Malam Dana Mendukung Karya Penyintas dalam Rangka 16 HAKTP

Malam Dana Mendukung Karya Penyintas dalam Rangka 16 HAKTP

SHNet, Jakarta – Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) adalah kampanye global untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Kegiatan ini berlangsung selama 16 hari, mulai pada tanggal 25 November (Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan) sampai dengan 10 Desember (Hari Internasional Hak Asasi Manusia). Rentang waktu ini secara simbolik menghubungkan kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah salah satu bentuk pelanggaran HAM.

LBH APIK Jakarta menyelenggarakan sebuah acara “Malam Dana untuk Karya Penyintas Dalam rangka kampanye 16 HAKTP (Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan)”, bertempat di Kantor Dagang Syarikat Islam di Jalan Diponegoro Nomor 43, pada Sabtu malam, 11 November 2017.

Veni Siregar, Direktur LBH APIK Jakarta dalam kata sambutannya menyampaikan, “Kegiatan ini diselenggarakan untuk mensupport para penyintas dan perempuan korban kekerasan yang akan mementaskan drama musikal berjudul “ODE TUSUK KONDE” pada puncak Peringatan Kampanye 16 HAKTP di Goethehaus Jakarta, pada tanggal 10 Desember 2017 nanti.”

Menurut Veni, kegiatan ini adalah bagian dari upaya penguatan dan pemulihan bagi perempuan korban kekerasan yang selama ini menjadi concern LBH APIK Jakarta.

Agustian, Sutradara pementasan drama musikal Ode Tusuk Konde ini menyampaikan bahwa ada tantangan tersendiri ketika melatih para pemain yang berasal dari perempuan korban kekerasan dan belum pernah sama sekali bersinggungan dengan dunia teater.

“Karya ini merupakan karya saya yang kedua untuk tema kekerasan terhadap perempuan, tetapi terus terang karya ini merupakan karya saya yang terberat. Ide ceritanya saya ambil dari nenek saya sendiri yang kebetulan adalah seorang Jugun Ianfu,” kata Agustian.

Menurutnya, perempuan korban kekerasan seringkali justru dipersalahkan oleh masyarakat. Tak jarang, mereka dikucilkan bahkan diusir dari keluarga dan komunitasnya. Sementara pelaku kekerasan bisa happy-happy dan lepas dari jerat hukum.

Iim, salah satu penyintas mengatakan, “Perjuangan kami untuk menuntut keadilan sangat berat karena selama ini hukum belum berpihak pada para perempuan korban. Namun, ketika mengikuti latihan drama yang akan kami pentaskan, saya merasakan ternyata drama bisa menjadi therapy atau obat hati buat saya.”

Penggalangan dana untuk karya penyintas diperoleh melalui donasi dan lelang kain tenun dan batik nusantara. Nampak hadir di acara tersebut, sejumlah artis dan tokoh, antara lain: Mariana Aminuddin (Komnas Perempuan), Wanda Hamidah, Angie The Virgin, Beben Jazz, Rendjana Band, Masha (anak Chrisye), dan sejumlah artis dari komunitas Sastra Indonesia Raya. (SR)