Israel Buka Kedok Spionase Rusia Lewat Peretasan Kaperksy

Israel Buka Kedok Spionase Rusia Lewat Peretasan Kaperksy

ilustrasi / ist

SHNet, New York – Selama beberapa tahun terakhir, ada kekhawatiran terus-menerus tentang Kaspersky Lab serta hubungannya dengan pemerintah Rusia. Seperti yang diketahui, Kaspersky Lab merupakan perusahaan terkenal yang membuat produk keamanan atau perangkat lunak antivirus, dan dibentuk oleh mantan pasangan suami-istri, Natalia Kaspersky dan Eugene Kaspersky, dua orang IT Entreprenuer asal Rusia.

Awal musim panas ini, pemerintahan Trump mengumumkan bahwa berbagai program antivirus dan keamanan Kaspersky tidak lagi diizinkan berada pada sistem pemerintahan AS manapun. Beberapa toko di AS juga  telah menarik produk mereka dari rak-rak toko. Sudah jelas sumber tingkat tinggi di pemerintah AS memiliki bukti pelanggaran yang serius, namun spesifikasinya tidak diketahui hingga hari Selasa (10/10) lalu.

Pada hari itu, New York Times melaporkan bagaimana pemerintah Amerika Serikat mengetahui bahwa salah satu penyedia antivirus terbesar di dunia tersebut terhubung dengan intelijen Rusia. Seorang perwira kontra intelijen Israel diberitakan telah berhasil keluar dari sistem peretasan aset Rusia itu dan benar-benar melihat bagaimana peretas pemerintah Rusia sedang mencari komputer berbasis AS lewat kata kunci dan nama kode yang terkait dengan program intelijen AS secara real-time. Peretasan yang dilakukan badan intelijen Israel itu membobol program Kapersky Lab pada tahun 2015, memberikan bukti penting yang diperlukan untuk melarang perusahaan tersebut memberikan layanan kepada badan-badan pemerintahan di AS.

Lewat badan intelijen Israel itu diketahui bahwa para peretas Rusia dapat menggunakan perangkat lunak antivirus Kaspersky sebagai semacam mesin pencari Google, memindai komputer di seluruh negeri dengan sebuah kata kunci atau pun frasa.

Tahun lalu, NSA menugaskan salah satu kontraktornya, Harold Thomas Martin III dengan informasi terabyte yang tidak benar tentang informasi rahasia pada komputer di rumahnya. Mesinnya itu adalah salah satu komputer yang bisa diakses orang-orang Rusia, dan sumber-sumber New York Times mengatakan bahwa informasi NSA telah dikeluarkan dari mesinnya. Inilah bagaimana NYT menggambarkan situasinya:

“Seperti kebanyakan perangkat lunak keamanan lainnya, produk Kaspersky Lab memerlukan akses ke semua data yang tersimpan di komputer untuk mengacaknya karena virus atau bahaya lainnya. Perangkat lunak antivirus yang populer biasanya memindai tanda tangan perangkat lunak berbahaya, atau perangkat lunak perusak, kemudian menghapus atau mengotorinya sebelum mengirim laporan kembali ke Kaspersky. Prosedur itu, merupakan rutinitas untuk perangkat lunak semacam itu, sehingga menjadi alat yang sempurna untuk intelijen Rusia untuk mengeksploitasi serta meneliti isi komputer dan mengambil apa pun yang mereka anggap menarik.”

Kaspersky Lab selama ini terus menyanggah telah bekerjasama dengan pemerintah Rusia. Beberapa tahun yang lalu, perusahaan tersebut mengganti beberapa eksekutif dengan orang lain yang memiliki hubungan dengan FSB (pengganti KGB) atau dekat dengan pemerintah Rusia pada umumnya. Sementara pemiliknya (Eugene) lulus dari Akademi KGB. Hal itu membuat pemerintah Amerika Serikat dan berbagai perusahaan AS mengambil keputusan untuk menarik perangkat lunak tersebut dari rak-rak penjualan mereka. Serangan ini, bagaimanapun, tidak terkait dengan kebocoran pada grup hacker ‘The Shadow Broker’ pada awal tahun ini.

Sementara itu menanggapi tudingan tersebut pihak perusahaan telah memberi pernyataannya:

extremetech.com

Dalam situasi seperti ini, di mana verifikasi terhadap situasi yang ada menjadi hal yang sulit dipercaya, tidak ada alasan untuk berpikir ulang bahwa laporan itu benar atau tidak adanya. Namun yang telah kita ketahui sekarang bahwa perangkat lunak Kaspersky Lab mungkin memiliki backdoor, kemungkinan besar hacker lain akan mencoba untuk menemukan dan memanfaatkannya. Ada banyak solusi antivirus potensial yang ada di pasaran dan tidak ada alasan untuk mempertaruhkan data Anda yang penting rentan bocor dengan menggunakan aplikasi yang berpotensi tidak aman. (HNP)