Manuver Politik Gatot Nurmantyo Perburuk Citra TNI

Manuver Politik Gatot Nurmantyo Perburuk Citra TNI

Panglima TNI, Gatot Nurmantyo (Ist)

SHNet, PONTIANAK – Pengamat politik, Tobias Ranggie, menilai manuver politik bersifat ahistoris Panglima Tentara Nasional Indinesia (TNI) Panglima TNI Gatot Nurmantyo akhir-akhir ini telah diperburuk citra kelembagaan TNI.

“Karena akan berupaya menggiring TNI kembali ke kancah politik praktis sebagaimana terjadi di era Pemerintahan Presiden Soeharto, 1 Juli 1966 – 21 Mei 1998,” kata Tobias Ranggie di Pontianak, Rabu (15/11)..

Menurut Tobias, Presiden Joko Widodo, harus mencari figur perwira tinggi militer yang netral untuk menggantikan posisi Gatot yang memasuki pensiun 1 Maret 2018 mendatang.

Figur pengganti Gatot harus berasal dari figur yang reformis sesuai ketentuan perundang undangan tentang TNI yang profesional dan tunduk kepada pemerintahan sipil.

Diungkapkan Tobias, ada langkah fatal ditempuh Gatot dengan memaksakan TNI nonton Film Dokumenter G30S/PKI karya sutradara Arifin C Noor, 1984 menjelang akhir September 2017.

Padahal film tersebut sudah tidak relevan lagi sehubungan keluarnya dokumen Central Intelligence Agency (CIA) bahwa Gerakan 30 September 1965 disetting Amerika Serikat dalam rangka menumbangkan kepemimpinan Presiden Soekarno.

Di samping itu, Gatot kecam Polri karena tersangkakan kelompok radikal yang akan lakukan upaya makar terhadap Presiden Joko Widodo.

Kemudian mendiskreditkan Badan Intelijen Negara (BIN) hanya lantaran dijabat perwira Polri, yakni Jenderal Pol Budi Gunawan.

Terakhir mengancam institusi lain karena impor senjata dari luar. Padahal ini bisa dibahas di lingkungan internal, tapi diungkap ke luar karena patut diduga punya agenda politik sendiri menghadapi Pemilu Presiden 2019 mendatang.

“Manuver Gatot membuat masyarakat muak dan terakhir ia ditolak masuk Amerika Serikat. Panglima TNI pengganti Gatot harus pulihkan citra TNI yang terpuruk di era Gatot,” ujar Tobias. (Aju)