Ini Tiga Deregulasi yang Meningkatkan Jumlah Wisman ke Indonesia

Ini Tiga Deregulasi yang Meningkatkan Jumlah Wisman ke Indonesia

Menteri Pariwisata Arief Yahya saat membuka Indonesia Tourism Outlook (ITO), di Jakarta, Rabu (1/11). (SHNet/stevani elisabeth)

SHNet, Jakarta- Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan regulasi menjadi salah satu tantangan yang menghambat wisatawan mancanegara (Wisman) berkunjung ke Indonesia.

Menurutnya, Indonesia mempunyai 42 regulasi yang mengikat. Bila ingin hasil yang luar biasa, maka harus dilakukan deregulasi. Deregulasi di bidang pariwisata memberikan dampak yang hebat.

“Negara ini punya 42 regulasi yang mengikat kita. Untuk memperoleh hasil yang laur biasa, maka harus dilakukan deregulasi. Deregulasi ini impactnya hebat,” kata Arief pada Indonesia Tourism Outlook (ITO), di Jakarta, Rabu (1/11).

Menpar mengibaratkan deregulasi ini seperti pendulum. Bila ada pendulum di bawah bergerak 1 meter, maka bandul ini akan bergerak 1 meter. Dalam bidang pariwisata, butuh komitmen yang kuat dari pemerintah daerah selaku CEO.

“CEO berada di puncak pimpinan yang kalau dia bergerak 1 meter, maka impact di bawahnya bisa 100 meter. CEO dalam perusahaan sebagai regulatornya,” kata Arief.

Di pariwisata ada tiga deregulasi meningkatkan kunjungan wisman ke Indonesia. Pertama, bebas visa. Pada 2013, pemerintah Indonesia memberikan bebas visa bagi 169 negara. Dengan kebijakan bebas visa tersebut, jumlah wisman ke Indonesia terus meningkat.

“Selama di Indonesia, mereka bisa membelanjakan uangnya US$ 1200-US$ 2200 per hari,” ujarnya.

Kedua, deregulasi ijin untuk yacth. Menurut Menpar, selama ini mengurus ijin untuk yacth memerlukan waktu 3 minggu. Namun, dengan adanya deregulasi, pengurusan ijin hanya tiga hari. Kunjungan wisman dengan yacth pun meningkat 100%.

Ketiga, deregulasi untuk ijin cruise atau kapal pesiar. Arief mengatakan, selama ini cruise yang masuk ke Indonesia harus singgah ke Singapura. “Alasannya untuk melindungi cruise berbendera Indonesia,” ujarnya. (Stevani Elisabeth)