wisata ini. Nah, pada liburan panjang akhir tahun seperti sekarang, berlipat-lipat jumlahnya.

Desa Bleberan ini membuat gethek (perahu) dari drum bekas untuk mengangkut wisatawan Sri Getuk. Gethek dari bahan drum bekas dilengkapi mesin, yang memudahkan dan menarik wisatawan yang akan mengunjungi air terjun Sri Getuk.

Dengan demikian jika hendak menuju air terjun Sri Getuk, memiliki pilihan: jalan darat atau menggunakan perahu melalui aliran Sungai Oya. Tentu lebih menyenangkan naik perahu drum, bukan? Cukup membayar Rp 10.000/orang untuk menikmati wisata dengan fasilitas naik gethek.

Desa Bleberan juga memanfaatkan sollar cell (panel surya) untuk menggerakan pompa air agar mendapatkan air yang lebih bersih. Pompa air itu menyedor sumber mata air Jambe dan ditampung di reservior. Dari sanalah air disalurkan ke rumah-rumah sehingga warga mendapat air bersih di daerah yang dulu dikenal tandus dan gersang tersebut.

Tak perlu membayar air mahal-mahal, karena hanya Rp 3.000/m3 dan dijamin air selalu mengalir sekalipun musim kemarau tiba. Uang yang dibayarkan itu tidak keluar dari Desa Bleberan. Semuanya dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bleberan.

Desa kecil itu kini memiliki tiga unit usaha BUMDes, yakni unit BUMDes pemanfaatan wisata, pemanfaatan sumber mata air, dan usaha simpan pinjam. Di Desa Bleberan terdapat Goa Rancang Kencono. Gua ini memiliki banyak kisah dan cerita, sejak zaman dahulu kala.

Konon, gua bawah tanah ini dulu menjadi tempat persembunyian pejuang Indonesia dari kejaran penjajah Belanda. Selain itu juga menjadi tempat orang untuk bermeditasi atau bertapa. Beberapa orang menganggap Gua Rencong Kencono ini magis dan mistis. Nah, itu semua adalah daya tarik dan pikatnya. Menikmatinya sebagai lokasi wisatayang harus dijaga dan dilestarikan sangatlah penting.

Gua Rencong Kencono (Ist)

Pengolahan potensi desa dengan memanfaatkan kreasi teknologi membuat BUMDes Bleberan mendapat untung miliaran rupiah dalam setahun. Dana itu untuk memajukan desa dan membantu masyarakat tidak mampu. Bagi warga Desa Bleberan, belajar teknologi tak lagi sekedar teori, tapi lebih ke aplikasinya.

Kesiapterapan teknologilah yang dijalankan masyarakat Bleberan. Nah, desa Anda bagaimana pemanfaatan teknologinya? Masih sebatas pengguna telpon seluler? (IJ, dari berbagai sumber)