MP Djuanda Wafat

Akibat Serangan Jantung Mendadak

MP Djuanda Wafat

Dikebumikan Di Taman Pahlawan Dengan Upacara Kebesaran

Jakarta, 7 November 1963 – Menteri Pertama Republik Indonesia Haji Ir. Djuanda Kartawidjaya satu jam lewat tengah malam Rabu mendadak meninggal dunia akibat serangan jantung.

Almarhum Rabu malam jam 20:00 masih menghadiri upacara penyematan atribut pengayoman kepada Presiden Soekarno di Istana Negara.

Serangan jantung yang merenggut nyawa Menteri Pertama itu terjadi tatkala pembesar negera itu bersama para Wampa dan Mentari Kabinet menghadiri peresmian ruang makan yang baru ditingkat teratas sayap timur Hotel Indonesia.

Menurut pengumuman resmi dari Menteri Pejabat Sekretaris Negara, Abdul Wahab Soerjoadiningrat SH, jenazah almarhum MP Djuanda dikebumikan pada hari Kamis 7 November di Taman Makam Pahlawan, Jakarta dengan upacara militer.

Sebagai inspektur upacara pada pemakaman dengan kebesaran negara di Taman Pahlawan itu bertindak Presiden Soekarno sendiri.
Jenazah dibaringkan dirumah kediaman resmi, Jalan Merdeka Selatan 6, untuk penghormatan terakhir.

Jam delapan pagi jenazah dimandikan setelah kedatangan puteranya dari Bandung, jam 11:00 diadakan upacara penyembahyangan secra Islam oleh Menteri Agama K.H. Sjaifuddin Zuchri. Bertindak selaku Inspektur Upacara dikediaman resmi Jalan Merdeka Selatan itu Wampa Kepala Staf Angkatan Bersenjata Jenderal Abdul Haris Nasution.

Barisan Pengawal iring-iringan menuju Kalibata dipimpin langsung oleh Panglima Jaya Brigjen Umar Wirahadikusumah.
Untuk menghormati jasa almarhum Menteri Pertama Djuanda itu bendera kebangsaan Merah Putih dikibarkan setengah tiang disemua gedung negara dan rumah penduduk diseluruh wilayah Republik Indonesia selama tujuh hari terhitung mulai tanggal 7 November.

Dukacita merata
wafatnya Menteri Pertama Djuanda telah mencemplungkan ibukota yang terhias meriah bersiap-siap menyambut Ganefo, kedalam suasana berkabung. Dwi-warna berkibar setengah tiang dikantor pemerintahan ditengah-tengah deretan puluhan bendera peserta Ganefo yang beraneka warna.

Almarhum Djuanda besama dengan Dr. ohanes Leimena termasuk tokoh yang paling sering menduduki jabatan Menteri dalam berbagai kabinet. Selama 18 tahun penggantian kabinet hingga sekarang almarhum 13 kali terpilih sebagai anggota.

Terakhir pada Kabinet Kerja menjabat sebagai Menteri Pertama, sebelumnya dalam Kabinet Karya (1957-1959) menjadi Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan.
Almarhum Menteri Pertama lahir di Tasikmalaya tanggal 10 Juli 1911, dan lulus sebagai Insinyur pada Technische Hoge School Bandung yang ditempuh olehnya sesudah Presiden Soekarno.

Jabatan almarhum
Beliau pernah menjabat Direktur Sekolah Menengah “Muhammadiyah” di Jakarta dan kemudian bekerja pada Jawatan Irigasi Jawa Barat. Setelah Proklamasi kemerdekaan Indonesia sejak bulan Maret berturut-turut menjabat :

Menteri Muda Perhubungan, kemudian Menteri Perhubungan dalam Kabinet Sjahrir ke-II dan ke-III, Menteri Perhubungan dalam kabinet Amir Sjarifuddin dan Menteri Perhubungan merangkap Menteri Pekerjaan Umum adalah ialah dalam Kabinet Presidentiil Hatta.

Dalam konferensi Meja Bundar di Nederland ia bertindak selaku Ketua Komisi untuk soal keuangan dan perekonomian. Pada Kabinet Hatta jaman RIS menduduki Menteri Kemakmuran. Setelah terwujud kembali negara kesatuan RI, berturut-turut menjadi Menteri Perhubungan dalam Kabinet Natsir, Kabinet Sukirman Suwirjo dan dalam Kabinet Wilopo-Prawoto.

Ir. Djuanda selam tidak ikut dalam kabinet menjabat Kepala Biro Perangcang Negara yang telah meletakkan dasar pembangunan berencana Republik Indonesia. Salah satu proyek terbesar daripada Biro itu ialah proyek Djuanda di Jatiluhur yang multi-purpose. (SH)