Selamat Belajar Anak Desa Sori Tatanga

Selamat Belajar Anak Desa Sori Tatanga

Warga Desa Sori Tatanga, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat menerima bantuan LTSHE dari Pemerintah. (Foto: Kementerian ESDM)

SHNet – “Cucu amak (bapak) sudah bisa belajar kalau malam hari. Saya senang,” kata M. Jafar, Ketua RT di Desa Sori Tatanga.

Penantian sekian lama. Seakan tak ada harapan. Bahkan sempat ingin untuk meninggalkan kampung halaman. Merasa tersisihkan. Namun, sekarang semua itu pupus. Mereka meraih apa yang lama dinanti. Cahaya terang malam itu datang juga.

M. Jafar dengan wajah berbinar-binar merasa gembira. Ia senang karena desanya kini bisa terang di malam hari. Tidak berbeda dengan desa-desa lainnya yang sudah lebih dahulu dialiri listrik.

Desa Sori Tatanga, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), terletak di kaki Gunung Tambora. Semua penduduknya bermata pencaharian penduduk bercocok tanam jagung. Jagung dari Desa Sori Tatanga banyak dipasok untuk kebutuhan lokasi wisata di NTB. Sayangnya, ia tetap menjadi desa tertinggal yang belum diterangi listrik.

Selain penghasil jagung, di desa ini ada lokasi wisata yang sangat menarik: Rao atau Mada Oi Rao. Rao merupakan hulu mata air dengan panorama alam yang indah. Anda bisa membayangkan, asli dan alaminya tempat ini. Ya, karena desa Sori Tatanga masih terisolir, Mada Oi Rao tentu tak banyak yang kenal. Pengunjung lebih banyak warga lokal.

Rao adalah sumber air yang mengalir deras sela-sela akar pohon Waru dan Wako. Pohon-pohon Waru dan Wako itu tumbuh rindang melebar, membentuk liukan seperti kursi alam untuk tempat duduk para pengunjung sambil memandang jernihnya air yang mengalir. Airnya segar, dingin. Padahal mata air ini hanya beberapa ratus meter dari bibir pantai.

Pekan ini, pemerintah wujudkan kebutuhan listrik warga Desa Sori Tatanga. Jika sebelumnya desa itu gelap gulita, kini aktivitas malam hari mulai berdenyut. Anak-anak bisa belajar malam memanfaatkan penerangan yang ada.

Seperti M Jafar, Hana, siswi kelas VI SD sangat senang rumahnya kini terang benderang di malam hari. “Sekarang saya bisa belajar malam kak, bisa sampai jam 10 malam, senang kak, lampunya juga terang,” kata Nana.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meluncurkan program Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) untuk periode 2017-2018 yang diperuntukan untuk 2.519 desa yang belum berlistrik atau desa gelap gulita. Di Provinsi NTB, jumlah LTSHE yang akan diberikan sebanyak 863 unit. Desa Sori Tatanga menjadi salah satu desa yang mendapatkan LTSHE sebanyak 110 unit yang terbagi atas dua dusun yaitu Mada Oi (40 unit) dan Bukit Sari (70 unit).

“Pembagian dan pemasangan LTSHE memang diperuntukan untuk daerah daerah yang tidak ada jaringan ketenagalistrikan, minimal masyarakat merasakan terang bisa untuk belajar malam” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama, Dadan Kusdiana.

Foto: Kementerian ESDM

Kepala Desa Sori Tatanga, M. Tahir Manan, mengungkapkan rasa terima kasih tak terhingga atas perhatian pemerintah terhadap desanya. Ia tak menyangka desa yang hendak ditinggal sebagian warganya mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Ia bercerita, kegalapan di malam hari mengakibatkan sebagian warga memilih pindah ke tempat lain.

Namun, sekarang ia berharap warga yang meninggalkan kampung bisa kembali. “Sekarang warga sangat senang, dan mau kembali ke sini. Semoga yang sudah pergi mau kembali,” katanya.

Secara umum, saat ini ada 256.114 rumah yang masih gelap gulita di malam hari. Menurut Menteri ESDM, Ignasius Jonan, LTSHE sangat cocok untuk rumah pedesaan yang secara geografis dan distrubusi penduduknya tersebar serta sulit dijangkau jaringan PLN. Pada tahun 2017, LTSHE dipasang di 5 provinsi dan diharapkan dapat melistriki 80.332 rumah. Sedangkan pada tahun 2018, pemasangan LTSHE direncanakan untuk 15 provinsi dan dapat melistriki 175.782 rumah. (IJ)