Selamat Datang Gubernur Baru

Selamat Datang Gubernur Baru

Pasangan Anies-Sandi dalam sebuah wawancara dengan Najwa Shihab di Channel Youtube.

 

SHNet, Jakarta – Pergantian Gubernur DKI Jakarta kali ini berbeda. Tak hanya menguras tenaga, pikiran dan perasaan, bahkan Pilkada DKI sempat “memakan korban” sang petahana, yakni Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sampai masuk bui.

Sebagai masyarakat yang demokratis, kita menghormati hasil pilihan rakyat dan keputusan pemerintah, Anies Baswedan -Sandiaga Uno harus diterima dan didukung sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur pilihan warga Jakarta.

Proses hukum dan putusan pengadilan yang menimpa Ahok harus diterima sebagai suatu kenyataan serta dihormati dengan lapang dada. Sehingga semua persoalan harus diletakkan proporsional.

Pembangunan Jakarta sebagai ibukota negara selama lima tahun terakhir (periode 2012-2017) sangatlah dinamis, mulai dipimpin oleh Jokowi-Ahok, dilanjutkan Ahok-Djarot dan terakhir dipimpin Djarot sendirian.

Semula Jakarta tidak manusiawi, sumpek dan kumuh. Dengan sentuhan tangan ketiga gubernur tersebut, sedikit demi sedikit ada kelegaan. Bantaran sungai tidak lagi kumuh, Kampung Pulo tidak lagi bagaikan danau limpahan air kiriman curah hujan dari Bogor.

Kota Jakarta sedikit bergeser dari kampung kumuh menjadi pemukiman bersih, sungai tidak lagi bagaikan WC terpanjang, perempatan mulai bersih dari pengemis, hidup warga mulai berkualitas dalam keteraturan.

Kemajuan yang dicapai Jakarta sebenarnya belum apa-apa dibandingkan tuntutan dan kebutuhan masyarakat metropolitan, tetapi prestasi yang dicapai selama lima tahun ini, harus disyukuri.

Jokowi, Ahok dan Djarot bukanlah tukang sulap yang main sim salabim dalam membangun Jakarta. Mereka juga dibantu oleh staf yang tangguh dan berdedikasi serta tidak kenal lelah. Karenanya, karangan bunga yang dikirimkan masyarakat walau hanya menyebut para gubernur, tetapi meliputi keikut sertaan para pelaksana di lapangan yang bekerja untuk kemajuan ibukota.

Harus digaris bawahi, ada kemajuan spektakuler di ibu kota dibandingkan dengan gubernur terdahulu. Mengapa bisa seperti itu, di situlah letak peran dan keunggulan Jokowi-Ahok-Djarot. Bagaimana menggali sumber dana untuk pembangunan, menggunakannya untuk kepentingan warga serta kepemimpinan dan manejerial yang handal.

Itulah tantangan bagi pasangan Anies-Sandi, mampukah mencari sumber-sumber dana dan menggunakannya secara tepat sasaran untuk kepentingan masyarakat sekaligus menggerakkan motor pemerintahan secara baik dan benar? Harus diakui, tanpa ketegasan gubernur, terutama menutup kebocoran penggunaan anggaran, hasilnya tidak akan seperti sekarang.

Masyarakat Jakarta berharap banyak dari Anies-Sandi. Terlepas janji-janji kampanyenya, yang penting tim kerjanya harus  jeli melihat kebutuhan rakyat. Kita sadar bahwa pasangan ini adalah pasangan guru besar dan pengusaha, berbeda dari Jokowi-Ahok-Djarot yang punya pengalaman sebagai walikota, sehingga sedikit banyak memiliki pengalaman dalam pemerintahan. Dunia akademik dan dunia usaha sungguh berbeda dengan dunia pamongpraja.

Langgam kerja dan gaya kepemimpinan dari setiap orang sungguh sangat mempengaruhi keberhasilan pembangunan, ketegasan dan kejujuran sangat personal tetapi bagaimana semua kemampuan dan keberasaan sang pemimpin dapat mengatasi permasalahan untuk kemajuan wilayah dan kemakmuran warga.

Masalah pengadaan barang/jasa di lingkungan Pemda DKI sempat menggerogoti anggaran pembangunan. Banyak kontraktor fiktif yang hanya mengandalkan kop surat serta stempel, dihilangkan di era Ahok. Sekarang mereka “mengintai” kehadiran gubernur dan wakil gubernur baru.

Selama lima tahun terakhir, mulai dari tukang sapu jalanan, petugas taman sampai karyawan yang di belakang meja bangga menjadi karyawan Pemda DKI. Mereka dimanusiakan, sehinggga mau bekerja dari pagi sampai malam.

Semua capaian tersebut menjadi tantangan bagi Gubernur baru. Tetapi mari kita berprasangka baik, dan mendukung sepenuhnya Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru sebagai pemilik suara terbanyak pilihan rakyat. (BS)