Selamat Hari Anak Sedunia!

Selamat Hari Anak Sedunia!

SHNet, Jakarta – Tanggal 20 November diperingati sebagai Hari Anak Universal atau Hari Anak Sedunia. Pencanangan Hari Anak Sedunia dimaksudkan untuk mempromosikan kebersamaan sebagai masyarakat internasional terhadap perlindungan anak, meningkatkan kesadaran di kalangan anak-anak di seluruh dunia dan meningkatkan kesejahteraan anak.

20 November juga merupakan tanggal yang penting di mana pada tahun 1959 Majelis Umum PBB mengadopsi Deklarasi Hak Anak. Pada tanggal yang sama pula tahun 1989 Majelis Umum PBB mengadopsi Konvensi tentang Hak Anak. Oleh karena itu sejak tahun 1990, Hari Anak Sedunia ditandai sebagai peringatan bahwa Majelis Umum PBB mengadopsi deklarasi dan Konvensi Hak Anak.

Berbicara tentang anak, kita harus mengingat bahwa mukaddimah UUD 1945 menyebutkan, “…ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial….”

Oleh karenanya, Indonesia  telah meratifikasi Konvensi Hak-Hak Anak sejak tahun 1991 dan berkomitmen untuk mempercepat penerapan hak-hak anak. Hal ini dapat dilihat dari sejumlah peraturan dan perundang-undangan yang dikeluarkan pada tingkat lokal dan nasional seperti Undang-Undang Perlindungan Anak, Program Nasional Mengarusutamakan Hak Anak dan Rencana Aksi Nasional untuk Indonesia yang Ramah Anak.

Bagaimana situasi anak di Indonesia? Kita bisa merujuk pada laporan UNICEF tahun 2012, yang menyatakan bahwa lebih dari 50% dari 44,4 juta anak di Indonesia hidup dalam kemiskinan. Situasi kemiskinan mengakibatkan anak-anak dipaksa untuk bekerja dalam situasi yang berbahaya, menjadi korban perdagangan manusia untuk tujuan seksual.  Kita juga melihat meningkatnya jumlah kasus pelecehan seksual dan keterlibatan anak dalam bisnis narkoba

Situasi kemiskinan, berbahaya dan beresiko tersebut jelas akan menjauhkan akses anak-anak untuk mendapatkan hak-hak dasar pendidikan dan layanan kesehatan.

Rahayu Saraswati Joyohadikususmo dari Fraksi Gerindra, Komisi VIII, DPR RI menyampaikan bahwa Indonesia adalah pengguna social media terbesar di dunia. Ini menjadi catatan penting untuk perlindungan anak.

“Facebook tahun 2012 mencatat bahwa Indonesia menjadi negara nomer satu di Asean  untuk  child abuse material. Ada 70.000 child abuse material. Padahal Bangladesh sebagai negara nomer dua di dunia hanya pada kisaran 3.000. Sangat tinggi perbandingannya,” kata Sara.

Menurut Sara, yang menangani kasus pornografi di kepolisian itu ada cyber crime unit tetapi ada tantangan besar ketika jumlah kasusnya sangat banyak tetapi anggarannya minim.

“Dengan anggaran terbatas, Cyber crime unit hanya mampu menangani maksimal 10 kasus setiap tahunnya. Sehingga ini masih menjadi catatan kita bersama,” lanjutnya.

Masalah lain adalah perlakukan aparat penegak hukum dalam hal ini kepolisian dalam menangani kasus kekerasan seksual anak. Proses interogasi dan tanya jawab kepada anak sering membuat trauma dan tidak berpihak pada korban. Bukan mengusut pelaku kekerasan tetapi banyak polisi yang menganjurkan proses mediasi. Bahkan tak sedikit yang menyarankan si korban berdamai dan menikah dengan pelaku kekerasan seksual.

“Perkawinan anak masih sulit dicegah karena adanya pandangan para ulama yang membolehkan perkawinan anak.  Miris ketika saya mendengar ada tokoh ulama se-Jawa tengah yang menyatakan tidak mendukung perjuangan  menaikkan batas usia perkawinan untuk mencegah perkawinan anak,” tegas Sara.

Situasi di atas menggambarkan, bagaimana upaya perlindungan anak di Indonesia masih menjadi PR berat bagi negara. Situasi tersebut menjadi alarm bagi semua pihak, bahwa Indonesia masih berada dalam kondisi darurat perlindungan anak. Selamat Hari Anak Sedunia! (Ida)