Belajar Jaga Sumber Air ke Desa Binaus

Belajar Jaga Sumber Air ke Desa Binaus

NTT merupakan salah satu daerah yang kering di Indonesia. Tidak mudah menemukan sumber mata air di beberapa daerah. Pada musim kemarau, air adalah hal yang langka. (Ist)

SHNet – Bisnis air dengan menggunakan mobil tangki oleh sejumlah pengusaha dan pejabat pemerintah daerah (pemda) marak terjadi di kota-kota yang kekurangan air di NTT. Misalnya di Kota Labuan Bajo-Manggarai Barat, Kota Kupang, Kota Soe-Timor Tengah Selatan (TTS).

Di musim kemarau bisnis air laris manis. Satu tangki dengan kapasitas 2.000 liter dijual seharga Rp 100.000-200.000. Pemilik tangki tak perlu membeli air. Mereka hanya menimba air di sumber mata air yang berada di pinggir jalan sebelum masuk kota.

Bisnis air bukan karena tidak ada perusahaan air minum (PAM) milik pemerintah yang memasok air ke kota-kota tersebut. Hanya kerap kali pipa air yang tersedia tidak dialiri air. Dalam beberapa kasus, kerap kali pipa milik PDAM berkarat begitu saja tanpa pernah dialiri air.

Sebabnya jamak. Bisa karena sengaja tidak dialiri air oleh pemilik pipa. Bisa karena pipa bocor atau dibocorkan di tengah jalan sebelum masuk kota sehingga air tidak sampai ke tempat tujuan. Bisa juga karena debit airnya menurun karena kemarau, namun tidak ada upaya menampung di bak penampungan terlebih dahulu.

Situasi inilah yang banyak dimanfaatkan oleh pebisnis air dengan menggunakan tangki untuk meraup keuntungan. Tak perlu mengeluarkan modal besar. Asal punya mobil tangki dan isi bahan bakarnya. Bisnis jalan lancar. Dalam sehari saat kemarau panjang bisa meraup untung bersih Rp 1.000.000. Dalam sebulan tinggal dikali 30 hari. besar sekali, bukan?

Hanya di musim hujan bisnis air tangki kerap sepi pelanggan karena banyak warga memilih menampung air hujan. Yaaa… air hujan bisa ditampung dan disimpan berhari-hari. Karena itu, bersyukur dan hematlah menggunakan air.

Rezeki Punya Sumber Air

Di Desa Binaus, Kecamatan Mallo Tengah, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dalam beberapa tahun pebisnis air tangki ini berkeliaran. Mereka menimba air di desa tersebut untuk dijual di Kota Soe atau kota dan desa-desa lain yang kekurangan air.

Siapa sih yang tidak memerlukan air. Kebutuhan dasar manusia tidak bisa terpenuhi jika tak ada air. Tanpa air, dunia berhenti bergerak.

BUMDes Aneotob

Semula warga Desa Binaus tak terlalu peduli dengan pebisnis air tangki ini. Alasannya sederhana: air itu pemberian Yang Ilahi, bukan hasil kerja mereka. Mereka hanya menggunakan sesuai dengan kebutuhan sebagai petani ladang atau peternak.

Itu juga tak masalah mereka menimba langsung ke mata air. Tak perlu harus memiliki keran air di dalam rumah. Ada wadah untuk menima lalu menampungnya dalam wadah yang disiapkan dalam rumah.

Lagipula, Desa Binaus dikarunia alam yang subur dengan pemandangan yang indah. Udaranya sejuk dengan langit biru di siang hari. Sementara di malam hari bintang-bintang bertebaran di langit. Di desa ini kita bisa memantau berbagai macama rasi bintang yang dipelajari di kelas saat sekolah. Sesekali berawan, tapi tak pernah bisa menghilangkan indahnya pemandangan malam.

Namun, seiring waktu perilaku pebisnis air tangki menyebalkan warga desa. Jalan desa rusak karena mobil air tangki yang lalu lalang tiap jam. Warga desa juga seakan-akan diindoktrinasi kalau meminum air dalam kemasan yang dibuat oleh perusahaan air minum dalam kemasan lebih sehat dan bergengsi dibandingkan dengan air yang mereka dapatkan langsung dari sumber mata air.

Kondisi ini menyadarkan warga desa, kalau pengambilan air di desa tersebut tak bisa dibiarkan begitu saja. Jalan rusak, warga desa tak mendapat untung apapun dari bisnis yang dilakukan pebisnis air tangki tersebut. Alih-alih mendapat untung, malah kerugian yang didapat.

Karena itu, muncullah gagasan agar Desa Binaus menarik biaya untuk semua setiap tangki air. Caranya mereka membentuk BUMDes terlebih dahulu untuk mengelola air bersih di desa tersebut. Modal awal BUMDes berasal dari dana bantuan pemerintah yang digunakan untuk mengebor sumur. Terbentuklah BUMDes Aneotob.

Jika sebelumnya pebisnis mobil tangki air bebas menimba air di desa tersebut, kini harus membayar melalui BUMDes seharga Rp 40.000 per tangki. BUMDes tersebut juga menjual air bersih kepada tanki-tanki dari warga desa lainnya.

Sumber Kehidupan

Warga Desa Binaus jadi lebih menghormati air sebagai sumber kehidupan ekonomi. Mereka tak lagi membiarkan air mengalir begitu saja. Yah, air adalah uang. Menjadi salah satu sumber sumbu apakah kompor di dapur mereka akan tetap mengepul asap untuk memasak atau tidak.

Air dari hasil pengeboran ditampung dan disalurkan di tujuh titik yang menyebar di seantero kampung untuk menjangkau warga desa yang selama ini kekurangan air.

Warga jadi tak perlu berjalan jauh untuk menimba air. Cukup membayar “PAM Desa” sebesar Rp 20.000, sumber air sudah di depan rumah. Dana itu nantinya digunakan untuk berbagai keperluan desa yang dikelola oleh BUMDes.

BUMDes Aneotob pun terus mengembang. Ia mulai merambah ke sektor bisnis lain selain air minum. Namun, koridor bisnisnya tetap mengacu kepada kebutuhan warga desa. BUMDes tersebut memperhatikan apa yang paling sering dibutuhkan warga dan potensial menjaga kelestarian sumber air. Desa Binaus memiliki sedikitnya lima sumber air. Debit airnya tidak terlalu besar, namun konstan sepanjang tahun.

Dipilihlah bisnis tenda atau terop untuk kegiatan pesta atau acara-acara lain. Mengapa bisnis tenda atau terop? Warga Desa Binaus, seperti umumnya di NTT suka menyelenggarakan pesta atau perhetalan lainnya. Pesta dilakukan di tanah lapang atau halaman rumah. Tidak ada gedung pesta di desa.

Pada saat seperti itu biasanya membuat tenda dari kayu atau bambu. Bayangkan berapa pohon kayu atau bambu yang harus ditebang setiap kali menyelenggarakan pesta atau perhetalan lain yang memerlukan tenda. Hutan bisa rusak karenanya. Jika hutan rusak, sumber air pun bisa mengering. Hal itu berdampak pada bisnis air yang mereka jalankan.

Tenda atau terop yang sudah dibuat pipa besi adalah pilihan yang tepat untuk tetap melestarikan hutan yang ada. Siapapun yang hendak menggunakan tenda atau terop itu, tinggal memesan sesuai luas tempat yang dibutuhkan. Tentu dengan membayarnya, Rp 150.000/malam.

Salah satu pemandangan di Benteng Binaus. di Benteng ini terdapat banyak ranjau alami. (Ist)

Namun, tak lengkap jika anda tenda, tetapi tidak punya kursi dan bolam lampu untuk acara malam hari. Jadilah, BUMDes Aneotop juga menyewakan kursi dengan tarif Rp 100/buah dan bolam lampu sebesar Rp 15.000/malam. Pemasukan lagi bagi Desa Binaus.

Kelihatannya sederhana. Namun, tak semua desa bisa melakukan bisnis kreatif seperti itu untuk membangun desanya. Atas dasar itulah BUMDes Aneotob dipilih sebagai BUMDesa Terbaik Kategori Inovatif oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Desa Binaus juga menjadi salah satu desa kreatif dan inovatif. (Inno Jemabut)