Tani Pekarangan Itu Sederhana, Tapi Mampu Menjawab Problem Rakyat

Tani Pekarangan Itu Sederhana, Tapi Mampu Menjawab Problem Rakyat

Tani pekarangan Odesa Indonesia di Cimenyan, Bandung. (Foto: SHNet)

SHNet, BANDUNG – Melakukan tindakan kecil namun berdampak besar bukan yang mudah. Butuh gagasan dasar yang kuat, bisa diterapkan, dan cepat menghasilkan. Jika mau bukti, hal itu bisa didapat di Kampung Sekebalingbing, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.

Sebelumnya, di kampung ini belum ada usaha tani pekarangan. Barulah setelah Organisasi Odesa Indonesia sering berinteraksi dengan warga, usaha tani pekarangan ini dimulai.  Bahkan menurut  Ansor (48 tahun), salah seorang warga di kampung itu mendirikan sebuah grup pertanian khusus pekarangan yang diberi nama Tani Pekarangan Cimenyan (Tapeci) untuk mendorong warga bertani pekarangan di sekitar Desa Cikadut dan Mekarmanik.

“Dulu kami tidak punya kegiatan yang bisa dirasakan manfaatnya. Banyak orang susah pekerjaan dan bahkan susah urusan pangan rumah tangga. Karena sering mendapat wacana ekonomi dari teman-teman kota (Odesa Indonesia) dan juga mendapatkan bantuan plastik polybag, kami aktif bergiat. Hasilnya luar biasa,” Kata Ansor yang juga seorang pengurus Badan Perwakilan Desa Cikadut itu kepada SH.Net, Selasa, 17 Oktober 2017.

Dari pengamatan SHNet di lokasi, terlihat puluhan rumah penduduk Sekebalingbing yang pada bagian rumahnya terdapat polybag berisi beragam jenis tanaman. Ada yang di depan rumah, ada pula yang di atap beton rumah. Bahkan pada bagian luar rumah ruang-ruang kosong diisi tanaman pangan yang ditanam di media tanam polybag.

Menurut Ansor, tani pekarangan ini sederhana karena bagi orang desa sebenarnya urusan bercocok tanam bukan hal yang sulit. Kemudian ada modal lahan karena dengan luas pekarangan beberapa meter saja bisa dilakukan. Terlebih lagi sebenarnya warga di sekitar Cimenyan itu banyak yang memiliki tanah pertanian yang dekat dari rumah. Sayangnya masyarakat hanya mengenal pertanian dalam skala luas yang membutuhkan modal besar. Sementara konsep Tani Pekarangan sebenarnya sangat sederhana. Bahkan dalam urusan waktu pun bisa fleksibel.

“Kita coba melakukan perbaikan yang sederhana, bisa dilakukan dan ada bukti. Itu yang penting. Tani pekarangan itu sangat sederhana. Ada lahan, ada tenaga, ada waktu luang, ada pupuk berserakan, dan ada kebutuhan untuk menjadi bersih lingkungan. Dengan banyak tanaman pekarangan, otomatis lingkungan menjadi bersih karena terawat, bahkan lebih hijau,” jelas Ansor.

Pada bulan Oktober ini, bersamaan dengan turunnya musim Hujan Ansor saat ini sedang memulai jenis tanaman kelor. Setelah budidaya cabai, caisim, bayam, stroberi dan beragam jenis tanaman, Ansor secara khusus ingin menggerakkan warga bertanam kelor dan daun afrika karena menurutnya dua tanaman obat ini sangat bagus gizinya untuk dikonsumsi masyarakat.

“Pertanian butuh kreativitas dan kemauan yang tinggi. Kalau serius ada buktinya. Kami bisa membuktikan itu. Konsumsi belanja kami berkurang, belanja istri saya lebih hemat dan sebagian kebutuhan pangan tercukupi dari pekarangan. Dan dengan lebih banyak menanam kita pun bisa menjualnya,” terangnya. (odesa indonesia)