DC-8 Dengan 182 Jemaah Haji Indonesia Jatuh

Emil Salim : “Terlalu Pagi Untuk Mengatakan Semua Tewas”

DC-8 Dengan 182 Jemaah Haji Indonesia Jatuh

Jakarta, 5 Desember 1974 – Sebuah pesawat carter yang mengangkut 182 jemaah haji dari Indonesia jatuh dan terbakar di atas sebuah puncak bukit batu karang yang terjal di dataran tinggi tengah Srilangka, Rabu malam.

Polisi Srilangka mengatakan pesawat itu jatuh membentur puncak bukit disebuah perkebunan teh 100 Km sebelah Tenggara Kolombo ketika sedang mendekati lapangan terbang Ibukota Srilangka itu untuk mendarat. Pejabat kepolisian mengkhawatirkan 182 penumpang dan 9 awak di dalamnya semua tewas.

Seorang juru bicara untuk Martin Air Charter Company di Amsterdam mengkhawatirkan seluruh penumpang dengan 9 awak pesawat yang bertolak dari Surabaya itu semuanya tewas.

Pesawat tersebut DC-8 Martin Air sedang dalam perjalanan dari Surabaya ke Jeddah, Arab Saudi, mengangkut 182 jemaah muslim yang hendak menunaikan rukun Islam kelima di Mekkah. Awak pesawat terdiri dari 7 orang Belanda dan 2 pramugari Indonesia, demikian juru bicara tersebut.

Ia mengatakan pesawat jatuh di daerah berbukit di dekat kota Maskelia, kira-kira 21 Km dari Pelabuhan Udara Bandaraike Srilangka.

Sesaat sebelum jatuh penerbangannya mendapat ijin untuk turun dari 8000 ke 2000 kaki (2700 M ke 700 M) ketika ia mendekati Airport untuk persinggahan menurut jadwal, juru bicara itu mengatakan.

Saksi mata termasuk pejabat Airport melaporkan melihat ledakan dan kobaran api di tempat kecelakaan, dan pejabat Martin Air menyimpulkan dari laporan yang diterima pejabat bahwa semua penumpang tewas, juru bicara itu menambahkan.

Namun Menteri Perhubungan Emil Salim dalam konferensi pers-nya di Departemen Agama Jakarta menekankan “adalah terlalu pagi untuk mengatakan seluruh penumpang meninggal. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya, kata Menteri”.

2 awak Indonesia
Emil Salim mengatakan bahwa dua diantara awak pesawat adalah orang Indonesia, masing-masing Lilik Herwaty dan Abdul Hamid Usman, keduanya mahasiswa IAIN yang bertugas sebagai pramugari dan pramugara di atas pesawat yang naas itu.

Emil Salim yang didampingi oleh Menteri Agama Mukti Ali dan Direktur Garuda Wiweko Supono menerangkan bahwa pesawat yang celaka dari jenis DC-8-55 F Martin Air dengan nomor registrasi PH-MH. Pesawat itu berangkat dari Surabaya hari Rabu jam 18:53 WIB dengan rute penerbangan Surabaya – Colombo – Jeddah. Pesawat itu singgah di Colombo untuk pengisian bahan bakar.

Berbicara dalam sebuah konferensi pers di Schiphol Airport, Amsterdam, Manager Martin Air, Martin Schroeder, mengatakan hujan lebat menyebabkan keadaan cuaca yang sangat buruk ketika pesawat tersebut jatuh pukul 23:45 WIB Rabu malam (16:45 GMT).

Pertama kali
Schroeder, yang mendirikan Martin Air pada tahun 1958 mengatakan kecelakaan ini merupakan kecelakaan besar yang pertama bagi perusahaannya.

Ia mengatakan penerbangan tersebut merupakan bagian dari sebuah “airlift” (angkutan udara) besar-besaran untuk membawa kira-kira 45.000 calon haji Indonesia ke Arab Saudi tahun ini.
Pesawat tersebut yang dalam penerbangannya yang ke-19 sebagai bagian dari “airlift” tersebut telah dipakai oleh Martin Air selama satu tahun, Schroeder mengatakan.

Pesawat tersebut akan mengangkut regu penyelidik, termasuk anggota kepolisian negara Belanda dan pejabat penerbangan sipil ke Srilangka dan kemudian menggantikan pesawat yang jatuh dalam airlift itu.

Dalam pada itu pemerintah Belanda telah mengirim telegram kepada Martin Air untuk minta perusahaan tersebut menyampaikan belasungkawa pemerintah Belanda kepada keluarga korban, demikian diumumkan Dinas Penerangan pemerintah Belanda.

Dilaporkan
Menteri Emil Salim mengatakan kejadian tersebut telah dilaporkannya kepada Presiden Soeharto, Kamis, bersama-sama dengan Menteri Agama dan Dirut Garuda.

Oleh Presiden telah diinstruksikan agar segera dikirimkan tim bersama yang terdiri dari unsur Departemen Agama, Departemen Perhubungan, dan Garuda ke Srilangka untuk meneliti sebab kecelakaan ini bersama dengan pejabat setempat dan segera mengambil langkah yang diperlukan.

Tim tersebut akan berangkat hari ini juga masing-masing terdiri dari 4 orang dari Departemen perhubungan dipimpin oleh Suwardi SH yang pernah belajar Hukum Udara Internasional di Universitas Me Gill (Montreal) diantaranya 1 orang enginering, 1 orang Kooperasi dan 1 kesehatan, dari Departemen Agama dikatakan akan dipimpin langsung oleh Dirjen Haji dan staf sedang dari Garuda akan dikirimkan 3 orang ahlinya.

Menjawab pertanyaan Menteri Perhubungan menyatakan bahwa dengan kejadian tersebut tidak berarti pengangkutan haji tahun depan ini akan tertunda. Pemerintah segera akan mengambil langkah selanjutnya untuk penggantian pesawat tersebut sehingga program pengangkutan haji tidak mengalami hambatan.
Dikatakan untuk menggantikan pesawat yang mendapat kecelakaan tersebut adalah PH/DCA dari Martin Air.

Menjawab pertanyaan apakah pemerintah akan mengadakan kontrak baru dengan maskapai penerbangan lain, dikatakan selama ini Martin Air sudah mengangkut 128 kali dan yang akan diangkut sejumlah 86 penerbangan lagi yang keseluruhannya berjumlah 214 penerbangan.

Sedang jumlah jemaah haji yang akan diangkut dikatakan seluruhnya berjumlah 54.204 orang.
Sudah diangkut sejumlah 34.410 orang, sedang yang masih menunggu diangkut sejumlah 19.794 orang.

Pilot pengalaman
Sementara itu menjawab pertanyaan “SH” Emil Salim mengatakan bahwa Pilot pesawat yang mendapat kecelakaan tersebut telah mempunyai pengalaman dan untuk pengangkutan jemaah haji di Indonesia dikatakan penerbangan Martin Air mengirimkan Pilot yang telah berpengalaman bukan orang yang masih “hijau”.

Dari Colombo dikabarkan pekerja penyelamat yang diberangkatkan segera setelah kecelakaan yang terjadi pukul 10:20 malam waktu setempat melaporkan Kamis pagi bahwa mereka berjalan kaki menempuh setengah jalan ke puncak bukit tetapi terpaksa kembali karena permukaan batu karang yang terjal tidak mungkin dilalui tanpa menggunakan peralatan khusus.

Bukit tersebut terletak di wilayah yang oleh orang Srilangka dinamakan “Tujuh Perawan” sebutan untuk tujuh puncak terjal yang menjulang di daerah perkebunan tersebut.
Polisi mengatakan belum ada keterangan yang langsung mengenai sebab kecelakaan.

Laporan dari New Delhi mengutip pejabat Srilangka, negara pulau dekat ujung selatan India yang dulu bernama Ceylon sebagai mengatakan kecelakaan tersebut merupakan musibah penerbangan sipil terburuk dalam sejarah Srilangka.

“Masih terlalu pagi untuk mendapatkan sebab-sebab kecelakaan itu”, demikian pendapat Direktur Tekhnik Garuda, Lumenta ketika dihubungi “SH” Rabu pagi. “Sebab hingga kini kita belum mendapat hubungan komunikasi dengan Colombo”, tambahnya.
Sepanjang pengetahuan saya, selama ini tidak pernah ada keluhan mengenai perusahaan Martin Air dari Belanda yang mengangkut lawatan haji yang telah dilakukan sejak beberapa waktu yang lalu, kata Lumenta.

Berbicara mengenai keadaan jenis pesawat DC-8, Lumenta juga berpendapat, selama inipun tidak pernah ada keluhan dan Indonesia pun sudah memilikinya. Kecelakaan yang menimpa pesawat milik Martin Air baru pertama kali terjadi juga dalam hal pengangkutan haji ini, demikian Lumenta. (Sinar Harapan)