Warga Desa Rato Panen Raya Bawang Merah

Warga Desa Rato Panen Raya Bawang Merah

SHNet, Bima – Bertempat di Watasan Tolo, Desa Rato Kecamatan Lambu Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, petani bawang merah yang tergabung dalam Serikat Tani Nasional melaksanakan panen raya bawang sekaligus memperingati Hari Tani Nasional yang ke 57 tahun (5/10/2017).

Acara panen bawang merah secara massal di lahan seluas 200 hektar ini dibuka oleh Bupati Bima dan dihadiri perwakilan dari Kementerian Pertanian, Kementerian Desa PDTT, Pemerintah Provinsi NTB, jajaran SKPD, perwakilan BUMN, dan seluruh masyarakat di kecamatan Lambu, Kabupaten Bima.

Ahmad Rifai, Ketua Serikat Tani Nasional menyampaikan, “Bawang merah merupakan tanaman hortikultura musiman yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan merupakan kelompok sayuran non komplementer sehingga berpengaruh pada tingkat inflasi. Untuk menghindari fluktuasi harga yang dapat disebabkan oleh biaya tanam, cuaca, stok transportasi maupun bawang impor, perlu upaya untuk melakukan budidaya bawang merah sepanjang tahun. Kabupaten Bima dapat menanam bawang merah sepanjang tahun dan tidak tergantung dari musim.”

Menurutnya, produk tanaman pangan dan hortikultura dari Kabupaten Bima yang telah menembus pasar regional maupun nasional adalah kacang tanah, kedelai dan bawang merah. Kabupaten Bima sekarang telah menjadi sentra produksi bawang merah di Indonesia dengan tingkat produksi rata-rata setiap tahunnya mencapai 80-100 ribu ton atau berkontribusi sekitar 34,73% dari kebutuhan nasional (Dinas Pertanian Bima, 2014).

“Nusa Tenggara Barat (NTB) menempati posisi ke empat dari 10 besar daerah penghasil bawang merah. Penghasil bawang merah di Provinsi NTB terutama terdapat di Kabupaten Bima yang terdiri dari 18 kecamatan. Dari jumlah tersebut, 13 kecamatan di Kabupaten Bima merupakan daerah penghasil bawang merah,” terang Rifai.

Potensi lahan yang dapat dipergunakan untuk pengembangan bawang merah di Kabupaten Bima terdiri dari lahan sawah maupun lahan kering seluas 12.644 Ha dengan potensi hasil produksi setiap tahunnya berkisar antara 98.000-130.000 ton/tahun tetapi baru termanfaatkan seluas 5.311 Ha dengan hasil produksi sebesar 63.732 ton/tahun atau sekitar 50% dari potensi yang ada, sehingga potensi tersebut dapat dikembangkan lagi dimasa mendatang (Sumber : Dinas Pertanian Tananam Pangan dan Holtikultura Kabupaten Bima 2015).

Penanaman bawang merah di Kabupaten Bima dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa melihat musim kemarau atau musim hujan sehingga hasilnya dapat melimpah, sedangkan di daerah lain jika musim hujan tidak dapat ditanami bawang merah.

“Ada satu komoditi bawang merah lokal di daerah ini yang dapat ditanam pada waktu musim hujan, yaitu Bowo Varietas Ketamonca dengan luas areal tanam 400 Ha dan ditanam sekitar 20-30 meter dari pinggir laut,” lanjutnya.

Sebagai  tambahan, jumlah petani bawang di Kabupaten Bima terdiri dari kurang lebih 60.000 KK dengan kemampuan produksi berkisar 15-18 ton/hektar yang biaya produksinya mencapai Rp 108 juta/hektar. Harga jual yang diperoleh petani berkisar di angka Rp.7000/kg dengan metode jemput bola oleh para tengkulak di sawah maupun di rumah masing-masing petani.

“Tentunya menjadi suatu kerentanan tersendiri bagi petani bawang dengan biaya produksi yang tinggi namun tidak diimbangi dengan jaminan harga panen yang stabil dari pemerintah. Sehingga seringkali petani bawang mengalami kehancuran ketika harga terombang-ambing oleh pasar yang tidak jelas,” tuturnya.

Oleh karena itu Serikat Tani berharap kepada pemerintah pusat maupun pemerintah daerah setempat untuk lebih memperhatikan nasib petani bawang merah, agar petani mampu menjadi penyokong ketahanan dan kedaulatan pangan. (Siti Rubaidah)