Penyanderaan Di Mimika Papua Adalah Modus Baru

Penyanderaan Di Mimika Papua Adalah Modus Baru

SHNet, Jakarta –  Polri perlu segera menjelaskan nasib ratusan warga yang disandera Kelompok Kriminal Bersenjata di Mimika Papua. Sebab mereka sudah seminggu disandera. Selain itu Polri perlu mengerahkan Brimob dan Densus 88 serta meminta bantuan TNI untuk membebaskan penyanderaan itu.

Ind Police Watch (IPW)  melalui Ketuanya Neta s Pane, memahami medan yang berat menjadi kendala untuk mengatasi kasus ini dengan cepat. Namun dengan operasi intelijen, Polri diharapkan bisa mengetahui nasib warga yang disandera untuk kemudian diumumkan ke publik. Meski penyanderaan ini sudah hampir seminggu, IPW berkeyakinan Polri mampu menyelesaikan kasus ini dan segera melakukan operasi pembebasan dengan cepat.

Aksi penyanderaan di Mimika menunjukkan Gerakan Kelompok Kriminal Bersenjata di Papua makin agresif saja. Aksi kelompok ini yg menyandera ratusan warga di dekat lokasi tambang emas Freeport ini tentunya tak bisa dibiarkan berlama lama. Pemerintah hrs segera meminta Polri bertindak tegas. Sebab tdk seorang pun warga negara Indonesia boleh disandera, baik oleh saudara sebangsanya maupun oleh orang lain. Untuk itu Polri hrs membebaskan korban penyaderaan dan segera menangkap pelakunya. Tindakan penyanderaan ini tdk boleh terjadi dan tdk boleh dibiarkan berlama lama karena nantinya dikhawatirkan akan menjadi preseden yg berulang.

IPW melihat aksi penyanderaan di Mimika ini sebagai modus baru dalam konflik Papua yg selama ini dimotori oleh kelompok2 yg menamakan dirinya sbg Organisasi Papua Merdeka (OPM). Sepertinya ada strategi baru dari OPM. Sebab dari penelusuran IPW, terlihat adanya perubahan strategi, yakni dari OPM menjadi Papua Barat Merdeka. Kini markas Papua Barat Merdeka berada di Fiji, negeri kecil di Samudera Pasifik. Markasnya berada di ibukota Suva dan sangat refresentatif. Rupanya, OPM ini sudah memindahkan markasnya dari Australia ke Fiji dan berganti nama dengan Papua Barat Merdeka. Mereka tidak lagi menyebut dirinya sebagai OPM tapi sebagai Papua Barat Merdeka. Sepertinya pergeseran markas dan perubahan organisasi ini berkaitan dengan pergeseran strategi mereka. Bisa jadi penyanderaan terhadap begitu banyak warga yang mereka lakukan pekan lalu di Mimika adalah bagian dari strategi baru mereka.

Selama ini OPM tidak pernah melakukan penyanderaan warga, apalagi dengan begitu banyak jumlah warga yang disandera. Agaknya pemerintah perlu mengantisipasi manuver baru kelompok kriminal bersenjata di Papua ini, apalagi setelah mereka membuka markasnya di Fiji dan melakukan penyanderaan terhadap warga Mimika. Sayangnya hingga kini belum ada reaksi tegas dari pemerintah terhadap penyanderaan ini. IPW berharap pemerintah setidaknya bisa menjelaskan nasib warga yang disandera, apakah masih hidup atau ada yang sudah terbunuh. (MH)