Pesan Edukasi Lewat Dongeng Anak-Anak

Pesan Edukasi Lewat Dongeng Anak-Anak

Kak Ardy mendongeng ditemani tokoh Cipluk dan ukulele.

SHNet, Jakarta – Dongeng adalah seni bertutur yang di dalamnya menyelipkan nilai kebaikan, pendidikan karakter dan pesan edukasi. Dongeng bisa menjadi media pembelajaran yang dapat meningkatkan imajinasi dan memicu daya kreatifitas anak.

Sebuah penelitian mengatakan bahwa mendongeng atau membacakan buku selama 20 menit setiap malam kepada si anak dapat meningkatkan kecerdasan anak dua kali lipat dalam hal menulis dan membaca.

Sayangnya, profesi sebagai pendongeng anak tak banyak yang menekuni. Karena selain harus mencintai seni tutur itu sendiri dia juga harus bisa dekat dengan dunia anak-anak. Itu artinya, sang pendongeng harus ekstra sabar menghadapi macam tingkah laku anak.

Kali ini, Sinar Harapan Net ingin mengajak pembaca mengenal kisah seorang pendongeng yang berasal dari anak jalanan. Kak Ardy, begitu panggilan akrabnya di kalangan anak-anak.

“Saya turun ke jalan sebagai pengamen sejak tahun 1998. Seiring bertambahnya waktu saya banyak bertemu dengan komunitas-komunitas, sanggar dan tempat kesenian lainnya. Tentunya banyak hal yang saya dapat, khususnya dunia Teater dan seni  pertunjukkan,” tuturnya memulai.

Tahun 2000–2004 bersama teman-temannya, ia beranikan diri memberikan ilmunya lewat mendongeng kepada anak-anak sekolah di beberapa wilayah di Jakarta.

Kak Ardy mendongeng di hadapan anak-anak

“Walaupun sudah melatih di beberapa sekolah, bukan berarti meninggalkan jalanan, saya tetap mengamen turun naik bus, tidak hanya ngamen bernyanyi dengan gitar tapi saya juga mengamen dengan membaca puisi dan cerpen. Tapi saya bukan bagian dari para pengamen orasi yang sering mengaku-ngaku baru keluar dari penjara lho ya… Buat saya mereka tidak kreatif dan malah menakuti penumpang saja,” selorohnya.

Di jalanan Kak Ardy berjumpa seorang teman berkebangsaan Australia yang mengajaknya menjadi pelatih sekaligus bekerja mempopulerkan sepakbola khas negerinya footy, yakni jenis olahraga perpaduan antara rugby dan sepakbola.

Panggilan jiwa membawanya kembali ke dunia dongeng. Ia mengundurkan diri dari pekerjaan yang bergaji cukup besar sebagai pelatih footy. Kak Ardy pun iseng menghibur kembali anak-anak di sekolah TK, dimana temannya mengajar.

Semua anak-anak senang dan terhibur dengan dongeng yang dibawakannya. Itulah yang memotivasinya kembali mendongeng keliling sekolah-sekolah walaupun dengan biaya transport sendiri, “Untuk ongkos transport keliling ke sekolah-sekolah saya pun mengamen.”

Suatu saat ia dipercaya menjadi brand ambassador atau duta merk. Mulanya hanya dibayar dengan 5 karton produk tiap event ke sekolah-sekolah, sampai akhirnya Kak Ardy digaji cukup besar per bulannya.

Ditengah kesibukan mendongeng keliling Kak Ardy membangun Sanggar Kayu. Di sanggar tersebut, dia memberi kegiatan dan pelatihan seni pada anak-anak disekitar tempat saya tinggal yang notabene adalah kalangan marjinal.

“Saya berharap mereka yang putus sekolah tetap punya semangat belajar dan berkarya seperti lagu yang saya ciptakan Belajar dan Berkaryalah yang menjadi Mars Sanggar Kayu, minimal mereka bisa seperti apa yang telah saya kerjakan saat ini, bahkan kalau perlu melebihi saya.”

Buat saya dongeng adalah media penyampaian pesan edukatif yang efektif ke anak-anak. Memberikan pesan pesan baik yang dikemas lewat dongeng setidaknya itu membekas di memori ingatan dan terbawa sampai tumbuh sebagai generasi dewasa yang peduli, bertanggung jawab, punya solidaritas tinggi dan mentalitas kuat.”

Kini Kak Ardy dipercaya oleh Pemprov DKI Jakarta untuk mendongeng di PAUD dan TK dan RPTRA. Bahkan Kak Ardy sudah mendongeng buat anak-anak di 85 RPTRA. Selain tampil di RPTRA, ia juga memberi workshop mendongeng di beberapa sekolah diantaranya SD Said Naum Tanah Abang Jakarta Pusat,TK Asyamsiah Brebes Jawa Tengah, diundang di acara Hallo Indonesia DAAI TV.

Siapa saja yang menjadi tokoh-tokoh karakter dalam dongeng Kak Ardy? Nah, tokoh karakter yang ada dalam dongeng Kak Ardy itu bernama Cipluk, (Cerita Itu Penting Lagi Untuk Kita). Ada kakaknya Cipluk bernama Ciplak. Ada Pak Somat (Sombong Amat). Juga ada beberapa nama karakter boneka binatang seperti Bujo (Buaya Hijau), Dombi (Domba Biru) dan lain-lain.

Kak Ardy pun membuat beberapa lagu untuk menarik anak-anak dalam dongengnya. Beberapa lagu yang sering dinyanyikan saat mendongeng, adalah: (1) Asyiknya Mengenal Warna, (2) Belajar dan Berkaryalah, (3) Stop Membully, (4) Apa Namanya?, (5) Ayo Berteman, (6) Semangat Pagi dan (7) Ayo ke RPTRA.

Sekitar Oktober 2016, Kak Ardy diundang sebagai narasumber pada acara workshop mendongeng yang pesertanya 1.800 Guru PAUD dan TK se-Kabupaten Magetan Jawa Timur selama 3 hari.

Awal tahun 2017 ini, Kak Ardy mengunjungi beberapa SD di Sulawesi: SD Tanahtea, SD Bonto Manaku, SD Balagana Kajang dan Yayasan Anak Pantai di Pulau Liukang. Kunjungan tersebut dalam rangka memperkenalkan pentingnya persatuan, kebudayaan dan keberagaman itu indah.

Sukir Anggraeni