Indonesia Tak Hanya Wacana Menurunkan Emisi Gas Karbon

Indonesia Tak Hanya Wacana Menurunkan Emisi Gas Karbon

Ist

SHNet, BONN – Menteri Koordinator bidang Maritim, Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan Indonesia, sesuai pesan Presiden Joko Widodo (Jokowi), berkomitmen untuk memenuhi target penurunan emisi dengan 23 persen bauran energi sektor energi.

“Presiden pesan agar kita tetap bisa memenuhi target 23% penuruman emisi. Karena itu kita harus melakukan aksi nyata, bukan hanya ngomong saja, atau wacana saja,” ujar Menko Luhut di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim di Bonn, Jerman, Senin (13/11).

Pada Konferensi Para Pihak Ke-23 pada Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change- Conference of the Parties 23), Luhut mengatakan hal ini sebagai prioritas pemerintah yang, bersama 195 negara lainnya, telah berkomitmen untuk memenuhi Kesepakatan Paris (Paris Agreement) tahun lalu.

“Kita sudah melakukan banyak kerjasama di bidang energi terbarukan,seperti energi solar dan angin, mengurangi sampah plastik di laut dengan memproduksi aspal dari plastik kresek dan kita juga aktif melakukan pengurangan penggunaan plastik kresek dengan menciptakan alternatif tas plastik dari bahan ramah lingkungan seperti dari singkong atau rumput laut,” ujarnya.

Kerja sama

Sebagai salah satu negara yang rentan terhadap perubahan iklim, serta sebagai negara yang memiliki posisi dan kontribusi penting dalam mitigasi perubahan iklim, Menko Luhut mengatakan pemerintah melakukan kerjasama dengan berbagai pihak antara lain juga dilakukan dengan luar negeri.

“Yang penting kerjasama dengan luar negeri itu ada tiga syarat yang harus dipenuhi, pertama adalah  masalah lingkungan, teknologi yang digunakan harus ramah lingkungan, yang kedua harus ada transfer teknologi, dengan itu dia harus melatih orang Indonesia agar cepat beradaptasi dengan teknologi tersebut, yang ketiga harus membangun dari hulu ke hilir agar ada nilai tambah. Hilirisasi penting karena mempunyai nilai tambah, kalau sudah dipenuhi syarat-syarat tersebut, tidak perlu lagi melihat dari negara mana dana itu datang,” tegasnya.

Ia mengimbau negara maju untuk membantu Indonesia dalam upaya memperkecil efek perubahan iklim.

“Indonesia menjadi memiliki ekosistem mangrove atau hutan bakau sebesar 3,1 juta hektare atau 23% dari total mangrove di dunia yang menyumbang oksigen ke dunia. Jadi kalau negara maju punya teknologi (pelestarian dan pengembangan mangrove), sebaiknya dibagi juga kepada Indonesia,” katanya.

Ia juga mengatakan sampah di laut, 80% berasal dari limbah di darat dan sisanya dari limbah kapal dan perikanan di lautan berdampak buruk bagi banyak sektor. “Sampah plastik laut menyebabkan banjir pesisir, berbahaya untuk transportasi, dan berdampak negatif terhadap pariwisata dan makanan laut. Sampah plastik laut juga merusak terumbu dan kehidupan laut. Jika plastik tertelan oleh ikan dan hewan laut lainnya, akan menyebabkan kematian dan kontaminasi sumber makanan yang sangat penting. Hal ini merupakan ancaman tambahan yang signifikan bagi banyak negara di dunia, termasuk sumber daya kelautan dan pesisir Indonesia,” katanya.

Karena itu, pemerintah Indonesia telah melakukan beberapa aksi pengurangan sampah plastik laut ini dengan memperkuat kerjasama antar kementerian dan lembaga sehingga dapat melindungi dan memanfaatkan nilai ekosistem pesisir dan laut dengan lebih baik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi maritim Indonesia yang berkelanjutan. (IJ)