Ini Penyebab Susu Kental Manis Dipersoalkan

Ini Penyebab Susu Kental Manis Dipersoalkan

Ilustrasi/Ist

SHNet, Jakarta – Polemik iklan susu kental manis yang terus bergulir hingga hari ini menyita perhatian masyarakat periklanan. Sekretaris Badan Pengawas Periklanan Susilo Dwihatmanto mengakui secara internal permasalahan iklan susu kental manis sudah mulai dibahas. 

Ia menjelaskan, susu merupakan produk yang memiliki peraturan sangat ketat dalam beriklan. Dibandingkan produk yang lain, iklan susu sebelum beredar harus melalui perizinan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Demikian juga dengan susu kental manis, sebelum tayang di televisi pasti harus mengantongi izin BPOM terlebih dahulu,” katanya.

Oleh karena itu, jika kemudian terdapat persoalan pada iklan susu kental manis, BPOM merupakan pihak yang perlu melihat kembali produk-produk tersebut. “Selain BPOM, Kemenkes juga punya aturan tentang susu kental manis, sehingga regulasi dari kedua instansi ini yang dijadikan acuan dalam memproduksi iklan,” ujarnya. 

Dihubungi secara terpisah, mantan Kepala BPOM Roy Sparinga mengatakan, berdasarkan kategori, susu kental manis memang termasuk ke dalam kelompok susu. Hal ini tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara global. Hanya saja, yang menjadi persoalan adalah kesalahan dalam pemanfaatan produk. 

“Sebenarnya tidak hanya susu kental manis. Tapi gula garam lemak yang secara umum juga menjadi perhatian Kemenkes. Seharusnya ini dapat menjadi ancang-ancang bagi industri untuk mereformula produk, sehingga nanti kentalnya itu bukan karena gula,” katanya.

Sebagaimana diketahui, konsumsi gula garam lemak berlebih disinyalir sebagai penyebab meningkatnya angka penyakit tidak menular. Ia mengaku, saat masih menjabat kepala BPOM, ia pernah memanggil para pelaku industri terkait gula garam lemak.

“Kepada pelaku industri saya sampaikan agar mereformulasi produk pangan dengan mengurangi kadar gula garam lemak,” ujar Roy. Imbauan itu dilatarbelakangi keprihatinan Menteri Kesehatan akan tingginya prevalensi penyakit tidak menular yang disebabkan gula garam lemak yang semakin tinggi. (Nila Kurniasari)