Makna Pahlawan di Mata Pedagang Bakso Keliling

Makna Pahlawan di Mata Pedagang Bakso Keliling

SHNet, Jakarta- Dahulu, mereka yang gugur berjuang di medan perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, layak disebut pahlawan. Sekarang ini, banyak para pejuang berjiwa ksatria yang hidup dalam keseharian kita.

Salah satunya adalah pedagang bakso keliling. Kisah heoik mereka tertuang dalam diskusi interaktif bertajuk “Pejuang Ekonomi Mikro” yang diadakan oleh PT Miwon Indonesia bersama Dompet Dhuafa, di Jakarta, Kamis (9/11).

Midi, pedagang bakso keliling dalam diskusi tersebut mengungkapkan, awal dia berjuang memulai usaha pada 1992. Menurutnya, tidak mudah memulai usaha dari nol. Dia harus merasakan jatuh bangun dan tambal sulam modal.

“Saya berkali-kali mencoba cari tempat yang strategis untuk berjualan, namun gagal. Bahkan saya pernah mengalami perlakuan kurang baik dari sesama pedagang bakso, Berkat tekad dan ikhtiar yang kuat, saya merasakan manisnya perjuangan,” ungkap Midi.

Cerita lainnya datang dari Joko. Sebagai pedagang bakso, Joko tidak hanya berjuang untuk kesejahteraan dia dan keluarga, tetapi ia juga berupaya “menyelamatkan” nyawa konsumen.

“Saya sangat menyadari, makanan yang dijual dan disajikan sangat berpengaruh terhadap tubuh konsumen. Karena itu, saya tidak akan membahayakan mereka mereka dengan menggunakan bahan pangan berbahaya seperti boraks,” tuturnya.

Makna pahlawan baginya adalah orang yang menjalani profesi dengan kejujuran, kearifan, memperhatikan norma dan aturan serta tidak merugikan orang lain.

Paryadi punya cara yang unik saat berjualan bakso keliling. Ia memberikan bakso gratis bagi konsumen yang hafal menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan teks Pancasila.

Ketua Komuitas Pedagang Tangguh ini juga sering mengajak anggotanya memberikan sumbangan untuk anggota lain

Midi, Joko dan Paryadi adalah para pejuang ekonomi mikro. Bersama dengan pedagang bakso keliling di wilayah Jakarta mereka mendapat bantuan dari PT Miwon Indonesia dan Dompet Dhuafa melalui program pemberdayaan masyarakat.

Vice President Director PT Miwon Indonesia Lee Dong Won menjelaskan, program pedagang tangguh tahun ini merupakan yang keenam kalinya dengan sasaran para pedagang bakso keliling.

Mengapa yang dipilih pedagang bakso keliling? Lee menjelaskan, pedagang bakso keliling merupakan pedagang kecil. “Bakso jugadigemari banyak orang, sehingga nyambung dengan produk kami,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Ismail A Said menambahkan, secara umum konsumsi daging sapi di Indonesia masih rendah. “Pedagang bakso keliling ini telah berjasa, sebab tanpa disadari, masyarakat mengkonsumsi bakso yang terbuat dari daging sapi tersebut,” ungkapnya.

Total mitra pedagang yang sudah dibina dari 2011 hingga saat ini sebanyak 350 orang. Inisiasi pedagang tangguh dilatarbelakangi oleh kepedulian dari Miwon dan Dompet Dhuafa terhadap kondisi pedagang bakso secara mikro yang terbatas dari aspek produksi, manajerial dan pemasaran.

Bantuan yang diberikan berupa penyaluran modal usaha ( 1 set gwrobak dorong dan peralatan penunjang), penguatan kapasitas mitra serta usaha regular selama satu tahun. (Stevani Elisabeth)