Seni Tato Warga Desa Madobak

Seni Tato Warga Desa Madobak

Ist

SHNet – Desa ini sensasinya luar biasa. Orang-orang yang mendiaminya ramah dan murah hati. Selalu tersenyum dan bertegur sapa ketika berpapasan di jalan. Tidak ada hal membuat mereka bermusuhan satu dengan yang lain. Siapapun dianggap kawan, teman. Tak peduli apakah baru pertama kali berjumpa atau sudah pernah saling kenal sebelumnya.

Tidak melihat beragam perbedaan yang membuat mereka jadi berbeda. Perbedaan menyatukan mereka, membuat senyum lebih merekah. Derap langkah jadi mantap. Saling membantu, saling menguatkan dengan bergotong-royong lebih diutamakan, dari pada mengerucutkan perbedaan menjadi murung.

Asli dengan budaya dan kultur yang dimilikinya. Kekayaan tak ternilai yang erat kuat dipegang dan dijalankan warganya. Mereka hidup dalam dan dengan budaya aslinya. Adaptif menerima perubahan zaman, tanpa harus hanyut oleh gelombang globalisasi yang berjalan tanpa arah yang pasti.

Desa Madobak, Kepulauan Mentawai, Kecamatan Siberut Selatan, Sumatera Barat. Banyak orang mengenal Kepulauan Mentawai, hingga ke mancanegara. Kepulauan yang terkenal karena gelombang laut yang tinggi dan menantang bagi para peselancar. Di samping karena suku aslinya yang menggambarkan Indonesia adalah Pancasila, Pancasila adalah Indonesia. Masyarakat yang bergotong-royong, memandang perbedaan sebagai kekuatan bersama, selalu ingin hidup selaras dengan alam dan setara satu dengan yang lainnya.

Masyarakat Desa Madobak, seperti halnya penduduk Mentawai umumnya memiliki kebudayaan membuat tato di lengan. Tato bagi mereka adalah seni melukis. Keindahan lukisan tato itulah satu-satunya harta tak terhingga yang bisa dibawa orang ke liang kubur ketika ia kembali ke pangkuan Yang Ilahi.

Karena itu, bagi warga Desa Madobak, membuat tato di lengan tak bisa sembarangan, tetapi menjukkan simbol keseimbangan, keselarasan hidup dengan alam dan lingkungan sekitar. Bahwasannya manusia tak hidup seenaknya di dunia ini. Dunia ini milik bersama dengan mahluk lain, baik kelihatan maupun yang dengan tak kelihatan dengan indera penglihatan manusia.

Tato di lengan warga Desa Madobak bisa berupa seni lukian bintang, seperti babi, rusa, kera, burung, buaya atau yang lainnya. Ada juga yang melukis tato batu, pohon, burung atau apapun mereka jumpai sebagai simbol identitas orang tersebut untuk menyelaraskan, menyuuaikan hidupnya dengan alam. Alam dijaga dan dlindungi bersama. Ketika alam dilindungi oleh manusia, alam pun akan menlindungi manusia.

Warga Desa Madobak sudah membuat tato identitas di lengan semenjak masuk usia puber, sekitar 12-13 tahun. Saat itu, orang tua akan memanggil kepala suku (sikerei dan rimata) untuk menentukan hari pembuatan tato yang sebelumnya telah dirundingkan bersama. Jika sudah disepakati, seniman tato (sipatiti) akan mulai melukis.

Tato dibuat dengan menggunakan paku dan jarum serta dua buah kayu sebagai bantalan dan palu. Sebagai pewarna dipakai tebu dan arang kelapa. Sekali dibuat, tato ini akan bertahan seumur hidup, sampai raga berubah jadi debu. Tentu prosesnya tidak mudah. Jangan bayangkan sakitnya, sakitnya karena pasti sakit sekali.

Karena itu, jangan pernah mengganggap orang yang memiliki tato sebagai preman, pengacau, nakal dan pandangan negatif lainnya. Ingat! Tato adalah identitas, kekayaan lukisan yang bisa dibawa pulang ke surga.

Warga Desa Madobak juga memiliki cara berpakaian yang unik untuk melindungi tubuh. Tak ada pandangan pornografi atau pornoaksi ketika memandang satu dengan yang lain berpaikaian minim. Jika hal itu terbesit dalam pikiran, tentu sebuah petaka bagi yang memikirkannya.

Air Terjun Kulu Kubuk (Ist)

Desa Madobak terletak di hulu sungai Siberut Selatan, berdekatan dengan Desa Ugai dan Desa Matotonan. Di desa ini terdapt air terjun yang memiliki dua tingkatan dengan tinggi sekitar 70 meter. Namanya, Air Terjun Kulu Kubuk yang terkenal dengan air yang segar. Letaknya di tengah hutan yang masih asri, sekitar tiga kilometer dari pemukiman Desa Madobak.

Mungkin Anda udah pernah ke Air Terjun Sipiso-piso di Sumatera Utara, Air Terjun Saluopa, Sungai Poso di Sulawesi Tengah, Air Terjun Maramo di Sulawesi Tengah, atau Air Terjun Madakaripra di Jawa Timur. Namun, tidak lengkah kalau belum pernah ke Air Terjun Kulu Kubuk ini.

Ketika Anda ke Desa Madobak, yang terpilih sebagai salah satu desa adat terbaik di Indonesia, Anda bisa juga menikmati pesona alam dan budaya lain di Kepulauan Mentawai. Tak perlu sibuk mencari tempat penginapan, sebab bisa menumpang di rumah penduduk setempat. Dengan demikian, bisa lebih meresakan sensai hidup mayarakat Desa Madobak yang ramah, murah hati dan selalu ceria.

Setidaknya, bisa merasakan makanan atau kuliner tradisional khas Mentawai yang ada di Desa Madobak. Jika anda sejak kecil hanya mengenal kompor gas yang dinyalakan pembantu di rumah Anda, nikmatilah asap kayu bakar yang digunakan untuk memasak berbagai kebutuhan makanan di Desa mandobak. Misalnya, ikan, daging dan telur atau lainnya.

Terpenting adalah sesuaikan dengan jadwal perjalanan mengingat transportasi dari Kota Padang ke Mentawai tidak tersedia setiap hari. Berlayar di atas Samudera Indonesia jika menggunkan kapal laut tentu menjadi pengalaman menari tersendiri. (Inno Jemabut)