Sanggar Akar Ingin “Sustain” melalui “Social Enterprise”

Sanggar Akar Ingin “Sustain” melalui “Social Enterprise”

Direktur Eksekutif Yayasan Anak Akar Indonesia (YAAI), Susilo Adinegoro.

SHNet, Jakarta – Memasuki usia ke-23 tahun, Yayasan Anak Akar Indonesia (YAAI) kian matang dalam berkiprah. Pada perayaan hari ulang tahunnya, Rabu (22/11), organisasi sosial di bidang pendidikan bagi kaum marginal ini, melahirkan dua institusi baru sekaligus, yakni Sanggar Akar Institute (SAI) dan Sinema Sang Akar.

Direktur Eksekutif YAAI Susilo Adinegoro menjelaskan, kedua institusi baru tersebut sebenarnya saling berkaitan. Menurut Susilo, Sinema Sang Akar merupakan bagian integral dari proses pembelajaran di SAI. Ia menekankan, keberadaan Sinema Sang Akar bukan sekadar penunjang SAI, melainkan merupakan bagian dari prinsip kewirausahaan sosial (social enterprise) yang coba dikembangkan untuk keberlanjutan YAAI.

“Jadi, Sinema Sang Akar Ini bukan hanya penunjang SAI. Karena kalau dikaitkan dengan social enterprise, bisnis sosial, ini juga harus sustain dan juga menghasilkan,” kata Susilo di dalam ruang Sinema Sang Akar, sesaat sebelum berlangsung acara Pemotongan Tumpeng Perayaan Ulang Tahun YAAI Ke-23 oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid, Rabu malam.

Bukan Sekadar Keuntungan Finansial
Susilo Adinegoro yang populer dengan nama Pakde Sus ini menjelaskan, “menghasilkan” yang dia maksud dari konteks social enterprise (wirausaha sosial) bukan berarti sekadar menghasilkan keuntungan finansial. Menurutnya, bentuk keuntungan lain yang penting dalam sebuah wirausaha sosial adalah bertambah luasnya jejaring sosial yang tercipta (social networking).

“Jadi, social enterprise yang menghasilkan, yang kami maksud itu bukan hanya berupa keuntungan finansial. Karena keberadaan kawan-kawan di sini dan kemudian mengadakan diskusi dan segala macam kegiatan, itu akan memperluas jejaring sosial kami,” kata Pakde Sus.

Ia menjeskan bahwa jaringan (networking) merupakan modal yang penting untuk keberlanjutan YAAI. Keberadaan SAI dan Sinema Sang Akar, menurut Pakde Sus dapat memfasilitasi terjaganya keberlanjutan modal sosial tersebut.

“Ini kan akan memperluas jaringan. Itu modal juga, social capital. Social capital itu yang begitu pentingnya saat ini, tapi selama ini belum terfasilitasi,” kata Pakde Sus.

Direktur Eksekutif YAAI Susilo Adinegoro bersama Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid di dalam Sinema Sang Akar, Tebet, Jakarta, Rabu (22/11).

Ia menjelaskan bahwa yang ditawarkan sebuah wirausaha sosial adalah benefit berupa nilai-nilai. Oleh karena itu, YAAI menurut Pakde Sus pun menawarkan nilai-nilai tersebut.

“Yang kami tawarkan kan value, nilai-nilai. Jadi, kalau di sini sama dengan yang lainnya, terus yang ditekankan hanya soal sewa-menyewa gedung bioskop, yo rampung. Pemikiran seperti itu menurut kami terlalu sempit. Artinya, visi kami bukan seperti itu,” tutur Pakde Sus.

Menurutnya, gedung bioskop idealnya bukan sekadar media hiburan, melainkan juga tempat untuk transfer pengetahuan. Sekarang ini yang terjadi, dari segi kualitas fungsi gedung bioskop sebagai tempat hiburan pun sudah berkurang. Selain itu, menurut Pakde Sus, jumlah film yang kian banyak juga belum diakomodasi oleh keberadaan bioskop komersial.

“Sekarang ini banyak anak muda yang memiliki karya film, tapi belum memiliki tempat (untuk menonton dan mendiskusikan film-film mereka, red),” kata Pakde Sus.

Forum Film Remaja Jakarta
Pengurus SAI Tomy Taslim menyebutkan, SAI beberapa waktu terakhir telah membuat acara pemutaran film berkala. Setelah menyaksikan film, para penonton kemudian mengapresiasi film tersebut dan mendiskusikannya. Pegiat komunitas film ini menyebutkan, target SAI yang terutama adalah anak muda. Untuk itu, dirinya bersama SAI menginisiasi lahirnya sebuah forum film untuk kalangan remaja, yakni Forum Film Remaja Jakarta.

“Forum sudah terbentuk. Forum ini mengadakan pemutaran film, yang diikuti kegiatan mengapresiasi dan berdiskusi, sebulan dua kali,” kata Tomy.

Menurut Pakde Sus, Forum Film Remaja Jakarta umumnya memutar film karya anak-anak sekolah menengah kejuruan (SMK).

“Yang bikin film-nya anak-anak SMK, lalu dilanjutkan apresiasi dan diskusi,” kata Pakde Sus.

Sang Akar Enterprise
Ia menyebutkan, selain Sinema Sang Akar, YAAI juga berusaha membangun basis ekonomi berupa beberapa usaha yang tergabung dalam Sang Akar Enterprise. Unit usaha Sang Akar Enterprise antara lain berupa Sang Akar Production, Sang Akar Food and Beverage, dan Studio Kopi Sang Akar.

“Usaha-usaha ekonomi ini sedang kami konsolidasi, mana yang kemudian bisa menjadi usaha bersama, yaitu koperasi. Kami rencanakan, nantinya koperasi tersebut bernama Koperasi Sang Akar Indonesia,” ujar Pakde Sus. (whm)