Persoalan Agama Dianggap Membahayakan Pancasila

Para Panglima Se-Jawa Dan Nusa Tenggara

Persoalan Agama Dianggap Membahayakan Pancasila

Jakarta 20, Oktober 1967 – Rapat Panglima se-Jawa dan Nusa Tenggara, Selasa petang telah ditutup setelah mengadakan rapat sejak hari Senin yang lalu di Malang.

Disamping para Panglima Kodam, yakni Pangdam V/ Jaya Mayjen Amir Machmud, Pangdam VI Siliwangi Mayjen HR Dharsono, Pangdam VII/Diponegoro Mayjen Surono, Pangdam VIII/Brawijaya Mayjen M. Jasin, Pangdam XVI/Udayana Brigjen Sukertio, rapat komando ini dihadiri pula oleh Pangkostrad Mayjen Kemal Idris serta Dan Puspassus/ RPKAD Brigjen Widjojo Sujono.

Rapat Panglima di Malang ini merupakan follow-up dari rapat Panglima se-Jawa tanggal 7 Juli yang lalu di Yogyakarta, dimana kebulatan tekad Yogya ini telah diambil alih oleh pimpinan Angkatan Darat.

Konsenseus yang dihasilkan para Panglima di Malang antaranya ialah, berusaha mensukseskan program Kabinet Ampera dan menempatkan kepentingan nasional diatas kepentingan golongan maupun perorangan.

Para Panglima Kodam se-Jawa, Nusa Tenggara, Pangkostrad dan Dan Puspassus/RPKAD bertekad untuk menghancurkan tiap usaha yang ingin menghambat suksesnya program Kabinet Ampera.
Mengenai persoalan Agama yang terjadi akhir-akhir ini, para Panglima telah membahas persoalan tersebut secara serius karena dianggap membahayakan kelangsungan hidup falsafah Pancasila yang berarti pula merusak sendi-sendi Pancasila.

Dalam rapat tersebut mereka membahas secara mendalam masalah politik, ekonomi, sosial, militer dan bertekad untuk mensukseskan program pemerintah dan membahas pula pembinaan Orde Baru.

Para Panglima mengajak segenap lapisan masyarakat untuk menciptakan kondisi dan situasi bagi suksesnya Kabinet Ampera. Demikian antara lain konsensus yang telah dicapai antara Pangdam se-Jawa, Nusa Tenggara, Pangkostrad, Dan Puspassus/RPKAD menurut siaran TVRI , Rabu malam sebagaimana disiarkan “Antara”. (SH)