Wawancara Dengan Istri-Istri Pahlawan

Wawancara Dengan Istri-Istri Pahlawan

Ny. Adisucipto : Sangat Berat, Tetapi Bangga

Sinar Harapan, 13 November 1973 – Baru 2 tahun saya menikmati bahagianya perkawinan. Dan dianugerahi Tuhan seorang anak laki-laki, setelah itu suami saya dipanggil Tuhan. Kapal terbangnya jatuh ditembak Belanda di Karangkajen (Yogya) waktu membawa obat-obatan dari Singapura, kata Ny. Rahayu Adisucipto (49 tahun) kepada SH.

Komodor Adi Sucipto, yangt namanya sekarang diabadikan untuk menyebut lapangan terbang/pangkalan udara Maguwo, wafat pada tanggal 29 Juli 1947. Hari/tanggal tersebut kini dijadikan titik tolak sebagai “Hari Bakti AURI”. Pilot yang berani ini, waktu itu usianya baru 30 tahun.

Sedang Ny. Rahayu Adisucipto 23 tahun. “Tentu saja saya sangat berat ditinggalkan bapak. Tetapi merasa bangga bahwa bapak dapat sedikit menyumbangkan tenaganya untuk kemerdekaan Indonesia, sekalipun cuma sebentar” kata Ny. Adisucipto.
Usia ibu waktu itu masih muda, apakah tidak ada hasrat untuk kawin lagi ?, tanya “SH”.

Dengan tersenyum ibu Adisucipto menjawab : “Yah, perkawinan saya selama 2 tahun sudah cukup memang demikianlah kehendak Tuhan.

Saya tidak bisa melupakan cinta saya pada bapak. Kalau saya kawin lagi berarti saya mengingkari kesetiaan cinta saya”, dengan nada emosional ia mengatakan ini. Setia pada janji ini Ny. Adisucipto selama ini tetap hidup menjanda didampingi seorang puteranya, FX Adisucipto yang kini duduk pada tingkat terakhir fakultas hukum UGM. “Ia mirip dengan ayahnya”, katanya.

“Saya tidak bisa mengobyek. Tentu saja pensiun tidak cukup. Untunglah para sanak famili mengetahui keadaan saya ini dan mereka banyak memberi bantuan”, kata Ny. Adisucipto menceritakan : “sekedar untuk mengisi waktu saya senang menggambar/melukis. Tidak untuk dijual tetapi untuk kesenangan saja”, katanya.

Ia kini tinggal di jalan Sangan, Yogyakarta, sebuah rumah yang bagus pemberian dari AURI. Sekalipun ia tetap menjanda dengan dianugerahi seorang putera, dengan tersenyum ia berkata : “Anak saya sebenarnya banyak. Tersebar di seluruh Indonesia. Mereka itu adalah….. para penerbang”.

Komodor Adisucipto bersama Suryadarma, Dr. Abdulrahman Saleh alias Pak Karbol, Darsonolucito pernah merintis berdirinya AURI sesudah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan.

Selain menggambar, Ny. Adisucipto, yang dikenal sebagai pemeluk agama Katholik yang teguh, juga aktif dalam kegiatan sosial untuk memikirkan anak-anak cacat.

Anak saya tidak setuju
Ny. Sriwulan Murni Katamso lain lagi cita-citanya. “Setelah saya ditinggal bapak, saya ingin menggantikan kedudukan bapak sebagai kepala rumah tangga.

Hidup dari pensiun atau tunjangan lain-lain terang tidak cukup. Pensiun saya tidak cukup untuk membayar listrik, lantas untuk makan apa ?, tanya Ny. Katamso.

“itulah sebabnya saya harus bekerja, mencari nafkah sendiri”, katanya menambahkan. “Dalam bekerja saya ingin seperti laki-laki. Segala sesuatu ingin saya hadapi sendiri. Saya tidak mudah lekas percaya pada laporan-laporan tapi segala sesuatunya mesti saya cek sendiri, saya lihat sendiri. Memang begitulah, kalau kita ingin sukses sebagai seorang pengusaha, mesti ulet. Ulet saja tidak cukup, kita harus tabah dalam menghadapi kesulitan”.

Prinsip ini agaknya menjadi pegangan Ny. Katamso yang sekarang terjun dalam dunia bisnis, yang mondar-mandir antara Yogya, Bandung, Jakarta dan Lampung. Ia harus mencukupi kebutuhan 4 rumah tangga. Masing-masing di Yogyakarta, Bandung, Jakarta dan Lampung.

Berguna bagi agama dan negara
Ny. Sugiyono, janda dari pahlawan revolusi Kolonel Sugiyono, punya cita-cita terhadap anak-anaknya : “Saya berharap agar anak-anak saya kelak berguna bagi agama dan negara” katanya.

Kenapa pendidikan agama penting, Ny. Sugiyono sebagai seorang pemeluk agama Kristen yang teguh berpendapat : “Agama merupakan pegangan batin yang kuat untuk menghadapi kesulitan. Saya sendiri mejadi tabah karena agama yang saya yakini”.

Tentang jiwa kepahlawanan Ny. Sugiyono mengatakan : “Mudah-mudahan dapat mewarisi jiwa kepahlawanan ini, tetapi tidak usah dipaksakan, cukup dengan mendidik anak-anak saya sebaik-baiknya. Kalau anak-anak saya kelak jadi anak yang baik, itu sudah menjadi pahlawan, setidaknya pahlawan bagi keluarganya”, katanya mengakhiri wawancara ini. (Bambang Soebendo)