Pendidikan Di Indonesia Banyak Dipolitikkan

PD Rektor UI Prof. Dr. Slamet Imam Santoso

Pendidikan Di Indonesia Banyak Dipolitikkan

Jakarta, 14 November 1968 – Prof. Dr. Slamet Imam Santoso Pd. Rektor Universitas Indonesia dalam ceramahnya yang berjudul “Pendidikan syarat mutlak untuk pembangunan” pada ceramah pendidikan yang dadakan dalam Pekan Pendidikan Pemerintah DKI Jakarta Kamis pagi menandaskan bahwa dunia berkembang bukan oleh politik tetapi oleh ilmu pengetahuan (science). Bahkan perkembangan politik lebih banyak ditentukan oleh perkembangan ilmu pengetahuan.

Berbicara mengenai hubungan politik dan pendidikan Prof. Slamet mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia ini banyak diperpolitisir sehingga didalam rapat raksasa diikut sertakan anak sekolah. Tetapi sebaliknya rapat raksasa pendidikan belum pernah satu kalipun diadakan.

Pendidkan itu adalah keseluruhan kehidupan oleh karena itu ahli ekonomi, industri pertanian dan lain-lain bidang harus ikut serta dalam menentukan policy pendidikan.

Menyinggung mengenai usaha pendidikan di Indonesia Prof. Slamet menyatakan bahwa usaha pendidikan di Indonesia terlambat karena tidak adanya definisi yang jelas dan tidak adanya keseragaman.

Lebih jauh Prof. Slamet agar definisi pendidikan sekurang-kurangnya harus berisi pendidikan bakat dari manusia atau bangsa Indonesia sampai level yang setinggi-tingginya yang dapat dicapai manusia itu. Definisi ini menurut Prof. Slamet akan menghasilkan kemampuan untuk berbuat sesuatu.

Einheits-schule
Drs. A.S. Broto dari IKIP Jakarta dalam ceramahnya yang bertemakan “Einheits Schule” membahas baik buruknya antara sistem “einheitschule” dan gagasan yang membagi sekolah umum menjadi beberapa jurusan dan menganjurkan agar pendidikan dasar yang meliputi SLP, SLA, SPG, SMEP, SMEA, STM, SKP ditujukan kepada comprehensive school.

Kita tidak perlu menjiplak betul cara Junior High School di Amerika Serikat akan tetapi mana yang sesuai dengan iklim kita kira-kiranya dapat kita pakai juga, demikian Drs. A.S. Broto dalam prasarannya.

Drs. A.S. Broto mengemukakan hal ini setelah melihat keburukan dari sistem pembagian menjadi ABC dan sistem pembagian menjadi 4 bagian Pas Pal, Eksos dan Budaya.

Drs. Broto, menganjurkan sistem Taman Kanak-Kanak s/d SLA yang mempunyai satu bentuk saja yaitu “Einheits scule” yang waktunya dapat dipotong sebagai berikut : 2 tahun TK, 6 tahun SD, 3 tahun SMA dengan menambahkan pendidikan kejuruan dalam bentuk kursus dan latihan yang dapat dipilih secara bebas dalam waktu satu tahun pada tahun terakhir pada tiap-tiap jenis sekolah. (Ant)