Desa yang Dulu Tandus ini Mampu Memberi Beasiswa bagi Warganya

Desa yang Dulu Tandus ini Mampu Memberi Beasiswa bagi Warganya

Pantai Pandawa, Desa Adat Kutuh, Badung-Bali (Ist)

SHNet – Panorama Pantai Pandawa, Bali, sudah mendunia. Jutaan wisatawan domestik dan mancanegara sudah singgah di pantai yang menjadi salah satu ikon baru di Badung Selatan, Kabupaten Badung tersebut.

Dari jalan akses yang tersedia, pengunjung bisa diyakinkan kalau lokasi wisata yang dikunjung indah dan menawan. Tapi, tahukan Anda kalau beberapa tahun yang lalu Pantai Pandawa hanya lahan tandus dan gersang?

Lihat saja dinding batu kapur yang terpampang sepanjang lekukan jalannya. Cukup panas! Lautnya juga tidak memberi banyak ikan bagi nelayan. Hanya cocok untuk budi daya rumput laut. Namun, pantainya rapi dan bersih.

Nah, itulah hebatnya Desa Adat Kutuh. Ketekunan, keuletan, niat dan kemauan warganya mampu mengubah Pantai Pandawa menjadi lokasi wisata kelas dunia. Dari semula hanya lokasi budi daya rumput laut yang kurang meyakinan sebagai sumber penghasilan warga, kini menjadi juara di sektor wisata. Pendapatan warga terus meningkat.

Jalan akses menunju Pantai Pandawa (Ist)

Desa Kutuh sekarang menjadi desa juara, yang mampu secara signifikan mereduksi jumlah keluarga miskin. Bahkan kini sulit menemukan keluarga miskin di Desa Kutuh. Ini bukan mengada-ada, silahkan mampir ke jika Anda berwisata ke Bali.

Paduan Budaya dan Profesi

Sebagaimana umumnya adat dan budaya Bali, Desa Adat Kutuh memiliki sekitar 900 keluarga pengarep yang tersebar dalam empat banjar adat, yakni Banjar Pantigiri, Banjar Jaba Pura, Banjar Kaja Jati, dan Banjar Petangan. Ia juga memiliki tanggung jawab ngempon terhadap 14 pura, baik Kahyangan Desa maupun Dhang Kahyangan.

Adat dan budayalah yang mengangkat kualitas hidup warga desa tersebut hingga kini menjadi lebih baik dan sukses.

Caranya? Segala potensi di Desa Adat Kutuh dikelola oleh badan usaha terintegrasi yang disebut Bhaga Utsaha Manunggal Desa Adat (BUMDA). Luar biasanya, BUMDA Desa Adat Kutuh kini memiliki sejumlah unit usaha. Di antaranya adalah Unit Usaha Wisata Pandawa, Wisata Gunung Payung Cultural Park, Unit Barang dan Jasa, Unit Atraksi Wisata Paragliding, Unit Kesehatan Masyarakat dan Unit Utsaha Piranti Yadnya.

Koq bisa? Mereka memadukan kemampuan profesional dengan adat dan budaya yang ada. Masing-masing BUMDA dipimpin seorang Maha Manggala Utama sedangkan masing-masing unit dipimpin Manggala. Pembentukan unit-unit tersebut untuk memberikan kesempatan kepada krama Desa Adat Kutuh berperan dalam berbagai posisi.

Ya, kemauan dan niat yang tulus adalah rahasia sukses Desa Adat Kutuh. Tentu saja, karena fokus usaha adalah sektor pariwisata, faktor keamanan dan kenyamanan adalah yang terpenting. Ini juga berlaku untuk segala jenis usaha: aman dan nyaman! Warga Desa Adat Kutuh yakin bahwa wilayah yang aman dan nyaman akan selalu membangkitkan hal-hal yang positif dalam hidup.

Apresiasi

Atas usaha kerja keras seluruh warga Desa Adat Kutuh, pada tahun 2017 ini desa tersebut mendapatkan penghargaan Desa Mandiri Nasional 2017 dari Direktorat Bina Desa, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Desa Adat Kutuh memenuhi kriteria penataan Administrasi Desa Terbaik Nasional. Ia adalah desa inovatif dalam pola pengamanan terpadu dengan tim reaksi cepat melalui sinergi Polri, TNI, Linmas dan Pecalang. Selain juga desa inovatif dalam hal pelayanan administrasi berbasis teknologi SIADEK. Tak heran kalau desa ini dijadikan role model untuk desa-desa lain di Indonesia ke depan.

Pura Desa Adat Kutuh (Ist)

Menurut Bendesa Adat Kutuh, I Made Wena, di kampung halamannya itu, pengelolaan potensi desa semuanya dilakukan oleh masyarakat. Hal itu dilakukan karena pola desa adat mengharuskan aset-aset yang ada di sebuah desa disertifikasi atas nama masyarakat adat.

Dari berbagai unit usaha yang ada, penghasilan Desa Adat Kutuh kini mencapai hampir Rp 13 miliar/tahun. Ini adalah desa pertama di Indonesia yang mampu memberi beasiswa kepada warganya yang melanjutkan jenjang studi hingga S1. Bahkan ke depan dibuka kemungkin memberi beasiswa kepada mahasiswa S2.

Beasiswa diberikan berupa voucher, yang bekerja sama dengan salah satu retail di Bali. Besarannya antara Rp 750.000-,2.500.000/bulan. Lumayan kan? Ini menunjukkan niat dan kemauan Desa Adat Kutuh untuk meningkatkan sumber daya manusianya luar biasa.

Bandesa Adat Kutuh, Made Wena, mengatakan mahasiswa yang mendapatkan beasiswa terikat kontrak ikatan dinas desa, yakni setelah menyelesaikan kuliah diwajibkan mengabdi di unit usaha desa yang tersedia selama 15 tahun. Dalam masa itu, mereka akan mendapat gaji setara UMK yang ada di Kabupaten Badung. Mantab betul! Dapat beasiswa, tak perlu repot cari kerja setelah lulus kuliah. (Inno Jemabut, dari berbagai sumber)