Setelah Rusuh di Kemendagri, Muncul Wacana Pilkada Tak Langsung di Papua

Setelah Rusuh di Kemendagri, Muncul Wacana Pilkada Tak Langsung di Papua

Ilustrasi/Ist

SHNet, Jakarta – Rusuh di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) beberapa waktu lalu disebabkan persolan pemilihan kepala daerah (pilkada) di Tolikara, Papua.Massa dari salah satu calon yang kalah dalam pilkada tidak terima dengan hasil keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memenangkan pihak lawan.

Mereka ingin Presiden Joko Widodo melalui Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengubah putusan MK. Atas kejadian itu, Direktur Politik Dalam Negeri (Poldagri) Bahtiar berpendapat, pilkada adalah pesta demokrasi untuk menghasilkan pemimpin lokal bukan pimpinan lokal.

Sebagai seorang pemimpin maka ia harus dihormati, dipatuhi, ditaati, bijaksana, dan patuh terhadap hukum negara. Ia juga harus memiliki budaya, perilaku sosial yang baik, dan mampu mengarahkan masyarakat berperilaku baik.

“Peristiwa kemarin menjadi cermin besar bahwa calon KDH tidak mampu mengarahkan pendukung berbuat baik dan tidak mematuhi hukum. Pasangan calon yang kalah memang tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin dan tidak layak untuk disebut sebagai pemimpin yang berkualitas,” katanya kepada SHNet.

Dia menjelaskan, jika pilkada langsung tidak mampu menghasilkan “pemimpin” lokal yang berkualitas tinggi, proses demokrasi melalui pilkada langsung kepala daerah bisa dievaluasi kembali secara menyeluruh.

“Apakah budaya lokal tertentu di sebagian wilayah indonesia memang tidak cocok dengan pilkda langsung, misalnya wilayah papua dan papua barat. Sehingga pilkada bupati walikota langsung tidak diberlakukan diseluruh wilayah indonesia. Daerah tertentu kita berlakukan pilkada tidak langsung,” ia memaparkan.

Menurutnya, untuk mengantisipasi pelaksanaan pilkada serentak 2018, maka sebaiknya disiapkan calon-calon yang memiliki syarat dan kualifikasi sebagai pemimpin bukan sekedar pimpinan. Sebab, gubernur/bupati/walikota sejatinya adalah kepalanya daerah.

“Artinya dia adalah imam, pemimpin, dan dia adalah manusia yang terbaik, terutama di wilayah tersebut dengan kualitas kepribadian, wawasan, sikap, dan perilaku terbaik di antara manusia lainnya di daerah tersebut,” katanya. (Tutut Herlina)