Ultah STB: Teater sebagai Media Informasi kepada Masyarakat

Ultah STB: Teater sebagai Media Informasi kepada Masyarakat

Foto: Apuet Saartje

SHNet, Jakarta – Panggung berlatar belakang kain hitam dan menebarkan aura teatrikal menjadi magnet dalam perayaan hari jadi ke-10 Sanggar Teater Biru Jakarta yang digelar di Saung Timur, Penggilingan Cakung, pada Minggu (1/10/2017).

Kerumunan penonton tua, muda, remaja hingga kanak-kanak tampak menyimak dengan antusias lakon JODAR yang ditampilkan oleh STB Jakarta. JODAR diambil dari bahasa Tionghoa yang berarti anak yang durhaka, dilakonkan dengan apik oleh anak-anak “abu-abu putih” dari kelas XI SMAN 76 Jakarta.

 

Ragilbiru, Ketua STB menjelaskan, “Selama ini kami menjadikan tempat ini sebagai base camp dan menggelar berbagai kegiatan mulai dari diskusi kecil, seminar hingga pentas seni.”

Selain rutin menggagas kegiatan dan pentas, STB Jakarta, menurut Ragilbiru juga rajin mengikuti Festival Teater Jakarta.

“STB Jakarta terbentuk karena kegelisahan kami bertiga, anak-anak muda yang mencintai teater, yakni: saya, Athtar Nalar dan Manto. Kami gelisah melihat perkembangan teater di sekolah, yang hampir tak terjamah oleh kelompok teater yang ada di Jakarta Timur,” lanjutnya.

Atas dasar keprihatinan inilah STB berkeinginan membentuk wadah teater sekolah di daerah Cakung yang sekaligus sebagai tempat latihan, berekspresi dan berkarya bersama. Kemudian terbentuklah Teater Biru yang seiring berjalannya waktu menyempurnakan diri menjadi Sanggar Teater Biru Jakarta.

Ia menambahkan, “Di usia 10 tahun ini, STB Jakarta sebagai kelompok teater masih akan terus berkarya, mengenalkan teater ke masyarakat luas dan menjadikan teater sebagai media informasi, bahkan sebagai media yang mengangkat dan merespon isu-isu sosial – politik yang tengah hangat terjadi.”

Foto: Apuet Saartje
Foto: Apuet Saartje

Panggung hari jadi STB Jakarta ke-10 digeber dari jam 13.00 – 21.00 Wib, dimulai dengan sosialisasi pencencegahan HIV AIDS oleh Komisi Penanggulangan Aids Propinsi DKI Jakarta, kemudian berturut-turut dilanjutkan dengan diskusi buku “Akulah Perempuan” terbitan Waroeng Membatja, monolog “Balada Seorang Pelacur” oleh Umie, pembacaan puisi “Pesan Pencopet” oleh Resqy Babeh, Tadarus Puisi, Summerday Reggae Band, performance art nan ekstrim tapi update oleh Okti Budiati berjudul “1 Oktober”, juga ada kelompok modern dance anak-anak muda belia yang menamakan diri mereka “Psycho”.

Kemeriahan hari jadi malam itu diakhiri dengan potong tumpeng dan doa bersama untuk lancarnya kerja-kerja kesenian STB Jakarta di masa mendatang. (Sukir Anggraeni)