Sagu Tohor, Produk Lokal yang Jadi Potensi Pangan Nasional

Sagu Tohor, Produk Lokal yang Jadi Potensi Pangan Nasional

Berbagai olahan dari sagu/Ist

SHNet, Jakarta – Sagu merupakan sumber pangan asli Indonesia dengan karbohidrat tinggi dan rendah gula. Namun, pemanfaatan sagu sebagai sumber pangan nasional masih kalah jauh dengan beras. Di desa Sungai Tohor, Kabupaten Meranti, Provinsi Riau, masyarakat berhasil mengolah sagu.

Sagu tidak hanya sebagai makanan pokok tetapi juga diolah menjadi gula cair, tepung, hingga mie. Sagu yang mulanya dikonsumsi sehari-hari, kini menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat sekitar. Oktober 2014, Abdul Manan, warga Desa Sungai Tohor, Meranti, Riau, membuat petisi di Change.org.

Petisi berisi ajakan kepada Presiden Joko Widodo blusukan ke sana untuk melihat dampak kebakaran hutan gambut di desa mereka. Pada 27 November 2014, Jokowipun blusukan ke Tohor. Blusukan ini membuahkan perubahan.

Banyak sekat kanal dibangun membuat lahan gambut basah. Kini kebakaran di Riau berkurang, dan produksi sagu Sungai Tohor bertambah dan didistribusikan dari Cirebon hingga ke Malaysia. Tidak hanya itu, di awal tahun 2016 dibangun laboratorium internasional untuk meneliti sagu di sana.

Boy Sembiring, salah satu pendamping masyarakat Sungai Tohor dari WALHI mengakui bila selama ini sagu identik dengan Indonesia bagian timur. Bila di Maluku dan Papua sagu memiliki nilai sacral, di Sungai Tohor, sagu adalah produk lokal bernilai ekonomi.

“Berkat sagu, tidak hanya masyarakat Sungai Tohor yang merasakan manfaatnya, tapi juga berhasil menopang perekonomian desa-desa lain disekitar Sungai Tohor,” ujarnya.
Potensi Pangan Nasional.

Perubahan iklim, masalah kekeringan, alih fungsi lahan persawahan dan gagal panen menyebabkan ancaman pada pencapaian swasembada beras di Indonesia. Untuk itu, pemerintah perlu mengembangkan sumber pangan lokal lain, salah satunya sagu.

Sebagai tanaman penghasil pati terbesar, Sagu dan produk turunannya memiliki potensi besar untuk diolah sebagai solusi ketergantungan Indonesia pada beras. Selain itu, perawatan sagu cenderung lebih mudah dan tidak mengenal musim.

Sebagai penghasil sagu yang diklaim sebagai sagu nomer satu di Indonesia, masyarakat Sungai Tohor bisa memproduksi 600 – 700 ton sagu dalam sehari, potensi yang cukup besar untuk menggantikan beras. Namun, pangan lokal ini kurang mendapat perhatian sehingga minim sosialisasi ke masyarakat.

Dalam konferensi pers Festival Panen Raya Nusantara (PARARA) 2017, Jusupta Tarigan mengungkapkan persoalan pangan lokal di Indonesia yang tidak populer. Malah, kebanyakan produk lokal Indonesia diminati oleh warga asing atau turis mancanegara.

“Pangan lokal dan produk-produk lokal sebenarnya produk yang ada disekeliling kita, tapi lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat luar negeri,” jelas ketua konsorsium PARARA ini.

Untuk mempopulerkan dikalangan bangsa sendiri, Jusupta mengatakan diperlukan media yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mempromosikan produk mereka dan bahkan membuka pasar.

“PARARA 2017 tidak sekedar ajang pameran, namun untuk mempertemukan produsen dengan pelaku industry, fokusnya adalah B to B (bussines to bussines),” katanya. Sebagai informasi, PARARA 2017 akan dilangsungkan 13 – 15 Oktober, di Taman Menteng. (Nila Kurniasari)