Manisnya Jagung Kuning Desa Tallu Bamba

Manisnya Jagung Kuning Desa Tallu Bamba

Kebun Jagung (Foto: Istimewa)

SHNet – Daerah penghasil jagung di Sulawesi? Anda mungkin langsung menghubungkannya dengan Provinsi Gorontalo. Provinsi pemekaran Sulawesi Utara ini memang terkenal sebagai daerah penghasil jagung, terutama saat politikus Partai Golkar, Fadel Muhammad menjabat sebagai gubernur.

Namun, desa ini terletak di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Desa Tallu Bamba. Ia berada di antara liukan bukit-bukit Kabupaten Enrekang. Tanahnya subur, tetapi masih tertinggal.

Beberapa waktu lalu, aksi Windi Sri Wiguna dan Ajeng Sri Kartini,membuat desa tersebut cukup dikenal. Dua anak sekolah dari desa ini menyita perhatian Presiden Joko Widodo (Jokowi). Keduanya membuat video meminta disambungkan aliran listrik ke desa itu karena mereka kesulitan untuk belajar di malam hari.

Aksi mereka membuahkan hasil. PT. PLN (Perusahaan Listrik Negara) bergerak cepat. Listrik masuk ke kampung halaman Windi dan Ajeng. Bahkan warga desa Tallu Bamba bersedia menggotong tiang listrik hingga sejauh dua kilometer dengan suka cita. Warga desa mengapresiasi inisiatif dan kecerdasan keduanya. Dianggap pahlawan desa. Luar biasa.

Jagung Kuning (Ist)

Desa Tallu Bamba punya potensi pertanian yang sangat memukau. Tahukan Anda kalau desa yang subur itu adalah daerah penghasil jagung terbesar di bekas Kerajaan Malepong Bulan? Jagung yang dihasilkan bukan sembarang jagung, tetapi jagung kuning yang manis tak tersaingi. Sekali Anda mecicipi, rasa manis jagung kuning Tallu Bamba tak bakal hilang.

Ingat bahwa semanis-manisnya jagung, lebih sehat mengkonsumsi jagung dibandingkan beras. Para penderita diabetes disarankan mengurangi konsumsi nasi, sebaliknya mengkonsumsi jagung yang lebih awet menahan lapar berkalori sehat.

Di Tallu Bamba, lebih dari 90 persen warganya yang kira-kira berjumlah lebih dari 3.000 orang berprofesi sebagai petani jagung. Bertani adalah menanam jagung. Menanam lainnya untuk kemplementer. Tidak banyak yang menanam padi sebab sebagian besar daerah Sulawesi Selatan adalah penghasil padi.

Dengan cara tanam biasa-biasa saja, belum tersentuh pengaruh teknologi, dalam setahun desa tersebut memproduksi sekitar 5.000 ton jagung kuning. Itulah kemahakuasaan Tuhan, Allah pemilik jagad raya. Dengan segala keterbatasan mereka bisa mendapat hasil yang luar biasa.

Nah, jika petani di desa ini dibina dengan cara kerja pertanian modern, entah berapa ton jagung kuning yang mereka bisa hasilkan setahun.

Setidaknya, Desa Tallu Bamba sudah menguasai 17 persen dari total penghasilan jagung Kabupaten Enrekang. Jika harga jagung kering per kilogram sebesar Rp 4.000, Desa Tallu Bamba memperoleh hasil Rp 20 miliar dalam setahun. Jumlah uang itu bukanlah kecil bagi sekitar sekitar 600 kepala keluarga yang ada di dalamnya.

Sekarang dengan akses transportasi dan pasokan listrik yang mulai membaik, warga Desa Tallu Bamba berharap bisa menghasilkan jagung dengan kualitas yang lebih baik. Anak sekolah bisa sekolah dengan lebih tenang.

Kepala Desa Tallu Bamba, Mu’min berharap warganya lebih kreatif dan giat lagi, tidak hanya mengandalkan hasil jagung. Jagung tetap menjadi andalan utama warga. Namun, tetap dipikirkan sumber penghasilan lain jika suatu waktu harga jagung tiba-tiba melorot. Ada sejumlah tanaman lain yang cocok ditanam juga di Tallu Bamba, yakni cabe dan lada.

Lokasi, proses menanam, memanen jagung juga masih bisa dikapitalisasi menjadi obyek wisata. Di Boyolali, Jawa Tengah saja punya menara jagung setinggi 15 meter dengan diameter tiga meter. Jadi obyek wisata yang menarik karena menara jagung dibuat dari susunan tumpukan jagung benaran. Mereka berhasil mengalahkan rekor menara jagung yang dulunya dipegang oleh Gorontalo, setinggi 10 meter dan diameter 2,5 meter.

Bisa juga memanfaatkan pohon, tongkol jagung untuk kebutuhan lain. Nah, kreasi seperti itu dikembangkan di Tallu Bamba. Ayoo…. warga Desa Tallu Bamba, lebih semagat lagi. (Inno Jemabut)