Konser Amal Jatim Reggae Star Festival 2017

Konser Amal Jatim Reggae Star Festival 2017

Foto: SHNet/AP

SHNet, MALANG – Konsep konser amal yang diusung Bali Reggae Star Festival untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan sosial dan kemanusiaan melalui musik Reggae merambah ke berbagai daerah.

Suksesnya Gelaran BRSF 2017 kemarin bisa terukur dari lahirnya Semangat yang sama untuk membangun kesadaran dari masyarakat Reggae Indonesia untuk masyarakat luas.

Dengan semangat dan keinginan yang sama Kota Batu, Malang, sedang bersiap menggelar Konser Amal Jatim Reggae Star Festival 2017 (JRSF 2017).

Agung Ngurah yang sukses menggelar BRSF 2017 menjelaskan,  BRSF tidak hanya menghasilkan Tong Sampah yang disebar di penjuru Bali dan mendermakan hasil amal untuk Pengungsi Gunung Agung, namun BRSF mampu mendorong musik Reggae sebagai mediasi cinta damai, baik tersirat dalam pesan maupun secara hidup keseharian.

Berangkat dari sejumput kenyataan dan keinginan di atas, Kota batu, Malang, menjadi tempat pertama yang akan merajut pesan dari gelaran BRSF.”Ya awalnya ini menyambut apa yang saya lihat menjadi keinginan Bastian Cozy dan tentunya banyak orang di Malang, dan tentunya Mas Tony Q Rastafara sebagai pencetus gelaran acara Reggae Star Festival, artinya apa yang menjadi salah satu tujuan BRSF dibuat mulai terlihat, bahwa melalui musik Reggae banyak hal positif bisa dibuat, bisa mendorong banyak hal untuk kebaikan dan memantik potensi lokal menjadi potensi nasional” kata Agung di Sallo’innyan Kopi, Tebet, Jaksel, Selasa (21/11).

Selain itu lanjut Agung, Jatim Reggae Star Festival juga menempatkan tuan rumah sebagai pelaku dan sekaligus mendorong terjaganya kearifan lokal, menempatkan potensi daerah berubah menjadi potensi nasional, setidaknya dari segi seni dan kebudayaan termasuk potensi pariwisata.

Dalam Kesempatan yang sama, Ferry HK yang mewakili Bangga Indonesia selaku Promotor JRSF 2017 menjelaskan, Jawa Timur sebagai salah satu daerah yang menjadi barometer musik di Indonesia khususnya musik Reggae dan kota Batu, Malang, sebagai kota pariwisata akan menjadi paduan yang selaras untuk mendorong bakat dan potensi yang dimiliki muncul kepermukaan, utamanya mereka yang berada dalam wilayah Jawa Timur, wisata dan musik menjadi pilihan menarik bagi kalangan luas, dampaknya akan sangat signifikan untuk Jawa Timur, khususnya Kota Batu, malang selaku tuan rumah.

Hal demikian kata Ferry, bisa terwujud karena keterlibatan berbagai elemen mulai dari musisi Reggae, penikmat dan pecinta Reggae, komunitas sosial, media dan keterlibatan tokoh-tokoh masyarakat dalam gelaran Bali Reggae Star Festival yang dirajut selama 3 tahun belakangan.

“Ini kan ide yang keren banget dan sudah terbukti, jadi setelah ngobrol sama Tony Q yang memang kawan lama, kemudian dengan Agung dan Bastian Cozy, saya seperti tertantang untuk bisa mengakomodasi lanjutan dari acara di Bali, apalagi efek berantai positif yang diharapkan bisa terwujud, Musik Reggae ini jelas bisa menjadi mediator untuk hal yang luas, setelah Kota Batu, Malang, saya sudah berfikir untuk berbuat yang sama didaerah lain di Indonesia, tentunya tidak melenceng dari tujuan awal ya,” ungkap Ferri yang juga pernah menggebuk Drum nya untuk Tony Q Rastafara.

Bastian Cozy yang getol bergerilya untuk terwujudnya Jatim Reggae Star Festival mengaku sangat antusias, ia punya keinginan lama untuk menghidupkan lagi malang sebagai kota musik, kota musisi yang asik.

“Kota Malang maupun Batu lanjut, dulunya punya suasana yang sejuk namun penuh kehangatan dalam bermusik ataupun dalam ruang Seni dan Budaya, di tempat saya besar dan lahir itu sampai hari ini masih punya potensi dan sumber daya yang luar biasa, namun belum terwadahkan dengan baik dan tepat, dia meyakini Jatim Reggae Star Festival akan menjadi wadah untuk musisi Reggae dan ajang konsolidasi musisi lintas Genre di malang yang memang dimajukan untuk menjadi tuan rumah,” Tutur Vokalis Band Cozy Republik ini.

Tony Q Rastafara sebagai pencetus Revolusi kesadaran melalui Musik Reggae mengatakan, JRSF 2017 bukanlah acara namun akan menjadi sebuah Peristiwa yang bersejarah, karena dia melihat ini sebagai sebuah gerakan, panggung dan musik bukan lagi menjadi media untuk sekedar hiburan dan hura-hura, namun menjadi media untuk menyampaikan pesan-pesan yang dibungkus dalam karya musik Reggae dan juga kehidupan keseharian di kemudian hari.

Peristiwa ini diharapkan menjadi ajang silaturahmi antara Pelaku dan penikmat musik Reggae di Jatim dan juga kota-kota atau daerah di Luar Jawa Timur, sekaligus menjadi momentum meluaskan pertemanan dan karya.

“Jawa Timur punya komunitas Reggae dan Musisi atau Band Reggae yang sangat banyak, dan selama ini yang terdengar, mereka membawakan karya original, buatan mereka sendiri sesuai dengan lingkungan mereka masing-masing, tapi mereka tidak pernah punya kesempatan untuk muncul dalam event event berskala besar dan layak, satu panggung dengan perwakilan band dari banyak Kota di Jawa Timur dan juga mungkin dengan Musisi Reggae Nasional untuk membuktikan karya-karya mereka” papar Tony Q.

Dia juga meyakini, kekuatan entitas kedaerahan yang disematkan dalam karya musik Reggae yang mereka buat akan semakin menguatkan rasa ke Indonesian dan mendorong rasa persatuan sekaligus ikut merawat kearifan lokal, lingkungan dan kemanusiaan.

“Jatim Reggae Star Festival 2017 menjadi wadah bersama bagi musisi Reggae se-Jawa Timur untuk menjejak karya-karya mereka sesuai dengan konsep masing-masing, konsep kedaerahan yang membuat ciri khas Reggae Indonesia itu sendiri terlahirkan,” kata Legend Reggae Indonesia ini.

Jatim Reggae Star Festival 2017 akan diisi 14 performer dari Berbagai kota di Jawa Timur dan Musisi Reggae Nasional diantaranya: Tony Q Rastafara, Cozy Republic, Steven Jam, Denny Frust, Geranium Reggae lumajang, Cah Reggae Jember,Tropical Forest Malang, Malang dub foundation, Rainbow Skankin Belitung, dan masih banyak lagi. (Dodo)