Persetujuan Batas RI – Papua Nugini

Ditandatangani Di Port Moresby

Persetujuan Batas RI – Papua Nugini

Anasir Yang Pernah Anti RI Banyak Ingin Kembali

Jakarta, 14 November 1973 – Menlu Adam Malik mengatakan hari Selasa di Port Moresby, bahwa persetujuan yang mengatur perbatasan Indonesia dan Papua Nugini mencerminkan kehendak kedua negara untuk membina persahabatan atas dasar kepercayaan yang kokoh.

Adam Malik yang mengatakannya dalam konferensi pers setelah penandatanganan persetujuan, bahwa persetujuan itu akan mencegah setiap perpecahan atau salah pengertian antara kedua negara. Adam Malik menyebut persetujuan perbatasan antara Irian jaya dan Papua Nugini itu mempunyai “arti sejarah”.

Ia menegaskan, di masa mendatang akan meliputi persetujuan dagang dan kebudayaan, namun hal ini tergantung pada perkembangan nanti.

Ketua Menteri Papua Nugini Michael Somare menegaskan, bahwa Papua Nugini dan Indonesia akan memasuki persetujuan yang lebih banyak lagi di masa datang.

Pengelompokan
Dalam konferensi pers itu Adam Malik menandaskan, bahwa pengelompokan regional antara Indonesia, Papua Nugini, Australia dan Selandia Baru akan menguntungkan semua negara yang bersangkutan.

“Saya ingin mengatakan, bahwa tiada pembicaraan resmi mengenai hal ini diadakan tetapi dalam pembicaraan dengan PM Selandia Baru Norman Kirk dan Menlu Australia Willesee saya mengemukakan menurut pandangan saya dan mengingat perkembangan dunia dewasa ini, suatu kerja sama regional semacam ini akan memberikan kita suatu cara yang sangat langsung menguntungkan negara bersangkutan”.

Ingin kembali
Ditanya mengenai “Papua Merdeka”, Adam Malik menegaskan bahwa banyak kelompok yang pernah memiliki rasa anti Indonesia, kini banyak yang ingin kembali.

“Sepanjang menyangkut gerakan “Papua Merdeka” ini, pemerintah Indonesia menyesalkan kenyataannya, bahwa orang-orang ini masih tidak mengerti mengenai situasi yang sebenarnya dan mengenai perkembangan baru di Indonesia”.

Pemerintah Indonesia menginginkan mereka kembali, karena kita semua melibatkan diri secara serius dalam perkembangan Irian Jaya untuk mengejar ketinggalannya dari provinsi lainnya dalam arti pembangunan ekonomi.

Saya dapat mengatakan, bahwa akhir-akhir ini anasir lainnya di lain daerah Indonesia yang membenami rasa anti Indonesia di masa lampau dan yang menetap di negeri Belanda, kini semuanya ingin kembali ke Indonesia dan kami menemukan cara yang terbaik untuk menyalurkan kembali ke dalam masyarakat Indonesia.

“Saya dapat juga tambahkan, bahwa dalam perundingan saya dengan Menlu RRC masalah semacam ini juga diketengahkan dengan adanya orang-orang Indonesia yang tinggal di RRC dan yang anti Indonesia di masa yang lalu, kini ingin kembali”.

Saya katakan kepadanya, bahwa mereka disambut baik selama mereka dapat menyesuaikan dirinya dan dapat berlaku sebagai warga yang bertanggung jawab dalam masyarakat Indonesia, demiian Menlu Adam Malik menegaskan.

Adam Malik lebih lanjut mengatakan, bahwa gerakan “Papua Merdeka” tidak berarti bila dibandingkan dengan tugas pembangunan provinsi Irian Jaya. (SH/Ant)