Pameran Lukisan: Seni Penyadaran Perekat Nilai Kebangsaan

Pameran Lukisan: Seni Penyadaran Perekat Nilai Kebangsaan

Salah satu pengunjung menikmati lukisan dalam pameran komunitas Gerbong.

SHNet, Jakarta – Komunitas gerbong menggelar pameran lukisan Gerbong dengan tema Seni Penyadaran Perekat Nilai-Nilai Kebangsaan. Berbeda dengan konsep pameran lainnya, kali ini komunitas Gerbong menjadikan Selasar Unit Pengelola Pusat Latihan Seni Budaya Balai Latihan Kesenian Jakarta Selatan sebagai galeri lukisan mereka.

Gelar karya para pelukis Gerbong ini sendiri adalah bagian dari acara pagelaran seni dan budaya yang diadakan oleh Kampung Kreatif Bacili yang berlangsung dari tanggal 21- 28 Oktober 2017 di Auditorium UPT Seni Budaya jalan Asem Baris Jakarta Selatan.

Selain pemeran lukisan ada juga pembuatan miniatur boneka ondel-ondel, action painting dan Tehyan oleh Leeput Art. Saat pembukaan tanggal 21 Oktober lalu even ini menampilkan Gambang Kromong, Teater Bacili, Ansambel Bacili, Sanggar Ciliwung Merdeka, Pencak Silat, Bang Benjo.

Nama-nama pelukis yang berada di bawah bendera Gerbong, diantaranya adalah: Ki Suhardi, Gebar Sasmita, Jitno Slamet, Johor Wahyu, Arie Sai Bhumi, Iskandar adalah nama-nama pelukis yang memilih tema-tema sosial – kerakyatan  dalam berkarya. Kehadiran pelukis muda seperti Qiyam Krisna Aji, Restu Raheem Nugraha, Amirza dan Mirzab Pratama juga turut meramaikan pamaren.

Mereka menampilkan 23 lukisan yang menjadi cermin garis berkesenian mereka, antara lain: Ibu Pertiwi (Ki Suhardi), Putra Sang Fajar, Sukarno (Johor Wahyu), Justice For Women (Amirza), Gadis Di Depan Pintu (Gebar Sasmita), Al-Balaq; 13 (Arie Sai Bhumi), Blaind Splitz (Jitno Slamet). Warna Dalam Ruang Kota (Mirzab Pratama), Samo Sajo (Qiyam Krisna Aji), Ruang ‘Part 1’ (Restu Raheem Nugraha).

Gerbong sebagai komunitas seni berdiri pada tahun 1990 dan bermarkas di kota Bandung, bersama JAKER pernah menggelar pameran bersama pada tahun 2000 dengan tema Dasar Babi Babi di Gedung Naripan Bandung, sempat membuat heboh karena kritik keras atas militerisme juga kekuasaan saat itu. (Sukir Anggraeni)