Militan Daesh Kian Meresahkan di Malaysia

Militan Daesh Kian Meresahkan di Malaysia

Ist

SHNet, KUALA LUMPUR – Otoritas berwenang di Federasi Malaysia, mengakui, keberadaan kelompok radikal, garis keras, terutama dari militan Daesh, sudah semakin meresahkan.

Wakil (Timbalan) Perdana Menteri Federasi Malaysia, Datuk Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi berkata sehingga 6 Oktober 2017, sebanyak 346 orang ditahan dengan 95 daripadanya adalah rakyat Malaysia kerana dipercayai terlibat dengan Daesh. Demikian Utusan Malaysia.com, Senin malam (23/10).

Ahmad Zahid berkata, tangkapan yang dilakukan tersebut termasuk kerjasama yang dijalankan dengan beberapa agensi perisikan antarabangsa seperti Interpol telah berjaya mengekang unsur keganasan daripada menular ke negara ini.

Ahmad Zahid menjawab soalan tambahan daripada Tan Sri Annuar Musa (BN-Ketereh) dalam sidang Dewan Rakyat di Kuala Lumpur, Senin, 23 Oktober 2017. Menteri Pertahanan Federasi Malaysia, Hishamuddin Hussen, sebelumnya, menegaskan, dalam tingkat kewaspadaan penuh, untuk mengantisipasi aksi balas dendam terhadap kekalahan ISIS di Mosul.

“Jangan dianggap remeh kaum ekstrimis ISIS dengan berbagai varian di sejumlah kawasan, terutama di Malaysia,” kata Hishamuddin Hussen kepada Kantor Berita Nasioal Bernama, Selasa, 11 Juli 2017.

Menurut Hishamuddin, aksi terorisme merupakan ancaman paling nyata di seluruh wilayah Federasi Malaysia. Akfitiasnya sudah menggeliat masuk di berbagai sendi kehidupan masyarakat.

Bahkan Polisi Diraja Malaysia (PDRM) mengklaim telah menemukan bukti sebagian oknum anggota polisi dan tentara terlibat di dalam jaringan teroris paling dicari bernama Daesh.

Ketua Penolong Pengarah Bahagian Counter Terrorism, Cawangan Khas Bukit Aman, Datuk Ayob Khan Mydin Pitchay sebagaimana dilansir Kantor Berita Malaysia, Bernama, Minggu, 6 Nopember 2016, mengatakan, tidak ada ‘profiling’ tertentu di kalangan mereka yang ditangkap terlibat dalam aktiviti keganasan di Malaysia.

“Di antara yang ditangkap adalah anggota polisi, anggota tentara, termasuk komando, penjawat awam berjawatan, ketua penolong pengarah, imam masjid, pelajar dan pensyarah universiti serta pelayan pelanggan,” kata Khan Mydin.

Menurut Khan Mydin, periode 2013 hingga akhir 2016, sudah ada 112 orang warga Malaysia, termasuk anggota polisi dan tentara, terlibat jaringan teroris paling dicari bernama Daesh sejak 2013 hingga akhir tahun 2016.

“Polisi akan terus melancarkan operasi memberantas kegiatan pengganas dari semasa ke semasa selain memantau aktiviti yang mempunyai elemen ajaran Daesh di semua tempat,” kata Khan Mydin.

Khan Mydin memastikan para tersangka melakukan kesalahan di bawah Bab VIA – Kesalahan berkaitan keganasan, Kanun Keseksaan (Akta 574) dan akan disiasat mengikut prosedur di bawah Akta Kesalahan Keselamatan (Langkah-Langkah Khas) 2012 (Akta 747).

Militan Daesh yang pernah dididik di Malaysia diketahui melakukan aksi pengeboman di Dakha, Bangladesh, 2 Juli 2016. Tiga militan Daesh: Mir Samih Mubashir, Rohan Imtiaz dan Nibras Islam, pernah belajar melakukan aksi teror di Malaysia.

Nibras dicatat sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di Bangladesh dan penghubung pengajian di kampus Malaysia bagi Universiti Monash yang berpangkalan di Australia.

Sembilan lelaki, termasuk tiga warga asing, dipercayai terlibat dengan kegiatan militan Daesh ditahan di beberapa lokasi dalam negara antara 20 Juli – 9 Agustus 2016. “Tidak ada tanda-tanda ancaman Daesh akan reda di Malaysia buat masa ini dan ia akan berkembang menjadi ancaman ideologi dalam tempoh jangka panjang, sebagaimana ISIS di Timur Tengah,” kata Khan Mydin.

Ayob Khan berkata, sejak tangkapan pertama kasus berkaitan kumpulan Daesh di Malaysia pada 2013, jumlah tangkapan terus meningkat setiap tahun dan pada tahun 2016 saja, ada 112 individu sudah ditangkap. (Aju)