Adolf Hitler, Indonesia dan Dunia Dikuasai Yahudi

Adolf Hitler, Indonesia dan Dunia Dikuasai Yahudi

Teknologi pertanian yang dikembangkan Israel (Foto: www.jewisbusinessnews.com)

SHNet, JAKARTA – Adolf Hitler (20 April 1889 – 30 April 1945), seorang mantan penguasa Jerman dan Ketua Partai Nazi atau Nationalsozialistische Deutche Arveiterpartei (NSDAP), pernah mengeluarkan pernyataan kontroversial yang kemudian memang diwujudkannya.

“Saya bisa membunuh semua Bangsa Yahudi ketika saya berkuasa, tapi saya tinggalkan sedikit untuk kamu kenali siapakah sebenarnya Bangsa Yahudi dan mengapa saya membunuh mereka,” ujar Adolf Hitler.

Saat Adolf Hitler berkuasa, NSDAP dipercaya meluncurkan holocoust dengan membunuh sekitar 6 juta orang Yahudi dengan tujuan untuk menghapus Yahudi karena beranggapan Yahudi akan menghancurkan dan menguasai dunia suatu saat nanti.

Di New York, Amerika Serikat (AS), Kamis, 21 Desember 2017, sebagian besar dari 193 anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk Indonesia dan negara di Timur Tengah, menolak klaim AS atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Negara Israel, sejak Rabu, 6 Desember 2017.

Luas Yerusalem

Kota Yerusalem (Ist)

Penolakan sebagian besar anggota PBB, sepertinya tidak berpengaruh apapun terhadap keputusan AS. Paling tidak, menurut Israel, selain AS, minimal 9 negara lainnya, akan mindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Kota Yerusalem hanya memiliki luas 125,1 kilometer persegi, tapi kini jadi rebutan antara Palestina dan Israel. Sisa-sisa Bangsa Yahudi yang tercerai-berai di banyak negara, melarikan diri atas tindak kriminal dilakukan Adolf Hitler, kini kembali menjadi perhatian dunia.

Di atas lahan seluas 20.770 kilometer persegi, bermata uang bernama Sekkel, kemudian Israel memproklamirkan kemerdekaannya, pada 14 Mei 1948 dan mendapat pengakuan PBB, 1 Mei 1949.

Wilayah kedaulatan Israel menurut Perjanjian Gencatan Senjata 1949 yang ditandatangai dengan Mesir, Lebanon, Yordania dan Suriah, adalah 20.770 kilometer.

Keseluruhan wilayah di bawah kontrol Israel, termasuk Yerusalem Timur dan Tepi Barat, mencapai 27.799 kilometer persegi, dari Utara ke Selatan panjang negara ini 470 kilometer.

Titik terlebar 135 kilometer, sementara yang tersempit hanya 15 kilometer panjangnya. Dengan demikian, wilayah baru yang dicaplok Israel dari Palestina, minimal mencapai 7.028 kilometer persegi.

Jadi rebutan

Kota Yerusalem pernah dua kali dibumihanguskan, diblokade 23 kali, diserang 52 kali, diduduki dan direbut kembali sebanyak 44 kali. Bagian tertua kota ini, di dekat mata air Gihon, dibangun antara tahun 4500-3500 SM. Kota suci umat Yahudi, Kristen dan Islam ini merupakan salah satu kota tertua di dunia.

Semenjak Israel membuat negara sendiri, gelombang imigrasi keturunan Yahudi terus berdatangan ke Israel. Terakhir, pada 24 Mei 1991, pesawat Boeing 747 milik maskapai penerbangan Israel, El Al, lepas landa dari Addis Ababa mengangkut 1.088 penumpang.

Jumlah penumpang ini menjadi rekor penumpang penerbangan komersial. Penerbangan ini merupakan bagian dari Operasi Solomon, misi mengevakuasi warga Yahudi dari Ethiopia.

Israel telah menduduki Yerusalem Timur sejak perang Timur Tengah 1967. Mereka mencaplok wilayah itu pada tahun 1980 dan menganggapnya sebagai wilayah mereka. Menurut hukum internasional, Yerusalem timur termasuk wilayah pendudukan.

Status Yerusalem merupakan jantung konflik panjang Israel – Palestina, karena Israel mencaplok Yerusalem Timur yang bagi Palestina merupakan ibu kota negara mereka di masa depan, sementara Israel menetapkan bahwa Yerusalem adalah ibu kota abadi yang tak dapat ditawar lagi.

Pemerintah AS sejak tahun 1948 bersikap bahwa status Yerusalem diputuskan oleh negosiasi dan bahwa mereka tidak akan melakukan tindakan yang mungkin dianggap sebagai upaya mengarahkan hasil dari negosiasi tersebut.

Ist

Perjanjian 1993

Berdasarkan kesepakatan damai Israel – Palestina tahun 1993, status akhir atas Yerusalem akan dibahas dalam tahap perundingan lebih lanjut di kemudian hari. Namun sejak tahun 1967, Israel sudah membangun kawasan permukiman untuk menampung 200.000 warga Yahudi di Yerusalem Timur.

Pertanyaan muncul kemudian, kenapa AS begitu menaruh perhatian cukup besar dengan Israel? Jawabannya sederhana saja, karena keturunan Bangsa Yahudi, memiliki populasi cukup besar di AS. Populasi keturunan Bangsa Yahudi di AS, mencapai 6 juta orang, dan mereka menguasai perpolitikan, teknologi canggih yang menjadi ketergantungan masyakarat hampir pada semua negara di dunia.

Saat kampanye tahun 2016, Calon Presiden AS, Donald John Trump, banyak membuat janji bagi keturunan Bangsa Yahudi, sehingga mencapai kemenangan dan dilantik jadi Presiden pada 20 Januari 2017.

Dikuasai Yahudi

Sebagai salah satu negara maju di dunia, secara teknologi, AS sekarang memang dikuasai keturunan Bangsa Yahudi.  Bangsa Yahudi bangsa yang cerdas, berkat mampu berinovasi. Lihat saja di bidang medis keturunan Yahudi, yakni, penemu medis injeksi (Benjamin Rubin), vaksin polio (Jonas Salk), obat kanker darah  atau leukemia (Gertrude Ilion).

Penemu obat hepatitis C (Barukh Bloomberg), obat sifilis (Paul Ehrlich), pengembangan sistem kekebalan tubuh (Eli Machenkov), endokrinologi paling penting (Andrew Schally), cognitive therapy (Aaron Beck), pil (Gregory Pecos), studi pengobatan kanker yang paling penting (Stanley Cohen), dialisis dan peneliti paling penting dalam organ buatan (Willem Kulovkim).

Di samping itu, penemuan Bangsa Yahudi yang mampu mengubah dunia, di antaranya pengembangan prosesor (Stanley Mysore), reaktor nuklir (Selandia Liu),  serat optik (Peter Schultz), lampu lalu lintas (Charles Adler), stainless steel (Pino Ringkas), film audio (Isador Casey), mikrofon (Jeramavun Emile Berliner), perekam video (Charles Ginsburg).

Keturunan Bangsa Yahudi, dikenal pula sebagai pembuat nama dan merk terkenal. Di antaranya polo (Ralph Lauren), jeans levi (Strauss Levi), starbucks (Howard Schultz), google (Sergey Brin), dell (Michael Dell), oracle (Larry Ellison), DKNY (Donna Karan), baskin dan robbins (Irv Robbins), dunkin donuts (William Rosenberg).

Perdana Menteri Israel, dalam banyak kesempatan, sesumbar, kendati sebagai negara kecil secara teritorial, tapi mereka secara teknologi dan diplomasi politik, telah berhasil menguasai dunia.

Netanyahu kemudian memaparkan sejumlah pencapaian Israel melalui sederet perusahaan yang telah melantai di bursa kelas dunia seperti Nasdaq. Dengan kehadiran banyak perusahaan Israel, Netanyahu dengan lantang menyebut banyak orang (negara) menikmati banyak kemudahan dari mereka.

Kemudahan tersebut diperoleh melalui produk-produk yang berbasis teknologi seperti ponsel, sistem navigasi, obat-obatan, bahkan tomat ceri yang tersaji di atas salad. Terasa lucu saat Netanyahu menuliskan bahwa tomat ceri pun mereka kuasai.

Teknologi pangan

Tetapi faktanya memang demikian. Kendati berada di wilayah gersang, teknologi pangan Israel terbukti mampu menciptakan produksi pertanian yang berlipat ganda.

Inovasi teknologi, itulah yang menjadi poin penegasan Netanyahu tentang rahasia di balik kedigdayaan Israel sejauh ini. Saat Israel gagal merebut pasar industri mobil 50 tahun lalu, dengan cepat ditebus lewat inovasi yang berkaitan dengan produk tersebut, sehingga lahirlah Waze, aplikasi berbasis teknologi satelit yang menuntun pengemudi ke alamat tujuan.

Itulah salah satu inovasi yang dilakukan Israel ketika tidak mampu bersaing di industri utama.

Inovasi dan regulasi

Netanyahu menyebut dibutuhkan regulasi yang ketat seperti kemudahan pajak maupun privatisasi terhadap perusahaan milik negara, serta sejumlah kebijakan lainnya. Sebab, Israel menyadari sebuah teknologi hanya akan membawa keuntungan ketika mempunyai pasar yang besar.

Itulah alasan kenapa Israel gencar melakukan ekspansi ke pasar dunia dengan menjalin kerja sama ekonomi dengan banyak negara khususnya Amerika, Cina, India, hingga Afrika.

Dengan demikian, upaya Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) terus mendorong pendidikan menengah dan tinggi Indonesia agar berani keluar dari pakem pendidikan yang selama ini diterapkan, menjadi sebuah keniscayaan.

Dalam berbagai kesempatan, Presiden Jokowi tidak bosan menekankan agar model pendidikan diubah bila tidak ingin tertinggal dari bangsa lain. Sejalan dengan perubahan model pendidikan, deregulasi juga terus gencar dilakukan Jokowi yang tujuannya tak lain menarik minat para investor.

Harapannya, Indonesia di masa mendatang akan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Sayangnya, harapan Presiden Jokowi, entah kebetulan atau tidak, ternyata sudah lebih dulu diterapkan Israel sekaligus sejak berdiri tahun 1948, menuai hasilnya seperti sekarang ini. Inovasi menjadi kunci satu-satunya guna merebut masa depan. (Aju)