Potong Tumpeng Tandai Lahirnya “Sang Akar Institute”

Potong Tumpeng Tandai Lahirnya “Sang Akar Institute”

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid memotong tumpeng pada Ulang Tahun Ke-23 YAAI, Rabu (22/11), sekaligus meluncurkan Sang Akar Institute (SAI) dan Sinema Sang Akar.

SHNet, Jakarta – Sanggar Anak Akar merayakan ulang tahunnya yang ke-23 pada hari ini, Rabu (22/11). Hal istimewa pada perayaan ulang tahun kali ini adalah peluncuran dua karya monumental yayasan ini, yakni Sang Akar Institute (SAI) dan Sinema Sang Akar. “Kelahiran” kedua karya ini selain dirayakan oleh para pegiat, jaringan, dan simpatisan Sanggar Anak Akar, juga ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid.

Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa hormatnya atas pencapaian Sanggar Anak Akar hingga saat ini. Ia mengatakan Kementerian tempatnya berkiprah saat ini, membutuhkan masukan berupa pengalaman-pengalaman konkret seperti yang dialami Sanggar Anak Akar. Menurut Hilmar, selama ini telah banyak diskusi, namun yang sangat diperlukan institusinya sekarang ini menurutnya adalah pengalaman konkret.

“Kami sekarang ini, di Kementerian, perlu sekali pengalaman-pengalaman konkret yang dapat menjadi basis bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” tuturnya saat memberikan kata sambutan.

Hilmar mengatakan, terkait perlunya pemindahan lokasi, dirinya mengimbau Sanggar Anak Akar agar segera mempresentasikan persoalan tersebut kepada Kemendikbud. Pada akhir kata sambutannya Hilmar berpesan agar Sanggar Anak Akar seperti namanya tetap dapat mengakar dan senantiasa kembali ke akar.

Orientasi Kawula Muda
Rektor SAI, Ibe Karyanto menuturkan, di usia yang sudah 23 tahun, Sanggar Anak Akar kini mulai memasuki “wilayah” remaja dan kawula muda.

“Kalau dulu kami masih berorientasi pada gerakan lewat pendidikan anak, sekarang ini kami meningkat. Yang kami masuki sekarang adalah wilayah remaja dan kawula muda,” kata Wak Karyo.

Untuk itu, Sanggar Anak Akar menurutnya kini memberanikan diri mendirikan lagi sebuah institusi pendidikan kreatif, yakni SAI. Menurut Ibe yang juga akrab disapa dengan panggilan Wak Karyo ini, SAI merupakan sebuah lembaga pendidikan alternatif untuk kaum muda. SAI bergerak di bidang pelatihan, riset, dan pendidikan kritis dengan menggunakan media film, fotografi, musik, dan penulisan kreatif.

“Karena basis kami adalah kreativitas dan kemanusiaan,” kata Wak Karyo.

Filosofi Akar
Wak Karyo dalam sambutannya mengatakan, karya apa pun yang dilakukan, SAI ingin tetap rendah hati sesuai filosofi akar.

“Jadi kami ingin, setinggi apa pun, sebesar apa pun, seluas apa pun yang kami lakukan, kami tetap ingin di bawah, kami tetap ingin tidak kelihatan, kami tetap ingin menjadi rendah hati. Tapi kami ingin yang kami lakukan itu dapat menentukan perubahan kehidupan di atasnya. Itu kurang lebih filosofi akar,” kata Wak Karyo.

Direktur Eksekutif YAAI Susilo Adinegoro memberikan sambutan pada Ulang Tahun Ke-23 YAAI, di Studio Akar, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (22/11).

Direktur Eksekutif Yayasan Anak Akar Indonesia (YAAI) Susilo Adinegoro dalam sambutannya mengatakan, gagasan pembentukan SAI muncul sejak tahun 2015 ketika ada focus group discussion (FGD). Pada tahun 2016, YAAI mencoba mengkristalkan gagasan tersebut. Dan setahun kemudian, pada tahun ini, menurut aktivis yang populer dengan panggilan Pakde Sus ini, ada dua orang kawan yang berani berjibaku untuk mewujudkan SAI.

“Pada 2017 kami mendapat kawan yang berani berjibaku untuk mewujudkan SAI ini. Ada Mas Tomy Taslim dan Qory. Dua orang ini yang sekarang menggawangi untuk menjalankan program percepatan terwujudnya model pendidikan–keinginan kami adalah, setingkat perguruan tinggi-lah,” tutur Pakde Sus. (whm)