Penelitian Ilmiah: ‘Nutracker Man’ Tularkan Herpes Genital ke Manusia Modern?

Penelitian Ilmiah: ‘Nutracker Man’ Tularkan Herpes Genital ke Manusia Modern?

Paranthropus Boisei / wikimedia.org

SHNet, Cambridge – Herpes genital adalah suatu infeksi sangat menular yang biasanya menyebar lewat hubungan dengan orang melalui luka yang terinfeksi, tetapi juga dapat ditularkan melalui seks oral atau anal. Lalu dari manakah asalnya penyakit ini?

Nenek moyang manusia modern mungkin sudah mendapatkan herpes genital dari kerabat mereka yang sekarang punah, yang umumnya dikenal sebagai Nutcracker Man, demikian sebuah penelitian ilmiah baru menunjukkan.

Sebuah rekonstruksi peristiwa dibangun lewat analisis DNA virus, bakteri dan bentuk kehidupan lainnya yang dapat menyerang manusia, mengungkapkan tidak hanya asal-usul penyakit manusia tapi juga petunjuk berharga tentang gaya hidup manusia masa lalu dan apa yang dilakukan nenek moyang mereka.

Sebagai contoh, sebuah penelitian di tahun 2007 mengungkapkan bahwa manusia terkena kutu kemaluan, alias “kepiting,” dari gorila sekitar 3 juta tahun yang lalu, sementara sebuah penelitian di tahun 2011 menunjukkan bahwa Christopher Columbus dan para krunya membawa sifilis bersama mereka dari Dunia Baru (Amerika) ke Dunia Lama (Afrika).

“Kami dapat menggunakan data dari penyakit untuk merekonstruksi peristiwa yang sama sekali tidak terlihat pada catatan arkeologi dan fosil,” kata penulis senior penelitian, Charlotte Houldcroft, seperti yang dikutip dari Live Science.

Houldcroft, seorang ahli virologi dari University of Cambridge di Inggris, dan rekan-rekannya menganalisis dua virus terkait pada manusia modern, yaitu virus herpes simpleks 1 (HSV1) yang berakibat pada luka infeksi, serta herpes simplex virus 2 (HSV2) yang menyebabkan herpes genital.

Sebuah studi tahun 2014 menunjukkan bahwa HSV1 telah menginfeksi pohon keluarga manusia, yang dikenal sebagai hominin, karena setelah dipelajari setidaknya spesies ini merupakan perpecahan dari pendahulu simpanse sekitar 6 juta sampai 7 juta tahun yang lalu. Penelitian tersebut memperkirakan berapa lama hominins memiliki HSV1 dengan membandingkan varian manusia modern dengan virus yang ditemukan pada simpanse. DNA menumpuk mutasi dari waktu ke waktu pada tingkat yang relatif konstan, dan dengan menganalisis tingkat perbedaan genetik antara virus ini, para ilmuwan dapat memperkirakan kapan mereka menyimpang.

Studi tahun 2014 tersebut menunjukkan bahwa, berbeda dengan HSV1, HSV2 tidak mulai menginfeksi nenek moyang manusia modern sampai sekitar 3 juta dan 1,4 juta tahun yang lalu. Dengan demikian, HSV2 pasti berasal dari spesies lain, karena hominin telah terpecah dari pendahulunya simpanse.

“[virus] Herpes menginfeksi segala sesuatu mulai dari manusia hingga karang, dengan masing-masing spesies memiliki kumpulan virusnya sendiri,” kata Houldcraft dalam sebuah pernyataan. “Agar virus ini bisa melompati penghalang spesies, mereka membutuhkan mutasi genetik yang beruntung dikombinasikan dengan pertukaran cairan yang signifikan,” jelasnya.

Para periset menganggap rute yang paling mungkin terjadi dimana HSV2 menyerang nenek moyang manusia modern berasal dari kera Afrika melalui spesies hominin yang tidak diketahui. Mereka memang tidak menggambarkan bagaimana setiap ‘tindakan tak senonoh’ membantu HSV2 bisa melompati penghalang spesies, namun spesies hominin perantara mungkin telah mengidap HSV2 melalui ‘pemulungan’ bangkai daging leluhur simpanse itu ketika padang sabana berubah menjadi hutan. Dari situ kuman kemudian merembes ke dalam tubuh mereka melalui gigitan atau luka yang terbuka.

Nenek moyang manusia modern, Homo erectus, kemudian bisa terjangkit HSV2 baik lewat hominin perantara atau, tertular akibat berinteraksi terlalu dekat dengan bangkainya, demikian Houldcroft dan rekan-rekannya mengatakan.

Saat membahas herpes genital, para peneliti kemudian berembuk untuk mengetahui spesies hominin yang menularkan HSV2 ke nenek moyang manusia modern. Strategi mereka melibatkan analisis lokasi dimana nenek moyang simpanse mungkin tumpang tindih dengan empat spesies hominin yang berbeda yang hidup dalam 3 juta tahun terakhir, yakni Australopithecus afarensis, Homo habilis, Homo rudolfensis dan Paranthropus boisei.

Pertama, para ilmuwan merekonstruksi iklim Afrika kuno untuk menyimpulkan di mana hutan hujan tropis berada selama 3 juta tahun terakhir, karena simpanse purba mungkin tinggal di sana. Selanjutnya, mereka melihat fosil-fosil hominin yang ditemukan di Afrika.

“Fluktuasi iklim selama ribuan tahun menyebabkan hutan dan danau berkembang dan berkontraksi,” kata penulis studi Simon Underdown, seorang ahli paleoantropologi di Universitas Oxford Brookes di Inggris, dalam sebuah pernyataan. “Lapisan data iklim dengan lokasi fosil membantu kami menentukan spesies yang paling mungkin berhubungan dengan nenek moyang simpanse di hutan, serta hominin lainnya pada sumber air.”

Pelakunya yang paling mungkin untuk menyebarkan herpes genital ke nenek moyang manusia adalah hominin Paranthropus Boisei, yang berkeliaran di Afrika Timur 1,4 juta sampai 2,4 juta tahun yang lalu. Spesies ini mendapatkan julukan “Nutcracker Man” karena rahangnya yang besar dan mempunyai gigi geraham besar.

“Begitu HSV2 masuk ke spesies, virus itu mudah dipindahkan dari ibu ke bayi, juga melalui darah, air liur dan seks,” kata Houldcroft dalam pernyataan tersebut. “Virus herpes genital akan merayap melintasi Afrika seperti merayap ke ujung saraf di organ seks kita – perlahan tapi pasti,” tambahnya.

Houldcroft mencatat bahwa fosil hominin yang ditemukan di masa depan dapat saja menyebabkan sumber calon herpes genital lainnya. Namun, “Paranthropus Boisei kemungkinan akan tetap menjadi kandidat kuat,” katanya. “Hal ini terjadi karena di bagian timur Afrika selama periode ketika HSV2 kemungkinan besar telah melompati penghalang spesies, dan memiliki kesempatan untuk tumpang tindih dengan nenek moyang manusia Homo erectus. (HNP)