Kredit Luar Negeri Tak Perlu Dicemaskan Membebani Generasi Mendatang

Menteri Perhubungan Emil Salim

Kredit Luar Negeri Tak Perlu Dicemaskan Membebani Generasi Mendatang

Jakarta, 20 November 1973 – Menteri Perhubungan Dr. Emil Salim dalam forum TVRI Senin malam menegaskan bahwa apakah bantuan luar negeri kepada Indonesia itu akan membebani generasi yang akan datang, sangat tergantung dari kesadaran pemerintah untuk memanfaatkan bantuan itu.

Yang jelas pemerintah dewasa ini memanfaatkan bantuan luar negeri itu untuk meningkatkan pembangunan, antara lain meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta memperkuat landasan untuk tahap pembangunan berikutnya seperti pembangunan prasarana jalan, pendidikan tekhnik, pertanian, KB, proyek perbaikan kampung dll, sehingga diharapakan dari hasil pembangunan itu nanti mampu membayar kembali hutang-hutang itu sendiri, sehingga akan mengurangi beban generasi.

Ditegaskan pula bahwa dengan berhasilnya pembangunan, maka kebijaksanaan bantuan luar negeri kepada Indonesia dirasakan tidak perlu menimbulkan kecemasan, kata Emil Salim.

Menteri Emil Salim dalam forum tersebut mengakui bahwa cara bantuan luar negeri kepada Indonesia di masa orde lama (sebelum 1966), adalah kurang baik dan tidak menguntungkan karena terikat dengan syarat pembayaran kembali dengan suku bunga tinggi serta jangka pendek, apalagi waktu itu tidak tahu tujuan penggunaan bantuan kredit tersebut.

Ditegaskan bantuan kredit bisa berakibatkan baruk bagi negara penerima, bila tidak pandai memanfaatkan, kata Emil Salim.
Emil Salim mengatakan bahwa biasanya syarat kredit dianggap ringan bila mempunyai jangka waktu pembayaran 30 tahun, 8 – 10 tahun permulaan tanpa bayar dengan suku bunga 2,5%.

Tetapi dewasa ini pemerintah Indonesia malah berhasil mendapatkan persyaratan yang lebih ringan lagi yakni mendapatkan bantuan untuk jangka pembayaran 50 tahun, 10 tahun permulaan tidak membayar serta bunga 0,75%.

dikatakan bahwa semakin panjang jangka pembayaran kredit, semakin ringan. Misalnya pinjaman US$ 100 juta jangka 50 tahun berarti pertahun hanya akan membayar kembali US$ 2 juta daripada dengan jangka 20 tahun berarti pertahun harus melunasi US$ 5 juta.

Bantuan IGGI
diakui oleh Emil Salim bahwa bantuan IGGI kepada Indonesia setiap tahun menaik jumlahnya. Sebaiknya hendaklah dilihat kenaikan ini secara proporsional. Sebab dengan bantuan tadi akan menaikkan sumber penerimaan dalam negeri dan ekspor Indonesia makin bertambah.

Ditegaskan bahwa walaupun ada penambahan jumlah bantuan, tetap akan berfungsi hanya sebagai unsur pelengkap saja dalam pembangunan.

Sebagai contoh dikemukakan bantuan IGGI 1967 US$ 200 juta, sedang ekspor kita waktu itu baru mencapai US$ 600 juta, tetapi 1973 walaupun bantuan naik menjadi US$ 670 juta, tetapi ekspor kita meningkat jadi US$ 1,9 milyar sehingga dilihat dari presentasi, bantuan itu nampak menurun.

Contoh lain dikemukakan tahun 1968. Bantuan luar negeri sepenuhnya untuk anggaran pembangunan, sedang pendapatan dalam negeri membiayai anggaran rutin, maka 1972/1973 peranan bantuan luar negeri terhadap pembangunan tidak begitu menonjol lagi karena penerima dalam negeri meningkat menjadi Rp. 152 milyar untuk anggaran pembangunan dibanding dengan Rp. 95 milyar bantuan luar negeri, demikian Menteri Perhubungan Emil Salim.

Ada 3 tahap
Dikatakan bahwa bantuan luar negeri termasuk IGGI, ada mempunyai persyaratan tetapi secara bertahap persyaratan yang mengikat itu mulai dilepaskan.

Tahap permulaan, bantuan hanya diberikan kepada negara sekelompoknya, tahap II, dimana bantuan kepada negara lain, tetapi terikat sehingga bersifat pendorong ekspor negara pemberi itu sendiri.

Tahap III timbul kesadaran baru yakni bantuan sebagai alat untuk meniadakan kepincangan antara negara maju dan miskin. Bahwa ada dimensi baru yakni mengalihkan dana pembangunan dari negara kaya ke negara miskin.

Dikemukakan bahwa negara besar seperti Jerman, Jepang, AS, Belanda sudah mulai berkesadaran melepaskan keterikatan dimana pembelian barang-barang yang dibutuhkan tidak perlu lagi harus dari negara pemberi kredit, demikian antara lain Menteri Perhubungan Emil Salim. (SH)