Surat Pribadi Presiden Untuk Pramudya Ananta Tur

Alat Lukis, Pahat Dan Buku Untuk Tapol Buru

Surat Pribadi Presiden Untuk Pramudya Ananta Tur

Kekhilafan Bagi Seorang Manusia Adalah Wajar

Jakarta, 9 November 1973 – Wakil Panglima Kopkamtib Laksamana Soedomo, Kamis siang di ruang rapat Kopkamtib telah menyampaikan secara simbolis sejumlah bingkisan berupa alat melukis, pahat dan buku untuk para tapol di pulau Buru.

Barang-barang tersebut telah diserahkan kepada Brigjen Wadly Prawirasupradja sebagai Ketua Perencana Bapreru (Badan Pelaksana Resettlement Buru) dan akan diterbangkan ke Ambon pada tanggal 10 November dan dari sana ke Buru.

Penyerahan tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan rombongan pada tanggal 11 s/d 13 yang lalu yang dalam pertemuan dengan beberapa tokoh intelektual tapol, atas permintaan, telah menyanyikan akan mengirimkan bahan serta alat-alat tersebut.

Surat Presiden

Wapangkopkamtib Laksamana Soedomo menerangkan bahwa setelah Presiden Soeharto mendengarkan laporan kunjungan Jenderal Soemitro itu, Presiden kemudian menyampaikan satu bingkisan dengan satu surat pribadi untuk Pramudya Ananta Tur, seorang penulis dari Angkatan 45.
Surat Presiden tersebut sebagai berikut :

Saya Telah menerima laporan dari Pangkopkamtib Jenderal Soemitro tentang keadaan saudara. Kekhilafan bagi manusia adalah wajar, namun kewajaran itu harus pula ada kelanjutannya yang wajar.

Yakni, kejujuran, keberanian dan kemampuan untuk menemukan kembali jalan yang benar dan dibenarkan.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa lagi Kasih memberi perlindungan dan bimbingan di dalam saudara menemukan kembali jalan tersebut. Amin.
Berusaha dan bermohonlah kepada-Nya.

Jakarta, 10 November 1973
Presiden Republik Indonesia

 

Soeharto
Jenderal TNI

Bangsa sendiri
Laksamana Soedomo menerangkan, kebijaksanaan pemerintah dalam masalah penyelesaian G30S/PKI khususnya masalah tapol antara lain dilandaskan atas salah satu azas dari falsafah negara kita, yaitu azas prikemanusian.

Khususnya mengenai masalah tapol ini, kita anggap bahwa ini merupakan bangsa kita sendiri dan persoalan ini adalah masalah yang akan kita selesaikan sendiri. Atau dengan perkataan lain, ini merupakan persoalan dalam negeri sendiri, demikian Wapangkopkamtib menandaskan.

Juga diungkapkan, pemerintah sedang menyiapkan suatu rencana untuk menyelesaikan lebih lanjut masalah tapol ini berdasarkan hasil yang telah dicapai di pulau Buru.

Laksamana Soedomo menyatakan, usaha penyelesaian masalah tapol ini bukanlah karena ada tekanan dari luar, “usaha kita kita adalah tidak lain untuk mencoba menyadarkan mereka bahwa mereka itu adalah sesat dan perlu untuk kembali kepada jalan yang benar. Yang dimaksudkan tentunya, kita ingin juga berusaha untuk menjadikan mereka sebagai warganegara yang baik dan mengabdi masyarakat”, demikian Wapangkopkamtib.

Buku hukum adat
Atas pertanyaan, perincian dari bahan dan bingkisan yang diberikan tersebut adalah sebagai berikut :

15 pasang kacamata, kanvas, cat, alat melukis, alat memahat. Buku untuk Pramudya terdiri dari 13 macam antara laindari isterinya sendiri berupa buku tentang ejaan yang disempurnakan, untuk Prof. Soeprapto SH buku Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan buku “Adatrecht in Indonesie” karangan Prof. Ter Haar karena yang bersangkutan dikabarkan ingin menulis buku mengenai hukum adat. Sedangkan untuk Rivai Apin antara lain buku pelajaran bahasa Perancis – Indonesia, kiriman isterinya. (SH)