Kasus Investasi Bodong yang Libatkan UYM Diproses Polres Surakarta

Kasus Investasi Bodong yang Libatkan UYM Diproses Polres Surakarta

Wiyoto dan kuasa hukumnya Rahmat K Siregar, dimintai keterangannya sebagai saksi korban di Mapolres Surakarta, Kamis (12/10). (Ist)

SHNet, Surakarta– Setelah hampir empat bulan menunggu, akhirnya laporan Wiyoto atas dugaan penipuan yang dilakukan Jam`an Nurkhotib Mansur alias Ustaz Yusuf Mansur (UYM) mulai diproses. Kamis (12/10) warga Temboro, Kediri, Jawa Timur itu dimintai keterangan sebagai saksi korban di Mapolres Surakarta.

Pertengahan Juli lalu, melalui kuasa hukumnya, Rahmat K. Siregar, Wiyoto melaporkan UYM ke Polresta Surakarta. Laporan itu terkait dengan program Investasi Patungan Usaha dan Patungan Asset Yusuf Mansur yang diikuti oleh Wiyoto pada tahun 2012 lalu.

Menurut Rahmat K. Siregar, awalnya Wiyoto, yang ketika itu tinggal di Solo, aktif ikuti kuliah online Wisata Hati dan ceramah-ceramah UYM di Solo dan sekitarnya. “Dalam kuliah dan ceramah online, UYM menawarkan usaha bersama dengan bergabung dalam Investasi Patungan Usaha untuk pembangunan apartemen haji dan umroh. Yusuf Mansur juga mengajak jamaahnya ikut program Investasi Patungan Asset,” papar Rahmat.

Wiyoto kemudian bergabung dengan ikut menyetorkan uang sebesar Rp10 juta untuk Patungan Usaha. Sedangkan untuk Patungan Asset,. Wiyoto menyerahkan aset miliknya berupa dua bidang tanah, masing-masing di Solo dan Karanganyar, Jawa Tengah. Selain itu, Wiyoto juga “mensedekahkan” semua barang dagangannya dalam satu tokonya di Solo.

Setelah menyerahkan uang dan asetnya, Wiyoto kemudian terus mempertanyakan penggunaan dan hasil dari investas-investasinya. Namun, setelah semua saluran komunikasi dan akses ke Yusuf Mansur digunakan, Wiyoto sama sekali mendapatkan jawaban yang dia inginkan.

Akhirnya, pada 2015, setelah meminta bantuan kepada seorang kawan, UYM mau mengembalikan asetnya yang berada di Solo. “Aset klien saya yang di Karanganyar tidak bisa dikembalikan karena sudah berpindah tangan kepemilikan menjadi milik pribadi Pimpinan Wisata Hati/Darul Qur`an Solo,” ungkap Rahmat.

Dia menilai, kasus pemindahtanganan aset kliennya di Karanganyar ini sangat unik. Sebab, awalnya Wiyoto mau menyerahkan aset karena ikut dalam Investasi Patungan Asset. Namun dalam penyerahan sertifikat tanah yang dilakukan di Kantor Wisata Hati/Darul Qur`an Solo, akad serah terima dilakukan dengan dasar wakaf.

“Setelah itu, kenyataannya sertfikat tanah tersebut telah berubah menjadi milik pribadi atasnama pribadi orang lain,” ujar Rahmat.

Selanjutnya, pada 2015 itu juga, Wiyoto mendapat surat via email dari pihak Yusuf Mansur, yang menerangkan bahwa uang sebesar 10 juta rupiah yang sedianya untuk Investasi Patungan Usaha pembangunan apartemen haji dan umroh itu, dialihkan untuk Hotel Siti.

Setelah menunggu hingga dua tahun, apa yang dijanjikan UYM dalam suratnya itu juga tak pernah direalisasikan. Sehingga Wiyoto membawa masalah ke jalur hukum. (Stevani Elisabeth)