Rahasia Pertempuran Surabaya Nasionalisme Dan Patriotisme

Dr. Ruslan Abdulgani

Rahasia Pertempuran Surabaya Nasionalisme Dan Patriotisme

Jakarta, 10 November 1973 – Menjawab pertanyaan Drs. Sumadi dalam “Mimbar Kita” TVRI Jum’at malam menyongsong peringatan ke-28 Hari Pahlawan, Brigjen TNI Drs. Nugroho Notosusanto – Kepala Pusat Sejarah ABRI menyatakan bahwa tugas generasi sekarang adalah menebus kekalahan generasi sebelumnya, sekalipun kekalahan itu bukan salah mereka, tetapi karena keterbelakangan keadaan nenek moyang kita waktu itu.
Dalam wawancara bersama Menteri Sosial Mintaredja SH selaku Ketua Badan Pembina pahlawan Pusat dengan Dr. Ruslan Abdulgani sebagai tokoh yang ikut dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, Nugroho tambahkan bahwa tugas generasi sekarang adalah memodernkan masyarakat yang tidak dimiliki generasi terdahulu sewaktu memperjuangkan kemerdekaan itu.

Dari generasi sekarang tidak dituntut supaya mereka bersedia ditusuk dengan boyonet dan ditembaki dengan tank. Keadaan perjuangan sekarang sudah berbeda. Tugas mereka justru mengisi dan memenangkan hasil perjuangan yang dilancarkan generasi sebelumnya dengan memodernkan masyarakat, kata Nugroho.

Mintaredja SH
Sementara itu Menteri Sosial Mintaredja SH menekankan bahwa memperingati hari bersejarah dimaksudkan agar generasi muda dapat lebih menghayati tugas yang harus dijalankannya dan supaya jangan menyimpang.

Peringatan Hari Pahlawan sangat penting, peringatan itu sama saja dengan peringatan hari suci keagamaan dengan maksud supaya ingat kembali bukan saja terhadap Nabinya, tetapi juga kepada Qur’an, Bibel bagi umat Kristen Protestan dan Khatolik dan lain-lainnya.

Sedang mengenai pengertian pahlawan dikatakan adalah ia atau mereka warganegara RI yang gugur/tewas dan atau meninggal dunia karena kepahlawanannya yang cukup mempunyai mutu dan nilai jasa perjuangan untuk negara dan bangsa.

Dr. Ruslan Abdulgani
Dalam pada itu, Dr. Ruslan Abdulgani telah menuturkan kembali pengalamannya yang sangat berharga pada saat pertempuran Surabaya. Menurut dia, arti pertempuran Surabaya itu baru beberapa tahun kemudian dinilai sebagai sangat besar pengaruhnya.

Saat peristiwa, tidak terpikirkan oleh kita, pengaruhnya tidak hanya terhadap keyakinan pejuang lainnya di dalam negeri, tetapi juga terhadap pengakuan luar negeri.

Atas pertanyaan Drs. Sumadi apakah rahasia pertempuran Surabaya, Drs. Ruslan Abdulgani menjawab : “Nasionalisme dan patriotisme. Itulah rahasianya dan itu itu tidak dibuat-buat. Semangat itu meletus dari tantangan jaman yang sudah mendewasa. Oleh karena itulah apa yang disebut semangtat 45 itu tidak bisa dibuat-buat”.

Sebagaimana dengan setiap generasi, dia lahir sesuai dengan gentingnya suasana dan tantangan yang dihadapkan kepadanya. Sedang perjuangan generasi sekarang berbeda dengan dulu. Karena situasinya berbeda. Tantangan yang dihadapipun berbeda yang penting sekarang bagaimana generasi muda itu menghadapi dan memenangkan tantangan tersebut, kata Ruslan Abdulgani mengakhiri keterangannya. (SH)