Ini Desa Swasembada Beras Sepanjang Masa

Ini Desa Swasembada Beras Sepanjang Masa

Kampung Ciptagelar di Kasepuhan Ciptagelar (Ist)

SHNet – Tidak mudah menjangkau desa yang satu ini. Letaknya kira-kira 1100 meter di atas permukaan laut. Cukup dingin di malam hari dan cenderung berkabut pada waktu sore.

Sekitar 170 km dari Jakarta. Ia berada di balik Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Kondisi jalannya dari Cisolok, sebagian masih berupa sususan bebebatuan. Hanya bisa dilalui dengan kendaraan offroad. Berkelok-kelok sedikit. Namun, sejauh mata memandang, pemandangan yang bisa dilihat selalu indah dan menawan.

Rasa capek terbayar karena Anda tak akan kecewa melihat alamnya. Petakan sawah di lereng, jejeran pohon kelapa di lembah dan berbagai jenis tanaman lainnya. Desiran air melewati bebatuan terkadang diselingi dengan suara bermacam-macam burung yang hinggap di pepohonan.

Hingga kemudian sampai di ujung jalan. Disitulah letak Kampung Adat Ciptagelar. Di Desa Sinar Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat berdiri kokoh Kasepuhan Ciptagelar dari sekitar 400 tahun yang lalu.

Kesepuhan adalah wilayah hasil pembagian kesultanan Cirebon kepada ketiga orang puteranya setelah meninggalnya Pangeran Girilaya. Nah, Kasepuhan Ciptagelar, salah satu bagiannya mencakup Kabupaten Bogor, Lebak dan Sukabumi, dikenal sebagai sebuah kampung adat karena eksistensinya masih dilingkupi oleh tradisi atau aturan adat warisan leluhur.

Kasepuhan Ciptagelar (Ist)

Kasepuhan Ciptagelar hanya dihuni oleh ratusan jiwa dengan tidak lebih dari 200 kepala keluarga (KK). Kekhasan Kasepuhan Ciptagelar di Desa Sinar Resmi adalah bentuk rumah, yakni rumah panggung yang atapnya berasal ijuk. Rumah dibagi menjadi tiga bagian, baik secara horisontal, maupun vertikal.

Setiap tahun Kasepuhan Cipatgelar menggelar acara seren taun, upacara adat panen padi khas masyarakat Sunda wiwitan. Seren taun adalah tradisi masyarakat agraris yang berlangsung meriah dan semarak dengan melibatkan seluruh warga kasepuhan.

Desa Sinar Resmi seperti juga desa-desa lainnya, dikepalai oleh kepala desa. Namun, peran Abad, kepala kasepuhan tak bisa diabaikan. Bahkan dalam sejumlah hal abah memiliki peran sangat menentukan. Saat ini Kasepuhan Ciptagelar dipimpin Sepuh Girang Abah  Ugi Sugriwa Raka Siwi. Abah Ugi memegang tampuk kepemimpinan kasepuhan setelah ayahandanya,  Encup Sucipta atau yang dikenal dengan Abah Anom meninggal dunia.

Abah Ugi memimpin Kasepuhan Ciptagelar pada usia 23 tahun dan terpaksa menyudahi kuliahnya di salah satu universitas di Bandung karena terpanggil memimpin kasepuhan.

Hampir semua warga Desa Sinar Resmi adalah petani. Mereka adalah anggota kasepuhan yang sehari-hari mengolah lahan pertanian yang dibagi berdasarkan adat istiadat kasepuhan. Karena itu, dalam kegiatan bercocok tanam, ada aturan-atutan kesepuhan yang wajib dilakukan oleh semua warga kasepuhan.

Misalnya, anggota kasepuhan dilarang menjual beras atau padi. Tak heran kalau Kasepuhan Ciptagelar swasembada pangan dari dulu hingga kapanpun. Bagi mereka, pangan, utamanya padi, merupakan nafas kehidupan itu sendiri. Jika ada anggota kasepuhan yang menjual padi, sama halnya yang bersangkutan menjual hidupnya sendiri.

Larangan untuk tidak menjual padi, tidak berarti warga Desa Sinar Resmi tak membutuhkan uang. Uang bisa didapatkan dengan menjual hasil ternak, berdagang hal-hal yang lain atau menjadi pekerja bidang lain.

Padi di Kasepuhan Ciptagelar

Kasepuhan Ciptagelar sangat ahli dalam hal tanaman padi. Bahkan mereka memiliki 120 jenis padi hingga saat ini. Jenis padi yang mereka miliki juga tahan hama. Hal itu disebabkan mereka menerapkan sistem tanam serentak dan membagi jadwal lahan antara untuk kebutuhan manusia dan di luar manusia. Kasepuhan selalu berusaha menyeimbangankan antara manusia dengan alam. Manusia tidak boleh terlalu dominan terhadap makhluk lain di muka bumi. (IJ)