Tak Gunakan Minyak Sebagai Senjata Politik

DIRUT Pertamina Di New York

Tak Gunakan Minyak Sebagai Senjata Politik

Produksi Dan Ekspor Akan Ditingkatkan

Jakarta, 7 November 1973 – Indonesia akan meningkatkan produksi dan ekspor minyak bumi dan tidak akan menggunakan minyak tersebut “senjata politik”. Hal ini dikemukakan Direktur Utama Pertamina, Dr. Ibnu Soetopo hari Selasa pada jamuan makan dengan pengusaha di Hotel Hilton, New York.

Kurang diperhitungkan
Menurut kawat “AP” yang mengutip laporan wartawannya Larry Thorson, Letjen Sutowo menekankan bahwa kemampuan Indonesia (dibidang perminyakan – Red) pada umumnya kurang diperhitungkan oleh penyusunan analisa mengenai kekurangan euersi, meskipun Indonesia merupakan penghasil minyak bumi nomor 8 terbesar di dunia.

Minyak kasar Indonesia yang mempunyai kadar belerang terendah yang sebenarnya sangat diincar berdasarkan soal lingkungan tampaknya sudah dilupakan, kata Dr. Sutowo.
Dikatakan, Indonesia mampu melipat gandakan produksi dan ekspor minyaknya dalam beberapa tahun mendatang yang sebenarnya dapat mengisi kekurangan yang dialami AS.

Juga tentang kemampuan mensuplai gas bumi dan lain-lain hasil Petrokimia disayangkan oleh Dirut Pertamina bahwa hal ini kurang diperlihatkan di AS.

Dr. Ibnu Sutowo menyadarkan hadirin agar menggunakan kesempatan bisnis yang terbuka di Indonesia itu karena katanya pengusaha AS mempunyai keahlian management dan organisasi dibidang industri Petrokimia.

Sikap RI
Atas pertanyaan pers tentang sikap RI dalam sengketa Timur Tengah, Ibnu Sutowo menjawab bahwa “Kita tidak akan menggunakan minyak sebagai senjata politik dan tugas saya adalah menghasilkan minyak”.

Dijelaskan bahwa Pertamina dan kontraktornya memproduksi 1,3 juta barel minyak kasar sehari dan 70% dari hasil tersebut diekspor ke Jepang dan hanya 16 ribu barel perhari dijual ke Pantai Barat AS (1 barel 159 liter – Red). Dikatakan, baru-baru ini Pertamina telah menandatangani kontrak penjualan minyak selama 20 tahun kepada California Selatan.

Dijelaskan bahwa harga minyak Pertamina tideak akan dinaikan tahun ini tapi ia menambahkan “saya tak tahu bagaimana nantinya dalam tahun 1974” dalam tahun Oktober yang lalu, minyak Pertamina telah dinaikan harganya dari US$ 3.73 menjadi US$ 4.75 perbarel. Dijelaskan pula mengenai cara kontrak karya dan joint venture dan bahwa kontraktor yang menghasilkan minyak terbesar (90%) adalah Caltex.

Pinjaman US$ 200 juta
Dalam pada itu kawt AP menyebut bahwa Pertamina – perusahaan minyak nasional merencanakan mendapatkan modal 200 juta dollar AS atau sekitar 83 milyar rupiah untuk usaha perluasan eksplorasi dan pembangunan/pengembangan sumber minyak Indonesia.

Modal tersebut diperoleh dari sekelompok bank yang diketuai First Nasional City Bank, demikian juru bicara Citibank mengatakan, menurut “AP”.
Perincian pinjaman itu ialah 86 juta dollar AS dalam bentuk pinjaman jangka pendek 7 tahun. (SH)